Selasa, 15 Agustus 2017 – 21:51 WITA Telah dibaca 168 kali

Indonesia di Tangan Generasi Muda

Ilustrasi

SUARAMANADO, Nasional: Indonesia akan menjadi bangsa yang besar dan disegani. Untuk itu, generasi muda yang kelak akan memimpin perlu dibekali dengan sejumlah kemampuan yang sesuai dengan zamannya, termasuk di dalamnya berkepribadian Indonesia.

Presiden ketiga Bacharuddin Jusuf Habibie optimistis dengan generasi penerus yang saat ini rata-rata berusia di bawah 35 tahun atau sekitar 70% dari seluruh rakyat Indonesia. Hal ini lebih menguntungkan dibandingkan negara lain.

"Kalau dibandingkan dengan Eropa atau Tiongkok, Jepang itu kan lebih banyak orang tuanya. Jadi, anak-anak kita ini sudah merdeka dan bebas, tapi (sebaiknya) bebas bertanggung jawab dan berbudaya", kata Habibie di Auditorium Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Selasa 15 Agustus 2017.

Habibie pun mengingatkan agar tidak perlu mempersoalkan Indonesia akan terpecah. Perlu diingat bila bangsa Indonesia masih bersatu dan tetap berpegang pada UUD 1945 meski pada dasarnya sangat pluralistik.

"Tapi kita memiliki bahasa satu, perilaku hampir sama-sama saja. dan agama, kita sama-sama yakin 99% rakyat Indonesia percaya bahwa adanya Tuhan YME", jelas dia.

Lebih jauh, terang dia, walaupun tercatat sebagai masyarakat Islam terbesar, Indonesia bukan negara Islam. Indonesia adalah negara dari masyarakat yang percaya kepada Tuhan YME, yaitu adanya Sang Pencipta sebagai dasar kehidupan di bumi.

"Pancasila itu bukan hasil dari suatu generasi, tapi Bung Karno sendiri mengatakan dia gali dari tubuh bangsa Indonesia. di situ sudah saja ada di dalam tubuh kita sendiri, peliharalah baik-baik dan sesuaikan dengan keadaan teknologi, kendala-kendala baru. Adanya informasi bisa masuk ke sini. Karena itu, saya sangat mementingkan ketahanan budaya Indonesia", pungkas dia.

Di tempat yang sama, Presiden kelima Megawati Soekarnoputri mengatakan maju mundurnya suatu bangsa dan peradaban di dunia secara umum pasti tidak lepas dari ilmu pengetahuan dan perkembangannya. Artinya, tidak ada negara besar yang mampu bertahan tanpa ditopang lembaga penelitian.

Ia menilai penguatan lembaga tersebut sangat diperlukan. Caranya dengan meningkatkan anggaran penelitian bagi kepentingan dan kemajuan bangsa.

Tiga hal pokok

Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan ada tiga hal yang menjadi tugas pemerintah terkait dengan persoalan kebangsaan serta bagaimana membawa Indonesia ke depan. Pertama, menyangkut ekonomi dan kesejahteraan, seperti yang tertuang dalam amanah UUD 1945.

"Ekonomi kita harus kuat, adil, dan berkelanjutan", kata dia.

Kedua, kata SBY, demokrasi. "Demokrasi harus berjalan tertib agar tidak berlangsung anarkisme", ujar dia.

Ketiga, imbuh dia, yakni civilization. Indonesia harus memiliki peradaban bangsa yang maju dan berkarakter.

"Kalau kita lihat tren kemajuan teknologi luar biasa, bangsa Indonesia ke depan harus lebih adaptif dan inovatif. Meminjam istilah, jangan sampai kita dihinggapi penyakit jiwa future shock (gagap menghadapi masa depan)", tukas dia.