Selasa, 5 September 2017 – 18:25 WITA Telah dibaca 125 kali

BI Gairahkan Pertumbuhan Kredit

Agus Martowardojo, Gubernur Bank Indonesia

SUARAMANADO, Nasional: Bank Indonesia memastikan kebijakan loan to value (LTV) spasial guna merangsang pertumbuhan kredit. Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan, kebijakan makroprudensial ini sebagai bentuk pendalaman pasar.

"BI memang akan menjaga stabilitas sistem keuangan, stabilitas itu kita melakukan dengan bauran kebijakan termasuk makro prudensial, ketika makroprudensial perlu diketatkan kita ketatkan, LTV sudah kita longgarkan kalau sekarang kita kaji untuk lakukan relaksasi atas dasar spasial itu bentuk pendalaman", kata Agus Marto di Gedung DPR, Jakarta, Selasa malam (5/9/2017).

Adanya kajian kebijakan LTV spasial ini juga agar mengatasi pertumbuhan kredit bermasalah baik di sektor perumahan maupun kendaraan bermotor. Selain itu, membedakan besaran nilai uang muka kredit di setiap provinsi.

"Itu yang akan jadi faktor kalau dikaitkan bagaimana kondisi ekonomi masing-masing daerah dan standar perbankan di daerah untuk lakukan ekspansi kredit", terang Agus.

Dia menyebutkan, kebijakan LTV spasial tidak akan medistorsi pasar, justru jika ada pelonggaran akan menjadi stimulus untuk ekspansi di kredit perumahan.

"Kalau seandainya BI sudah turunkan 7 days repo rate dari 4,75% ke 4,5% kita ingin lihat transmisi penurunan itu ke bunga kredit, kan kita lihat bunga deposit sudah cukup baik tapi bunga kredit masih tinggi. Jadi bunga kredit harus bisa berangsur turun walau kita tahu masih perlu waktu. itu paling utama", jelas Agus.

Tabungan Rp 2 miliar meningkat

Agus menambahkan, jumlah rekening tabungan Rp 2 miliar ke atas meningkat. Dia juga menjelaskan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2017 yang sebesar 5,01% dengan tingkat konsumsi rumah tangga yang naik tipis menjadi 4,95% menandakan masih terjaganya daya beli.

"Secara umum kita melihat bahwa betul yang pendapatan menengah ke atas kelihatan ada peningkatan savings kita lihat dari rata-rata masyarakat dengan kepemilikan dana di atas Rp 2 miliar meningkat. Rata-rata masyarakat dengan kepemilikan surat berharga negara rata-rata yang memiliki sekuritas itu meningkat, itu menunjukkan bahwa banyak masyarakat nahan belanja tapi meningkatkan saving dan kita lihat malah bergeser mereka kalaupun membelanjakan lebih untuk lifestyle, leisure", kata Agus.

Dia memastikan, konsumsi rumah tangga yang naik tipis pada kuartal II-2017 juga dikarenakan adanya pergeseran pengunaan pendapatan. di mana, masyarakat lebih banyak membelanjakan untuk pendidikan.

Pemerintah bersama BI tetap menjaga tingkat inflasi di level yang rendah agar bisa memicu daya beli masyarakat tetap pada level yang baik. Pada Agustus 2017 terjadi deflasi 0,07% yang dikarenakan pemerintah berhasil mengendalikan volatile food dan tidak ada kenaikan administered price atau harga yang dikendalikan pemerintah seperti BBM, elpiji 3 kg, listrik.

"Sekarang(inflasi yoy) sudah di 3,82% jadi artinya kalau kita bilang 4 plus minus 1% bisa lebih rendah dari 4%. Tapi kita mesti sama-sama jaga karena masih ada September, Oktober, November Desember, banyak hari besar hari libur yang biasanya bisa beri tekanan ke inflasi. Tapi secara umum kita lihat pengendalian inflasi bagus", terang Agus.