Telah dibaca 232 kali
Sedang dibaca oleh 1 pengunjung lain
Minggu, 12 Februari 2012 - 08:46 WITA

Gunung Lokon dan Manajemen Pengelolaan Bencana

Abu Lokon tutupi kota Tomohon Jumat kemarin.
Abu Lokon tutupi kota Tomohon Jumat kemarin.

Oleh: Elsje Pauline Rustijono-Manginsela (Paula)
Penulis adalah dosen Unsrat, peneliti dan pemerhati lingkungan
sedang studi lanjut di Brisbane Australia

Terjadinya semburan abu dari Gunung Lokon yang menjadikan Pusat Kota Tomohon hujan abu merupakan kesempatan emas bagi pemerintah Kota Tomohon untuk membuktikan pada para pemilihnya bahwa kami memang layak dipilih.

Sudah saatnya pemerintah di berbagai kota atau tingkatan untuk beralih dari” emergency response” (reaksi darurat) ke “disaster management” (manajemen bencana). Apalagi dengan issue perubahan iklim yang meningkatkan berbagai bencana alam baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya ditambah dengan semakin sulitnya untuk diprediksi.

Untuk itu kerja sama antar lembaga sangat diperlukan. Di kota-kota maju adalah suatu keharusan untuk memiliki rencana penanggulangan berbagai bencana. Kekompakan para pimpinan/wakil dari berbagai lembaga tersebut membuat penduduk merasa tidak ditinggalkan oleh pemerintahnya.

Semburan abu Gunung Lokon dan gunung berapi lainnya merupakan tantangan tidak saja bagi pemerintah kota tetapi juga bagi para akademisi atau peneliti untuk melihat apakah ada hubungan antara berkurangnya jumlah pohon (yang dapat mendinginkan gunung tersebut) menyebabkan jumlah letusan semakin banyak dan semakin besar dan berbahaya. Paling tidak kita dapat menyamakan mobil yang airnya berkurang atau habis sehingga berakibat buruk pada mobil dan penumpangnya. Kecuali ada mobil yang sekarang ini dengan kemajuan tehnologi sudah tidak perlu air. Juga gunung berapi karena kemajuan teknologi walaupun tidak ada pohon tetap dingin dan tidak terdorong untuk meletus.

Tahun lalu kota Brisbane terkena banjir. Salah satu warga negara Indonesia yang sedang belajar di Australia sangat bersyukur halamannya sedikit terkena banjir. Dengan demikian dia berhak menerima uang ganti rugi dari pemerintah kota yang menurutnya sangat besar. Hal ini terjadi karena pemerintah kota Brisbane memiliki rencana pengelolaan bencana yang disusun secara baik dan dilaksanakan/ditaati oleh pemerintah kotanya. Disusun secara baik artinya memperlakukan manusia sebagai manusia yang punya harkat dan martabat untuk dijunjung.

Mudah-mudahan dengan bencana gunung Lokon penduduk tetap ceria karena pemerintah kota Tomohon punya rencana “pengelolaan bencana” dan serta melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab karena jabatan adalah titipan yang akan dipertanggungjawabkan serta yang dapat diambil setiap waktu oleh Sang Pemberi Jabatan. *eprm

(red)
Penulis: Redaksi SuaraManado.com
Beri Komentar