Senin, 3 Juli 2017 – 20:35 WITA Telah dibaca 206 kali

Gubernur Djarot Tak Ingin Ada Yang Luntang-lantung di Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat

SUARAMANADO, Nasional: Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat membeberkan asal pendatang baru ke Ibu Kota, terutama pascalebaran. Mayoritas pendatang baru itu dari Jawa.

"dari data yang masuk ke kami, sebagian besar datang dari Jabar, Jateng, DIY, Jatim dan Banten", kata Djarot.

Menurut Djarot, tak ada yang melarang siapapun datang ke Jakarta atau melakukan urbanisasi. Namun Djarot berharap pendatang itu memiliki keterampilan khusus sehingga dapat bertahan hidup di Ibu Kota.

"Kita mengantisipasi bukan hanya setelah lebaran, tapi setiap hari. Apakah boleh (datang ke Jakarta)? Boleh. Tetapi ada beberapa persyaratannya yang harus dipenuhi. Pertama harus punya keterampilan. Jangan ke Jakarta pengangguran, luntang-lantung dan enggak punya tempat tinggal", ujar dia.

Kemudian, dia harus memiliki surat pengantar dari RT/RW asal dan jaminan tempat tinggal. Kemudian tujuan datang ke Jakarta harus jelas.

Djarot menegaskan urbanisasi harus dapat dikendalikan. Sejauh ini, kata Djarot, pihaknya melakukan pemantauan khusus di sejumlah tempat tertentu.

Dari rusunawa, apartemen, perumahan, daerah dekat pasar, terminal, stasiun, hingga bantaran sungai. "Tetap kita akan pantau", tegas dia.

Djarot berharap daerah di luar Jakarta dapat memastikan lapangan pekerjaan bagi warganya. Hal itu diyakini menjadi solusi agar warga tidak memilih urbanisasi, termasuk ke Ibu Kota.

"Migrasi suatu hal yang normal di manapun. di Jakarta ada tiga jenis migrasi. Satu migrasi commuter. Jadi daerah penyangga itu setiap hari datang ke Jakarta pulang pergi itu ada 2,5 juta (jiwa). Kemudian ada juga migrasi sementara. Misalnya sekolah. Setelah itu dia balik lagi ke daerahnya. dan yang ketiga migrasi permanen. Inilah urbanisasi", ucap dia.

Djarot membuka kemungkinan upaya pengendalian urbanisasi ala Gubernur DKI Jakarta dulu, Ali Sadikin. Yaitu memberikan batas waktu untuk mencari kepastian hidup di Jakarta dan jika tidak, dengan terpaksa warga itu dikembalikan ke daerah asalnya.