Senin, 11 April 2011 – 08:26 WITA Telah dibaca 1881 kali

Masyarakat Jenuh Sering Mati Lampu

Pemukiman di daerah kepulauan.

Mati lampu yang sering melanda Siau, Tagulandang dan Biaro (Sitaro) membuat masyarakat jenuh dan bertanya-tanya tentang keberadaan perusahan listrik negara (PLN) di wilayah itu.

Selama ini, masyarakat sudah jenuh dengan mati listrik yang dialami. Berbagai alasan dikemukakan oleh pihak penyedia listrik, mulai dari alasan klasik seperti cuaca buruk, pohon tumbang, gangguan kabel dan sejenisnya. Kenyataannya, saat cuaca sedang bagus-bagusnya, mati lampu masih juga melanda. Pada beberapa kesempatan, pemutusan aliran listrik sempat mengganggu persiapan ujian sekolah.

Menanggapi hal tersebut, tokoh masyarakat Sitaro, Johny Tamus, mengatakan bahwa sebaiknya pemerintah segera memikirkan dampak mati lampu terhadap kondisi investasi di Sitaro. Jika investor mau menanamkan modalnya di Sitaro dan mendapati bahwa listrik sering mati, maka hal tersebut dapat menimbulkan kendala yang besar. Belum lagi alasan kekurangan bahan bakar sampai harus ada pemadaman bergilir.

Menurut Tamus, jika ada rencana pemutusan aliran, sebaiknya dilakukan pemberitahuan tertulis atau paling tidak melalui pengumunan di mobil penerangan, supaya masyarakat dan dunia usaha bisa mengantisipasinya, sehingga kerugian bisa diminimalisir.

"Saat ini ‘kan semua komponen membutuhkan listrik, mulai dari dunia usaha, pemerintahan hingga dunia pendidikan, jadi seyogyanya ada penyampaian terlebih dahulu biar masyarakat tidak kaget", ingatnya.

Thamus juga menyadari bahwa listrik Sitaro masih berada di bawah koordinasi PLN Sangihe, sehingga perlu ada komunikasi dan koordinasi yang baik dalam rangka memenuhi kebutuhan listrik yang maksimal bagi masyarakat Sitaro.