Sabtu, 6 September 2014 – 20:28 WITA Telah dibaca 1976 kali

Banyak Yang Belum Mengerti Tentang Batik

Thomas Sigar Rencana Bikin Seminar Batik di SULUT

Thomas Sigar perancang busana kenamaan Indonesia
Berkembangnya batik sebagai warisan kekayaan budaya non bendawi dari Indonesia yang sudah disahkan oleh UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009 patuk kita apresiasi dan sambut baik.

Sayangnya antusiasme masyarakat ini tidak disertai dengan pemahaman yang benar tentang batik secara benar pula. Hal ini diungkapkan oleh perancang busana tersohor, Thomas Sigar pada diskusi kecil tentang mengembangkan kain etnik Indonesia di Restoran Rarampa, Sabtu (8/9), kemarin.

Menurutnya batik sebagai karya kerajinan tangan yang adiluhung harus ditempatkan pada posisi yang sebenarnya. Ada banyak salah pengertian tentang batik yang selama ini berkembang. Misalnya ada kain-kain yang dicetak dengan menggunakan mesin-mesin tekstil bercorak batik juga disebut batik. Yang lebih parah lagi kalau ada kain tenun yang disebut batik. Padahal kain tenun itu punya kelasnya sendiri. Batik dan tenun adalah dua hal yang berbeda dengan keunggulan masing-masing.

Terlebih lagi di Sulawesi Utara, sudah terjadi salah kapra yang sangat besar. Beberapa kain yang diprint textile sudah disebut batik. Padahal batik dikerjakan dengan sangat susah, dengan penuh perhatian dan kesungguhan hati, tidak sekadar memasukan kain ke dalam mesin. Karya tradisional inillah yang sering disebut produk Ekonomi Kreatif berbasis budaya dan tradisi nusantara.

"Pemahaman ini perlu diluruskan agar masyarakat bisa lebih menghargai kain-kain etnik yang dikerjakan dengan penuh kesungguhan hati serta sarat dengan makna-makna filosofis",ungkap Thomas yang juga penggagas tenun Bentenan dan Pinawetengan ini.

Seperti batik Minahasa misalnya, menurutnya hal ini harus kita hargai sebagai bagian dari kekayaan kretivitas masyarakat di Sulawesi Utara sehingga masyarakat SULUT yang selama ini dikenal sebagai masyarakat yang dinamis serta sadar akan fashion lebih diperkaya dengan kelahiran batik Minahasa ini.i

Untuk itulah, pihaknya ingin menggelar seminar berskala nasional yang akan diselenggarakan pada bulan oktober nanti dengan menggundang pembicara seperti Komarudin Kudiya, Coreta Louise Kapoyos, Terry Supit, dan sejumlah perancang dan pemerhati fashion etnik nasional.