Telah dibaca 266 kali
Minggu, 22 Januari 2012 - 09:34 WITA

Pakuure, desa dengan aturan tanam pohon

Foto ilustrasi.
Foto ilustrasi.

Badan lingkungan hidup sedunia sedang giat mengajak penduduk menanam pohon untuk mencegah bumi dari global warming. Di Pakuure Minahasa, keharusan menanam pohon sudah sejak lama dilakukan, mulai dari pohon buah-buahan maupun penghasil komoditi ekspor.

Pakuure satu desa yang amat cepat berkembang. Tahun 2010 desa ini dimekarkan menjadi 6 desa. Penduduk bertambah, menjadi petani produktif di atas lahan subur. Sumber air tanah dari hutan perawan, sudah sejak dulu ada keharusan menanam pohon buah-buahan dan penghasil komoditi eksport. Di desa ini, tiap pemuda yang akan menikah wajib menanam sedikitnya 25-50 kelapa, juga kini cengkih atau pala dan sejumlah tanaman pangan seperti pisang dan buah-buahan. Seho atau aren tumbuh di hutan tanpa ditanam menghasilkan saguer dan gula merah.

Penenaman massal seho amat potensial terutama pd lahan tidur dgn kemiringan tinggi, menjadi pencegah erosi. Batangnya menyimpan sagu yang dapat menjadi gudang pangan. Di jaman Permesta kampung ini menjadi basis perlawanan gerilya, yang terjamin pangan bergizi sehingga pasukan dan masyarkat sehat-sehat dan produktif.

Di masa negeri ini dilanda krisis multidimensi, desa ini hampir tiap hari berpesta makan dan berekreasi tanpa kekurangan pangan. Bahayanya ada! Generasi muda "terpelajar" lebih suka menjadi pengemudi ojek daripada bertani, sambil hidup dari hasil tetanaman perkebunan. Ada yang menyebut para pemuda malas tapi kaya itu sebagai orang-orang yg hidup dari "kuburan", yaitu dari keringat org tua dan kakek nenek yg sudah dikuburkan.

Oleh: A. Sinolungan.

(red)
Penulis: Redaksi SuaraManado.com
Beri Komentar