Kamis, 18 Januari 2018 – 22:12 WITA Telah dibaca 4158 kali Sedang dibaca oleh 1 pengunjung lain

APTIKOM: Digital Disruption Menghantam Demokrasi di Indonesia

Lucky Mangkey

SUARAMANADO, Nasional: Pembahasan yang panjang antara Komisi II DPR dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) akhirnya menghasilkan putusan. KPU resmi menetapkan revisi Peraturan KPU (PKPU) No 7 dan No 11 Tahun 2017 menyesuaikan dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK). PKPU No 11 Tahun 2017 akan diganti dengan PKPU Tahun 2018 yang bernuansa Digital Disruption menyangkut Verifikasi Faktual.

Seperti diketahui, putusan MK terhadap Pasal 173 ayat 1 dan 3 UU Pemilu tentang verifikasi parpol menimbulkan sejumlah perdebatan. dengan disahkannya kembali pasal tersebut, seluruh parpol peserta pemilu, termasuk parpol peserta Pemilu 2014, diwajibkan melakukan verifikasi ulang. Hal ini dikhawatirkan akan memperlambat proses verifikasi parpol, yang seharusnya selesai pada 17 Februari 2018 serta pelaksanaan pemilu pada 17 April 2019. Seelah perdebatan panjang antara Komisi II DPR dengan pihak KPU akhirnya mendapatkan solusi yang terbaik dengan menggunakan Verifikasi Faktual berdasarkan (Sitim Informasi Partai Politik) SIPOL KPU.

Dengan adanya PKPU yang baru ini menurut Lucky Mangkey, M.Kom Ketua IAII (Ikatan Ahli Informatika Indonesia) SULUT bahwa di jaman now akhirnya kita tidak bisa menghindar dari yang namnya perubahan. Digital Disruption telah menghantam bisnis yang ada di Indonesia antara lain di bidang transportasi ada gojek dang rap, pariwisata ada traveloka, bidang pendidikan ada cybereduction dan untuk demokrasi di Indonesia SIPOL KPU merubah sistim verifikasi faktual menjadi virtual. Inilah yang dikenal jaman now atau jaman digital.

Menurut Mangkey yang juga sebagai kepala Humas, Sitim Informasi dan Infrastruktur APTIKOM (Asosiasi Pendidika Tinggi Informatika dan Komputer) Pusat bahwa saat ini telah terjadi perpindahan besar-besaran dari dunia nyata ke dunia maya atau dikenal dengan cyberspace. Pengguna internet dunia terus bertambah dan saat ini menurut data APJII (Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia) pengguna Internet di Indonesia tahun 2017 sudah lebih dari 132 juta. Jika setiap orang di Indonesia menggunakan dua atau tiga peralatan digital yang terhubung dengan Internet maka harusnya pengguna internet sudah melebihi jumlah penduduk Indonesia. Potensi ini yang memaksa kita untuk berubah dan hal ini dialami oleh sitim berdemokrasi di Indonesia.Pesta demokrasi tahun 2019 sudah diawali dengan pendaftaran dan verifikasi lewat SIPOL.

Demokrasi jaman now atau demokrasi kekinian ini menurut Mangkey mau tidak mau generasi X (kelahiran 1966–1976) yang saat ini masih banyak duduk di kursi pemerintahan baik legislatif maupun eksekutif berlahan-lahan akan tergeser oleh generasi Y(kelahiran 1977–1994). Partai-partai yang tidak mengakomodir atau tidak memberikan kesempatan kepada generasi Y akan ditelan jaman dan kemungkinana akan ditinggalkan pendukungnya. Selain itu, anak-anak generasi Z (kelahiran 1995–2012) yang walaupun sebagian besar belum memiliki hak pilih namun peran mereka sangat berpengaruh kepada orang tua mereka generasi X dan Y. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyak orang tua yang memasrakan pengoperasian dan penggunaan computer dan alat-alat digital kepada anak-anak mereka yang sudah melek teknologi sejak mereka dilahirkan. Juga data-data di APJII prilaku dan pengguna Internet di Indonesia dari 132 juta itu didominasi oleh generasi Y dan Z.

Jadi pertarungan partai untuk meraih simpati saat ini bukan lagi pada berapa besar asset dan gedung serta fasilitasnya namun berapa canggih sistim informasi partai dan seberapa besar jaringan sosial yang terhubung dengan sistim tersebut. Pemimpin partai dalam istilah agama harus pintar-pintar membaca nubuatan demikian papar mangkey yang juga adalah pendiri beberapa cyber ministry.

Dengan diberlakukan PKPU yang baru maka partai-partai yang tidak memiliki sistim informasi dan jaringan yang bagus akan musnah ditelan digital disruption. Partai-partai harus merekrut anak-anak muda sebanyak mungkin jika ingin bertahan dan menang dalam pesta demokrasi demikian tutup Mangkey.