Rabu, 9 Agustus 2017 – 01:33 WITA Telah dibaca 45 kali

Kecerdasan Politik Jokowi di Balik Guyonan Diktator

Presiden Jokowi dianggap telah lihai memainkan perannya sebagai elite politik.

SUARAMANADO, Nasional: Guyonan diktator dianggap sebagai bentuk kecerdasan Presiden Joko Widodo atau Jokowi merespon kritikan lawan politiknya. Jokowi pun disebut sudah mulai meingimbangi irama permainan politik lawan. Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Kruskidho Ambardi, Rabu (9/8).

"Semacam meringankan, istilahnya membelokkan sesuatu yang substantif menjadi masalah yang terbuka. Membalikkan tuduhan dengan lunak dan humor. Itu respon yang cerdas dan serius. Itu caranya cerdas", tuturnya.

Tuduhan Jokowi seorang diktator, menurut dia, perlu dikaji kembali. Sebab, ada banyak indikator-indikator yang dipakai untuk menyebut seorang pemimpin masuk dalam kategori diktator.

Dodi, sapaan akrab Kruskidho menjelaskan, Jokowi saat ini dapat memposisikan diri dalam jajaran elie politik. dengan guyonan diktator itulah, Jokowi memosisikan tidak masuk dalam frame lawan politik.

"Sebetulnya ini perang wacana. Seperti presidential threshold 20 persen, itu normal di mana-di mana. Itu bukan soal yang penting, tapi soal tawar menawar di publik. Jadi olok-olok itu untuk menawar posisi", bebernya.

Ia menjelaskan, kondisi politik saat ini tidak terlepas dari ancang-ancang masing-masing elite dan parpol menyongsong Pemilu 2019 mendatang. Belum lagi, semua situasi dan kondisi akan selalu menjadi panggung politik bagi elite dan parpol.

"Jadi diktator itu wacana, sebuah frame lawan politik. Saat ini Jokowi lebih lihai. Kadang-kadang responnya tidak tegas-tegas amat, tapi cukup lihai. Mungkin awalnya kagok, tapi lama-lama bisa mengikuti irama politik", bebernya.

Dodi menambahkan, segala kebijakan yang dikeluarkan Jokowi memang kerap dinilai negatif. Contohnya, pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dinilai sebagian masyarakat seolah-olah membunuh organisasi masyarakat (ormas). Belum lagi, Jokowi dianggap tidak demokratis.

"Jadi ini permainan politik dibalas dengan retorika politik. Bermain hati publik dengan teknik retorika dan persuasif. Jadi tidak ada sesuatu yang mencirikan diktator", katanya menegaskan.

Guyonan diktator itu disampaikan Jokowi kala bersama anak-anak muda di Lubang Buaya, Jakarta Timur, Selasa (8/8), membuka Pasanggiri Nasional dan Kejuaraan Perguruan Pencak Silat Nasional (Persinas) ASAD 2017.

Saat berkomunikasi dengan anak-anak muda, Jokowi menegaskan dirinya bukan seorang diktator. Jokowi bahkan mempertanyakan kritikan lawan politiknya dengan menyebut wajahnya bukan wajah seorang diktator.

Guyonan diktator itu merupakan respons Jokowi atas kritikan lawan politiknya. Sebelumnya, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsuddin meminta Presiden Jokowi tak merasa alergi kritik termasuk dari mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Presiden Jokowi sekali lagi hendaknya tidak antikritik. Bagaimanapun jangan anggap semua kehidupan masyarakat sdh berjalan baik-baik saja tanpa perlu dikoreksi sedikitpun. Ingat daya beli masyarakat, pengangguran, kemiskinan, dan berbagai problem bangsa masih terus terjadi", kata Didi Irawadi dalam siaran pers yang diterima, Sabtu (29/7).

Dalam siaran tersebut, Didi menegaskan SBY sebagai mantan presiden ke-6 RI, yang terpilih dua kali, adalah mantan pemimpin negara yang sarat pengalaman dan memiliki legitimasi memberikan serta masukan demi kemaslahatan bangsa Indoensia.

Didi pun mengklaim SBY yang juga Ketua Umum Partai Demokrat tersebut sebagai sosok yang cinta demokrasi. Atas dasar itu, SBY disebutnya tidak pernah anti kritik, sekalipun itu dinilai keras bahkan berlebihan.

"Tidak seorangpun yang pernah dituduh makar [oleh SBY] hanya karena berbeda pendapat apalagi hanya kritik", ujar Didi.