Minggu, 13 Agustus 2017 – 19:08 WITA Telah dibaca 423 kali

Pramuka Indonesia di Persimpangan Jalan

Ada perubahan dalam eksistensi pramuka di masa kini. Saat ini, keberadaan pramuka tidak dioptimalkan dalam berbagai kegiatan sosial di masyarakat.

SUARAMANADO, Nasional: Gerakan Pramuka Indonesia memasuki usia ke-56 hari ini, Senin (14/8). Bukan usia yang muda bagi suatu gerakan kepanduan dalam sejarah negara Indonesia.

Istilah Pramuka sendiri merupakan akronim dari praja, muda, karana yang berarti ‘jiwa muda yang suka berkarya’.

Kegiatan yang dilakukan anggota pramuka umumnya berupa ajang untuk mengasah keterampilan dan kreativitas, meningkatkan ketangguhan jasmani dan rohani, serta kedisiplinan.

Aktivitas kepramukaan biasanya dilakukan di alam terbuka dan bersifat menyenangkan. Setiap aktivitas mereka itu bertujuan untuk membentuk watak, akhlak, dan budi pekerti yang luhur.

Keanggotaan pramuka meliputi Pramuka Siaga (7–10 tahun), Pramuka Penggalang (11-15 tahun), Pramuka Penegak (16–20 tahun), dan Pramuka Pandega (21–25 tahun). Kelompok anggota yang lain yaitu Pembina Pramuka, Andalan Pramuka, Korps Pelatih Pramuka, Pamong Saka Pramuka, Staf Kwartir, dan Majelis Pembimbing.

Sejak resmi dibentuk pada 14 Agustus 1961 silam, Gerakan Pramuka Indonesia identik dengan kegiatan sosial. Pramuka dikenal aktif dalam kegiatan sosial, baik yang diinisasi oleh Pramuka itu sendiri, mau pun dalam kegiatan yang ada di masyarakat.

Pramuka Indonesia kini ibarat di persimpangan jalan, karena dianggap sudah mulai surut semangatnya dalam menggelorakan gerakan praja, muda, karana.

Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga, Gatot Dewa Broto menceritakan pengalamannya saat dulu masih aktif menjadi anggota pramuka.

"Pada tahun 1977, waktu itu saya masih kelas tiga SMP, saya menjadi anggota kontingen DIY, anggotanya beberapa orang putra dan putri ikut Jambore nasional di Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara", tutur Gatot.

Gatot masih ingat betapa sulit dirinya untuk menjadi anggota pramuka dulu. Oleh karena berhasil melalui tahap yang sulit itu, Gatot merasa bangga dapat menjadi bagian dari pramuka dalam sejarah hidupnya.

"Ada kebanggaan yang saya rasakan saat menjadi pramuka", katanya.

Dia begitu antusias saat bercerita tentang pengalamannya sebagai pramuka saat mengikuti berbagai kegiatan sosial. Hingga saat ini, dia merasakan banyak manfaat dari pengalamannya menjadi pramuka di masa lalu.

"Saya, sejak merintis karier dari bawah hingga di Kemenpora, selalu terbawa spirit pramuka. Misalnya, saat ada permasalahan seperti ini, mesti bagaimana. Kalau terdesak, mesti melakukan apa", ujar Gatot.