Rabu, 23 Mei 2012 – 09:39 WITA Telah dibaca 3250 kali

Gubernur: "Mane’e Jangan Sampai Merusak Terumbu Karang"

Upacara Adat Mane’e, tradisi menangkap ikan yang telah digiring ke tepian pantai dengan menggunakan Daun Janur Kelapa secara beramai-ramai yang merupakan tradisi adat tahunan masyarakat Kepulauan Talaud hari Senin, (21/5) 2012 berlangsung di Pantai Pulau Intata, pulau Wisata yang terletak di Kecamatan Nanusa Kebupaten Kepulauan Talaud.

Sejak Sammi’ (sebutan untuk Janur kuning yang dililit di Tali yang dirajut dari sejenis pohon yang merambat di hutan) sebagai komponen utama upacara adat manee dilabuhkan ke laut oleh para Tetua Adat Desa, masyarakat Pulau Kakorotang, Pulau Intata, Pulau Malo’, Pulau Mangupun, Pulau Marampit, Pulau Karatung yang tersebar di seputaran Pulau Intata telah berduyun duyun memenuhi nibir pantai pulau Intata untuk mengikuti tradisi adat Mane’e.

Menjelang siang lingkaran Sammi’ yang ditarik oleh puluhan nelayan dan pemimpin adat desa mendekati bibir pantai yang dipenuhi dengan karang tersebut. Masyarakatpun berbondong-bondong mendekati lingkatana janur kuning tersebut namun tetap tidak langsung masuk ke area lingkaran dalam.

Gubernur Sulawesi Utara Dr. Sinyo Harry Sarundajang tiba di pantai Intata dari Geladak KRI Teluk Mandar yang membawa rombongan melakukan kunjungan kerja ke pulau-pulau terluar di daerah perbatasan pada kurang lebih pukul 9.00 pagi. Bersama Bupati Kabupaten Kepulauan Talaud yang menjemputnya di geladak kapal, gubernur kemudian disambut dengan upacara adat dan beristirahat sejenak di pendopo. Sesaat kemudian gubernur bersama Ketua TP PKK Provinsi SULUT Ibu Deitje Sarundajang Laoh Tambuwun yang tiba kemudian dengan menumpang Perahun Karet Marinir dari KRI Teluk Mandar langsung menuju ke lokasi Tangkap Ikam Massal di bibir pantai Pulau Intata. Setelah lingkaran Sammi’ telah semakin kecil dan ribuan ikan besar kecil terlihat masuk dalam lingkaran tersebut, seluruh peserta upacara adat Mane’e termasuk Gubernur, Bupati Talaud dan Unsur Forkopimda dan tamu-tamu penting lainnya mengikuti Doa bersama sebelum kemudian beramai-ramai dengan seluruh masyarakat menangkap ikan di dalam lingkaran tersebut. Rata-rata seluruh peserta mane’e dapat menangkap minimal 1 ekor ikan termasuk gubernur yang sempat menangkap beberapa ekor ikan besar yang kemudian dibakar bersama untuk disantap.

Suasana panas dan lelah terobati setelah masing-masing peserta dapat menangkap ikan langsung dengan menggunakan tangan atau jala. Sebalum makan siang di pendopo untuk menyantap hasil tangkapan mane’e Gubernur sempat menyampaikan sambutan yang pada intinya menyambut dengan gembira acara mane’e ini dan berpesan bahwa acara ini merupakan bentuk kearifan lokal yang sangat baik dan harus terus dipertahankan. Gubernur juga mengingatkan acara Mane’e ini jangan sampai merusak lingkungan terutama terumbu karang di lokasi. Terumbu karang yang sempat terinjak saat upacara diminta untuk direhabilitasi kembali. Gubernur meminta Bupati untuk membangun Jembatan kayu ke lokasi agar peserta mane’e yang dilaksanakan setiap tahun tidak perlu menginjak terumbu karang di lokasi.

Gubernur mengatakan bahwa pembangunan pulau-pulau perbatasam termasuk pulau wisata intata harus dilakukan dengan 3 pendekatan pembangunan yaitu Prosperity Approach (Pendekatan Kesejahteraan), Security Approach (Pendekatan Keamanan) dan Environment Approach (Pendekatan Pembangunan Lingkungan). Abrasi pantai harus juga dicegah dengan membangun talud pencegah pengikisan pantai. Ivent Mane’e ini akan dijadikan Kalender Wisata Provinsi SULUT yang akan dilakukan lebih meriah di tahun-tahun yang akan datang, demikian Gubernur. (Kabag Humas Ch. Sumampow, SH.M.Ed selaku Jubir Pemprov SULUT).