Sabtu, 3 Mei 2014 – 17:57 WITA Telah dibaca 3319 kali

Wale Batik Minahasa

Produsen Kain Batik Pertama di SULUT

Proses membatik yang antara lain melakukan pewarnaan dengan mencelupkan kain pada pewarna.
MANADO-SUARAMANADO. Kehadiran Wale Batik Minahasa, nampaknya menjadi sejarah baru bagi dunia fashion tradisional di Sulawesi Utara. Setelah sebelumnya hadir tenun dan printing bermotif batik, kini kain yang benar-benar dibatik secara tradisional hadir di SULUT.

Adalah Veldy Umbas, lelaki pegiat kain tradisional yang pertama kali menelorkan ide dan memproduksi batik secara tradisional melalui Wale Batik Minahasa yang didirikannya. Menurut entreprenuer muda ini, selama ini batik hanya dikenal diproduksi di Jawa. Namun setelah UNESCO memberikan pengakuan bahwa batik adalah warisan tradisi lelulur non benda yang berasal dari Indonesia, kain batik pun semakin berkembang luas. Tidak hanya di Jawa, di Aceh hingga Papua kini sudah memiliki kain batik masing-masing. Menurut Umbas, justru belakangan ini sudah ada muncul bagi USA, Batik Malaysia, Batik Paris, dsb. Sehingga batik sudah menjadi bagian dari fashion dunia, seperti juga Nelson Mandela yang dikenal pecinta batik.

Karena itu, penting bagi setiap orang untuk paham apa definisi batik. Menurut, pemimpin redaksi majalah Etnik ini, batik adalah teknik mewarnai pada kain dengan menggunakan perintang warna lilin serta dilakukan pewarnaan dengan cara pencelupan dan pelepasan lilin melalui perebusan. Yang tidak melalui proses ini, menurut Umbas tidak bisa disebut batik.

Dalam definisi inilah menurut Umbas, maka batik pertama yang ada di SULUT adalah batik yang diproduksi oleh Wale Batik Minahasa. Penjelasan ini menurutnya penting agar masyarakat paham betul mana yang disebut batik, mana yang disebut tenun dan mana yang kain tekstil printing.

Sementara pemerhati kain tradisional, Vanda Rorimpandey mengapresiasi apa yang sudah dilakukan oleh Wale Batik Minahasa. Menurutnya nilai seni dan tradisional yang dibuat oleh Wale Batik Minahasa sangat tinggi sekali dan perlu mendapat apresiasi. "Saya sedih melihat masih banyak orang yang mau menggunakan batik palsu alias batik tekstile bukan batik yang melalui proses pembatikan yang rumit dan sangat tradisional seperti yang dilakukan oleh Wale Batik Minahasa",ungkap Rorimpandey.

Karena itu, dirinya menghimbau agar masyrakat mau menghargai potensi lokal dengan nilai-nilai budaya yang melekat seperti Batik Minahasa. Selain menjadi fungsi fashion, menggunakan batik Minahasa juga menjadi kebanggaan budaya Minahasa karena merupakan pengembangan dari nilai-nilai tradisional yang ternyata bisa lestari. (Redaksi)