Kamis, 13 Januari 2011 – 18:54 WITA Telah dibaca 1574 kali

Jembatan Huil Putus, Warga Menanti Perhatian Pemda

Putusnya jembatan Huil di kecamatan Melonguane Timur tak pelak lagi membuat warga yang umumnya nelayan kecil menjerit. Sebagai akses pokok pergerakan ekonomi desa Bowombaru dan Tule, perbaikan jembatan strategis tersebut sangat dinanti.

Petrus Bawahasi, seorang pengusaha pemilik angkutan umum di Melonguane Timur harus rela meninggalkan kendaraannya untuk pindah ke kendaraan lain di seberang jembatan demi membeli bensin. Perjalanan berliku itupun hanya boleh menambah pasokan bensin dengan harga maksimal Rp. 50.000 dari harga per liternya Rp. 15.000, aku Petrus saat ditemui di depot minyak PPT APMS Lirung di Melonguane (13/1).

Masyarakat desa Bowombaru dan Tule umumnya berprofesi sebagai nelayan tradisional. Hasil tangkapan ikan dijual ke Melonguane, ibukota kabupaten dengan menggunakan angkutan darat. Putusnya jembatan membuat jarak ke ibukota makin jauh dan memakan biaya yang lebih besar. Namun demikian, meskipun beban menghimpit, masyarakat yang umumnya golongan menengah ke bawah itu hanya bisa menjerit dalam hati dan pasrah menanti uluran tangan pemerintah daerah (pemda) setempat untuk memecahkan masalah mereka.

Selain harga bensin yang selangit, permasalahan warga yang utama ada pada beberapa jembatan yang perlu segera dibangun demi peningkatan roda perekonomian.