Selasa, 23 Agustus 2016 – 13:15 WITA Telah dibaca 452 kali

‘Sentilan’ Budayawan Agar Jokowi Tak Hanya Fokus ke Pembangunan Infrastruktur

SUARAMANADO Jakarta - Puluhan budayawan sore tadi berkumpul di Galeri Nasional. Ada tamu spesial dalam acara itu, yakni Presiden Joko Widodo yang memang ditunggu para budayawan.

Presiden Jokowi tiba di Galeri Nasional, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (23/8/2016) pukul 16.00 WIB. Jokowi langsung masuk ke ruang serbaguna yang berada di bagian belakang Galeri Nasional.

Tak berapa lama, Jokowi langsung memberikan sambutan pembuka. Sambutan yang diberikan hanya sekitar 3 menit dan Presiden meminta agar pertemuan digelar tertutup agar bisa buka-bukaan.

Meski pertemuan tertutup, namun dari luar ruangan beberapa kali terdengar gelak tawa dari dalam ruangan. Suasana diskusi terdengar begitu cair.

Namun, meski perbincangan berlangsung cair, para budayawan ternyata sempat ‘menyentil’ Presiden. Sebabnya, Jokowi dianggap terlalu fokus ke pembangunan infrastruktur.

"Ini sebenarnya dialog kami yang kedua para budayawan, kesempatan pertama pada tahun lalu bulan Desember dan kita akan lanjutkan secara berkala, kalau tidak per dua bulan atau per tiga bulan untuk memberi masukan kepada Presiden dari pihak kami bagaimana kebudayaan itu seharusnya menjadi perhatian yang cukup penting dalam proses pembangunan di samping pembangunan yang bersifat materiil. Jadi infrastruktur itu harus dilengkapi dengan suprastruktur, nah ini dibicarakan tadi", kata budayawan Radar Panca Dahana yang ikut dalam pertemuan itu.

"Suprastruktur itu pokoknya urusan-urusan yang bersifat kultural itu. Kita mendesak kepada presiden agar pembangunan yang ada di Indonesia itu semuanya berdimensi budaya. Atau semuanya mempertimbangkan, memperhatikan dan menyertakan kearifan atau pengetahuan budaya di tingkat lokal", jelasnya.

Radar membenarkan, pertemuan berlangsung sangat cair dan diselingi gelak tawa. Namun, tetap saja, pesan yang disampaikan agar Presiden jangan sampai abai pada pembangunan kebudayaan.

"Cara para budayawan itu, menyampaikan pesan atau masukan dengan kelakar. Mereka menempatkan dirinya sebagai punakawan, tapi tingkat kedalamannya tidak lebih dangkal daripada para brahmin atau para filsuf. Cara-cara seperti itu mungkin lebih efektif dalam memberi masukan kepada Presiden, karena tidak hanya telinganya yang bergetar tapi juga hatinya yang bergetar", tegas Radar.

Sementara itu, Presiden Jokowi mengaku mendapat banyak masukan dari para budayawan. Presiden setuju, sektor kebudayaan juga ikut diperhatikan untuk keseimbangan gencarnya pembangunan infrastruktur.

"Saya kira banyak sekali tapi nanti apa yang berkaitan dengan pusat kebudayaan di pusat dan di daerah perlu. Ruang-ruang seperti itu memang diperlukan. Jadi orang tidak hanya berpikiran masalah ekonomi, politik, artinya kita selalu itu berbicara yang dua itu terus padahal ada sisi lain yang sangat diperlukan untuk menyeimbangkan hidup", ujar Jokowi.

Presiden pun mengakui pertemuan berjalan sangat cair diselingi canda tawa. Meskipun begitu, pesan yang disampaikan budayawan dicatat secara detail oleh Presiden.

"Yaa banyak ketawa, santai, ada yang menyampaikan. Tadi ada yang banyak ketawa karena ada salah satu budayawan yang mengatakan saya katanya Presiden yang perilakunya paling ndeso dan wajahnya ndeso", tutur Jokowi disusul tawa.

Hasil dari pertemuan itu, Presiden setuju akan menyusun kebijakan makro kebudayaan Indonesia. Bagaimana wujud riil kebijakan itu?

"Ini coret-coretannya sampai seperti ini. Ya misalnya masalah menumbuhkan kembali kesusastraan kita, kemudian menghayatkan kembali diplomasi budaya kita, membangun pusat kebudayaan tapi tidak di wilayah urban tetapi juga di desa sehingga muncul pusat kebudayaan tak hanya di kota tetapi juga di daerah. Saya kira banyak sekali nanti kebijakan makro kebudayaan kita dalam rangka proses pembudayaan manusia", ungkap Jokowi.