Sabtu, 11 Februari 2012 – 19:42 WITA Telah dibaca 2077 kali

Gubernur Puji Perkembangan Pembangunan Sitaro

Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menyatu dalam suasana kultural religius yang menjadi ciri khas warga Nusa Utara berupa Pesta Budaya Adat Tulude yang dilaksanakan di Lapangan Kelurahan Apeng Sambeka Kecamatan Siau Timur Kabupaten Kepulauan Sitaro, 10 Februari 2012 malam.

Pesta budaya yang dilaksanakan setiap tahun ini dimaksudkan untuk mensyukuri segala berkat dan penyertaan Tuhan Yang Maha Kuasa kepada Pemerintah dan Masyarakat Sitaro di tahun 2011 dan menyambut datangnya Tahun Baru, Tahun Anugerah Tuhan 2012.

Rombongan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dipimpin langsung oleh Gubernur Dr. Sinyo Harry Sarundajang isteri Ny. Deitje Sarundajang Laoh Tambuwun selaku Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Utara dan Wakil Gubernur Dr. Djouhari Kansil, M.Pd yang juga adalah Putra Sitaro bersama isteri Ny. Mieke Kansil Tatengkeng, Ketua DWP Provinsi SULUT. Ny Esther Mokodongan Turang, anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah antara lain Kapolda SULUT Brigjen. Pol. Carlo Tewu, Komandan Korem 131 Santiago Kolonel Inf. Bert Maliogha, Komandan Pangkalan Udara Sam Ratulangi Manado Letkol.Pnb. Yorry Koloay dan Wadanlantamal 8 Manado, Asisten Administrasi Umum Sekdaprov SULUT Edwin Silangen, SE.M.Si, Inspektur Provinsi Jeffry Korengkeng, SH.M.Si beserta sejumlah Kepala SKPD lingkup Pemprov SULUT.

Rangkaian Prosesi Adat Tulude berlangsung dalam suasana kultural yang kental dengan nuansa religius dan dilafalkan dengan menggunakan behasa khas daerah serta diselingi dengan beberapa tarian dan nyanyian khas Nusa Utara. Puncak dari Upacara Tulude ini adalah prosesi yang diikuti oleh pemotongan kue adat Tamo yang telah dipersiapkan selama 3 hari menjelang acara Tulude.

Dalam pengantar katanya Bupati Sitaro Tonny Supit mengajak masyarakat untuk merenungkan perjalanan Kabupaten Kepulauan Sitaro yang di tahun 2011 lalu diterpa dengan beberapa kali bencana alam seperti gelombang pasang, angin topan dan letusan gunung Karangetang. Semua ini menurut Bupati dihadapi Pemerintah dan masyarakat kabupaten/kepulauan Sitaro dengan sikap berserah diri dan mengakui kuasa dan kebesaran Tuhan.

Dengan sikap ini pemerintah dan masyarakat Sitaro dapat melewati perjalanan tahun 2011 dengan tegar bahkan ditengah tantangan tersebut pemerintah dan masyarakat Sitaro mencatat berbagai kemajuan dalam pembangunan infrastruktur dan sosial kemasyarakatan seperti pembangunan jalan dan jembatan, pembebasan SPP sampai ke jenjang Pendidikan Menengah, pemberian Jamkesda dan lain-lain.

Hal senada disampaikan oleh Gubernur Dr. Sinyo Harry Sarundajang yang secara terbuka menyampaikan pujian kepada Pemerintah dan Masyarakat Sitaro atas berbagai keberhasilan pembangunan yang telah dicapai. "Semua kemajuan itu dapat dicapai Kabupaten Sitaro dengan semangat kebersamaan yang ditunjang oleh situasi kamtibmas serta kuatnya nilai religius yang dipegang teguh oleh masyarakat", demikian gubernur Dr. S.H. Sarundajang.

Gubernur juga mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Sitaro untuk bersama-sama terus menjaga stabilitas karena itu merupakan kondisi yang memungkinkan terlaksananya kegiatan pembangunan. Secara khusus gubernur mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi telah mendesak Pemerintah Pusat untuk terus memperbaiki harga komoditas unggulan Sitaro yakni Pala dan Produk turunannya. Selama ini harga pala lebih banyak ditentukan oleh Pasar Internasional terutama dari Belanda padahal hampir 70% kebutuhan pala dunia dipasok dari Indonesia khususnya Kepulauan Sitaro.

Pemprov juga akan terus memfasilitasi pengembangan sektor perikanan di Sitaro yang merupakan daerah penyanggah utama industri perikanan di Bitung. ke depan Sitaro harus dapat mengembangkan secara mandiri Industri perikanannya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Pada bagian akhir sambutannya gubernur tetap mengingatkan masyarakat Sitaro untuk terus waspada karena Provinsi Sulawesi Utara termasuk Kepulauan Sitaro adalah salah satu provinsi dengan potensi bencana yang cukup lengkap. Bencana alam tidak dapat kita tolak, yang harus dilakukan adalah meminimalisir jumlah korban baik manusia maupun material akibat dari bencana, demikian gubernur.

Pada kesempatan ini Pemprov SULUT meninggalkan bantuan beras sebanyak 10 ton bagi masyarakat yang menjadi korban bencana Gunung Karangetang, dan korban angin topan yang melanda tahun yang lalu. (Kabag Humas Ch. Sumampow, SH.M.Ed selaku Jubir Pemprov SULUT)