Minggu, 6 Juli 2014 – 12:47 WITA Telah dibaca 1823 kali

Orang Pintar Pilih Prabowo-Hatta

Prabowo-Hatta saat disaksikan oleh pendukungnya dari layar televisi

SUARAMANADO, Nasional: Kalau kita menyimak secara objektif dari hasil amatan, penilaian dan komentar pengamat yang dihadirkan baik di TV One atau Metro TV selama berlangsungnya debat capres – cawapres antara No,1 dan No.2, selalu menempatkan pasangan Prabowo – Hatta selalu lebih unggul dalam memaparkan konsep dan gagasan visioner dalam penyampaian visi misinya.

Setidaknya dari penilaian dan amatan kritis pengamat ini menjadi pesan pembelajaran bagi kita semua rakyat Indonesia untuk menjadi sebagai pemilih yang pintar, cerdas, berpikir dewasa dan bernalar rasional dalam menentukan pilihannya memilih calon pemimpin secara kritis.

Dan pastinya judul tulisan inipun merujukan pada amatan, penilaian dan komentar dari para pakar apakah itu pengamat politik maupun pemerhati semiotik atau gestur saat berlangsungnya debat capres – cawapres dengan menilai dari cara penyampaian konsep dan gagasan visioner para capres-cawapres, di mana pasangan Prabowo – Hatta lebih diterima di kalangan pemilih orang pintar.

Dalam konteks ini yang dimaksud orang pintar tidak ditafsirkan merujuk pada tingkatan jenjang pendidikan formal yang ditempuh seseorang yang bergelar profesor, S3, S2 atau bergelar sarjana saja.

Adapun yang dimaksud orang pintar di sini lebih merujuk pada sikap kritis dan kedewasaan berpikir seseorang berdasar wawasan personal yang dimiliki seseorang sekalipun itu berpendidikan sekolah dasar atas kemampuannya memberikan penilaian secara kritis,cerdas dan bernalar rasional.

Istilah orang pintar ini sendiri muncul dari komentar pendapat pengamat politik saat berlangsungnya debat capres-cawapres antara No.1 dan No.2. Sudah tentu penilaian pengamat ini bukan semata-mata mengacu pada keberpihakan soal urusan dukung-mendukung No.1 atau No.2, tapi lebih mengarah penilaian kritis dalam menyampaikan amatannya secara netral dan objektif.

Sudah tentu apa yang dimaksud dengan istilah orang pintar atas dasar amatan dan penilaian pengamat ini mencoba menempatkan bahwa saat ini rakyat Indonesia sudah pintar, cerdas, berpikir dewasa dan bernalar rasional di mana dengan sendirinya akan bisa menilai, memilah, memilih dan menentukan pilihan calon pemimpinnya secara kritis, tidak lagi gegabah terprovokasi dijerumuskan oleh pencitraan semu.

Besarnya animo masyarakat menonton debat capres – cawapres yang ditayangkan secara langsung oleh media sosial televisi membuktikan bahwa rakyat sudah mulai kritis untuk mengetahui kapabilitas sosok calon pemimpinnya. Saat ini rakyat sudah pintar, cerdas, berpikir dewasa dan bernalar rasional, pastinya dari hasil debat capres – cawapres yang disaksikan lewat tayangan lansung di televisi dengan sendirinya rakyat sudah bisa menilai.

Dari penyampaian visi misi dan cara penyampaian yang disampaikan dalam debat capres – cawapres ini pastinya rakyat yang mengaku dirinya sebagai orang pintar pasti akan langsung bisaa menilai siapa capres – cawapres yang layak dipilih calon pemimpin negeri ini yang benar-benar punya komitmen dan pegang amanah bekerja untuk mensejahterakan rakyat..

Terlepas dari urusan dukung-mendukung, kalau melihat hasil amatan selama berlangsungnya debat capres – cawapres antara No.1 dan No.2 yang kita saksikan bersama lewat tayangan langsung disiarkan televisi menunjukkan bahwa baik dari penyampaian konsep dan gagasan visioner maupun dari gestur cara penyampaian para capres-cawapres, banyak yang memberikan penilaian pasangan No.1 yaitu Prabowo – Hatta lebih diterima di kalangan pemilih orang pintar.
Jadi siapapun yang mengaku dirinya orang pintar pasti memilih No.1. Semoga!

* Alex Palit, citizen jurnalis "Jaringan Pewarta Independen"