Senin, 7 Desember 2015 – 09:52 WITA Telah dibaca 497 kali

Dibalik Kemarahan Presiden Jokowi Dicatut Nama Demi Saham Freeport

Jokowi berangkat ke Paris

SUARAMANADO, Nasional: Presiden Joko Widodo tiba-tiba mengeluarkan pernyataan bernada keras. Ungkapan kemarahannya tergambar jelas, nadanya meninggi sambil menunjuk-nunjuk. PresidenJokowitidak terima dengan aksi pencatutan namanya yang diduga dilakukan Ketua DPR Setya Novanto untuk meminta saham PT Freeport Indonesia. Dia terusik lantaran sebagai simbol lembaga tinggi negara, dipermainkan.

Kemarahannya memuncak setelah memantau terus jalannya proses sidang etik di Mahkamah kehormatan Dewan (MKD) DPR beberapa hari terakhir. "Selama ini presiden menurut saya selalu berusaha menjaga dan percaya proses di MKS, tapi ketika membaca naskah transkip memang presiden marah betul", kata Kepala Staf PresidenTeten Masduki di Istana, Jakarta, Senin (7/12).

Teten menegaskan, presiden sudah membaca transkrip utuh rekaman pembicaraan antara Ketua DPR Setya Novanto, pengusaha migas Riza Chalid dan Presiden Direktur Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin. Presiden juga sempat menyinggung proses sidang etik yang menghadirkan Setya Novanto, tidak dilakukan secara terbuka. Berbeda dengan sidang etik yang menghadirkan Sudirman Said sebagai pelapor dan Maroef Sjamsoeddin sebagai saksi.

"Ya tadi itu juga sempet disampaikan presiden. Kenapa kemarin waktu Sudirman Said dipanggil terbuka, lho sekarang yang diadukannya justru tertutup. Tapi saya kira kemarahan presiden itu, seperti tadi yang disampaikan, setelah presiden membaca lengkap transkip rekaman itu memang presiden marah luar biasa", jelas Teten.

Menurut Teten, Jokowi menahan amarahnya sejak siang tadi. Ekspresi kemarahan Jokowi tidak bisa disembunyikan.

"Tadi kan sudah disampaikan bahwa presiden gila koppig, itu sudah sering lah presiden dihina seperti itu dan presiden tidak pernah menunjukkan kemarahannya. tapi ketika dicatut namanya, dikaitkan dengan pembicaraan pembagian saham presiden marah luar biasa karena ini kan menyangkut dengan nilai soal etika moralitas wibawa pemerintahan. Saya kira itu", tutup Teten.