- Kanal Berita Lain
- Nasional
- Internasional
- Berita Populer
- Kamis, 17 Mei 2012
Kawanua USA Dukung Pacific Partnership - Jumat, 18 Mei 2012
Larangan dibuat bukan untuk ditaati tapi diabaikan - Jumat, 18 Mei 2012
Bersatu dalam Kekuatan - Jumat, 18 Mei 2012
Angie Ogah Jadi Justice Collaborator - Kamis, 17 Mei 2012
Wagub Buka Konas dan Seminar Internasional IAIFI - Jumat, 18 Mei 2012
Tragedi Sukhoi : Diupayakan Korban Terima Rp1,25 Miliar - Jumat, 18 Mei 2012
Walikota Bitung lepas gubernur - Jumat, 18 Mei 2012
Wah, Ternyata Mengunyah Permen Karet Dapat Merusak Memori Jangka Pendek!
Jalan dari Essang-Bambung memprihatinkan
Jalan yang menuju daerah kecamatan Esang sampai ke desa Bambung kabupaten Kepulauan Talaud saat ini sangat memprihatinkan karena belum ada bantuan dalam hal ini dari pemerintah kabupaten.
Masyarakat sangat mengharapkan kepada pemerintah agar dapat memperbaiki jalan tersebut. ”Torang pe jalan kalu saat hujan somo terjadi banjir, kalu oto mo lewat jaga mati mesin kong itu oto jaga tenggelam,” ungkap salah seorang siswa, Leonard Lalenoh kepada SUARAMANADO melalui telepon Minggu (20/11).
KepMen PU No. 630/KPTS/M/2009, tanggal 31 Desember 2009 mengungkakan bahwa ruas jalan Essang-Rainis (termasuk jln ke Bambung) itu disebut sebagai jalan provinsi. "Jadi pembangunannya harus menggunakan dana APBD Propinsi, jika dipaksakan menggunakan APBD Kabupaten, justru akan terjadi kesalahan,” ungkap salah sumber di lingkungan pemerintah kebupaten. Menurutnya, hal ini sudah diusulkan ke pemerintah provinsi tapi belum ada tanggapan.
"Masih jelas dalam ingatan saya seseorang pernah mengatakan, Tahun 2010 seluruh jalan penghubung jalur lingkar Karakelang sudah rampung dan bisa dinikmati oleh warga, apakah didanai oleh APBD maupun APBN (Proyek Nasional) akan tetapi sampai hari ini sudah memasuki tahun 2012 hasil statistik aksesibilitas jalan di Pulau Karakelang rusak berat. Indikasinya apa ? Terlalu banyak kepentingan yang pada akhirnya masyarakat menjadi korban," ungkap warga setempat yang tidak ingin disebutkan namanya.
Menurutnya, ratusan miliaran rupiah setelah mencair akhirnya menguap, ditelan waktu dan peradaban, ini bukan sekedar mimpi tapi kenyataan. "Hal ini harus dipertanyakan kepada DPRD tingkat provinsi dari Talaud apa yang mereka perjuangkan untuk Talaud," ungkapnya.
(im/red)