Minggu, 22 Januari 2012 – 21:45 WITA Telah dibaca 2059 kali

Bahasa Tondano, ke Mana Arahmu?

Paul Senduk.
Berikut ini adalah tulisan mengenai bahasa daerah dan pelestariannya, dikutip dan dimuat lagi untuk lebih menggugah kesadaran orang-orang Minahasa (dan Tondano khususnya) akan pentingnya bahasa leluhur, bahasa daerah mereka bagi identitas dan rasa kebanggaan mereka akan kebudayaannya, daerah asalnya, kampung halamannya.
BAHASA-BAHASA MINAHASA: TAHAP AKHIR MENUJU KEPUNAHAN
Apakah benar bahasa-bahasa Minahasa sudah di ambang kepunahan? Berikut ini adalah sari tulisan menyangkut bahasa yang di ambang kepunahan (disadur bebas dari tulisan Barbara F. Grimes)
1. Pentingnya melestarikan suatu bahasa.
Mengapa kita harus merisaukan punahnya suatu bahasa, adakah untung ruginya bagi kita? Banyak orang yang peduli bila suatu species hewan atau tumbuhan punah, namun tidak demikian dengan bahasa. Punahnya suatu bahasa (yang dimaksud bahasa daerah/suku yang tidak digunakan secara luas) mungkin bukan suatu event besar bagi kebanyakan orang padahal kepunahan bahasa berarti hilangnya suatu kreasi unik dari peradaban manusia.
Ada tiga alasan utama pentingnya melestarikan suatu bahasa,yaitu:
• Untuk melestarikan budaya atau cara hidup
• Mencegah kehilangan informasi tentang hewan atau tumbuhan
• Untuk melestarikan identitas suatu kaum

2. Faktor penyebab pergeseran bahasa (kepunahan bahasa)
Menurut para ahli bahasa, suatu bahasa dikatakan punah tidak berarti semua pengguna/penutur bahasa tersebut sudah tidak ada atau telah meninggal. Tetapi bahwa para penutur bahasa tersebut telah beralih menggunakan suatu bahasa yang lain karena berbagai penyebab.
Berikut ini adalah faktor-faktor yang menyebabkan bergesernya penggunaan suatu bahasa:
• Orang tua mendorong anak-anaknya mempelajari bahasa lain misalnya karena alasan "prestise"
• Kehancuran wilayah karena bencana yang disebabkan alam atau manusia
• Migrasi atau perpindahan penduduk ke daerah lain
• Penggunaan bahasa lain di sekolah-sekolah
• Kebijakan bahasa nasional suatu negara
• Faktor-faktor lainnya (urbanisasi, transmigrasi, perubahan ekonomi dll).

3. Dampak dari pergeseran bahasa (hilangnya bahasa ibu/leluhur)
Dampak hilangnya suatu bahasa bagi penggunanya dapat berupa:
• Kekagetan/ cultural shock
• Perilaku anti sosial dan hilangnya percaya diri

4. Gejala-gejala kepunahan suatu bahasa
Gejala-gejala awal punahnya suatu bahasa adalah sebagai berikut:
• Penurunan drastis jumlah penggunanya
• Berkurangnya wilayah atau lingkungan dimana bahasa tersebut digunakan
• Kaum muda tidak mau lagi menggunakan bahasa tersebut
• Berusaha mempertahankan identitas etnis tetapi tanpa menggunakan bahasa asli
• Mulai hilangnya dialek-dialek tertentu
• Pengguna-pengguna yang ada kurang memahami bahasanya
• Munculnya suatu bahasa campuran (Creole)

5. Tahapan-tahapan bahasa di ambang kepunahan
di sebuah seminar di Jerman pada Pebruari 2000, para ahli bahasa terkemuka mendeskripsikan tahapan bahasa di ambang kepunahan, sebagai berikut:
• Critically endangered, pengguna atau penuturnya tinggal sedikit sekali dan semuanya berumur lanjut (di atas 70 tahun)
• Severily endangered, semua penuturnya berusia di atas 40 tahun
• Endangered, penutur bahasanya hanya yang berumur di atas 20 tahun (hanya oang dewasa)
• Eroding, penutur bahasa adalah sebagian anak-anak dan orang dewasa, anak-anak yang lain tidak menggunakan bahasa tersebut
• Stable but threatened, anak-anak dan orang dewasa masih menggunakannya tapi jumlah penuturnya sedikit
• Safe, tidak berada dalam keadaan berbahaya, bahasa dipelajari oleh anak-anak dan pengguna lainnya dalam suatu kelompok etnis.

6. Bagaimana mencegah hilangnya suatu bahasa
Ada beberapa kelompok di dunia yang dengan bantuan ahli-ahli bahasa mencoba meningkatkan populasi pengguna bahasa asli melalui penerbitan bahan-bahan ajar termasuk audio kaset, kamus, koran, pelajaran di sekolah, kursus-kursus untuk orang dewasa, program radio/televisi dan sebagainya. Ini mencapai beberapa keberhasilan. Tapi yang paling penting yang dapat dilakukan untuk melestarikan bahasa adalah kepedulian orang tua untuk tetap menggunakan bahasa ibu/leluhur (mother-tongue) bila berbicara di rumah.

NASIB BAHASA TONDANO
Nah, bagaimana dengan bahasa Tondano (dan bahasa-bahasa puak lainnya di Minahasa)?
Kalau kita mengacu pada tulisan diatas, jelaslah bahwa bahasa Tondano dan bahasa daerah lainnya di Minahasa sudah di ambang kepunahan, dan benar-benar akan punah bila dibiarkan seperti sekarang.
Sesuai deskripsi tahapan atau tingkat kepunahan diatas dan faktor-faktor penyebabnya, kita dapat menyimpulkan sebagai berikut:
• Faktor penyebab pertama adalah migrasi penduduk keluar daerah (ke kota Manado dan keluar daerah Sulawesi Utara), ke lingkungan dimana tidak ada penggunaan bahasa daerah kecuali di dalam rumah sendiri
• Kedua, penggunaan bahasa nasional di sekolah-sekolah, yang menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang utama (superior)
• Ketiga, orang tua tidak mengajarkan bahasa leluhurnya kepada anak-anak, terutama mereka yang sudah bermukim di luar daerah (di Jawa), karena menganggap bahasa daerah tidak berguna di lingkungan tersebut
• Kebutuhan akan penguasaan bahasa-bahasa asing (Inggeris, Mandarin dsb). menyebabkan tidak ada waktu lagi untuk belajar bahasa asli daerah
• Yang paling menyedihkan, orang-orang tua tidak menguasai bahasa asli/daerahnya lagi (sejak lahir tidak bisa, contoh orang Manado kaart)
• Telah terciptanya suatu bahasa dagang dan pergaulan yang digunakan semua anak suku (puak) di Sulawesi Utara (bahasa Melayu Manado) yang ternyata sangat populer
Kemudian bagaimana tahapan/penyebaran awal kepunahan ini?
• Kita boleh bersyukur, bahwa di kampung-kampung di Minahasa, bahasa asli masih digunakan oleh penduduknya, termasuk anak-anak. Mungkin di sana tahapannya adalah Stable but Threatened, karena jumlah penduduknya/penggunanya tinggal sedikit.
• Kebanyakan penduduk Minahasa sudah bermukim di kota, dimana bahasa sehari-harinya adalah Melayu Manado. Tahapan kepunahan di sana adalah Endangered dan Severely endangered.
• Kemudian kita perhatikan orang-orang Minahasa yang hidup di perantauan (kebanyakan di Jawa) dan sebagian besar dari mereka lahir di luar Minahasa (Manado kaart). Tahapan di sini adalah critically endangered (mereka yang keluar dari Minahasa waktu masih muda) dan sudah punah (lahir di Jawa, bahasa Melayu Manado pun patah-patah).
Di daerah-daerah, sudah mulai digalakkan lagi mata pelajaran bahasa daerah di sekolah-sekolah dasar. Sungguh suatu kabar menyegarkan. Namun haruslah diupayakan, bahwa anak-anak yang sudah belajar berbahasa daerah di sekolah, meneruskannya dalam kehidupan sehari-harinya, walau mereka pergi merantau ke manapun. Diupayakan mereka mengajarkannya kepada anak-anak mereka di kemudian hari. Diupayakan mereka menghargai bahasa aslinya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat istimewa.
Dan bagi orang-orang dewasa Minahasa (termasuk orang Tondano) saat ini? Masih ada waktu, bagi yang tidak menguasai bahasa leluhurnya untuk segera belajar dan menggunakan bahasa daerah. Orang Tondano haruslah bangga bila mereka fasih berbahasa asli, sama bangganya dengan orang-orang suku lain di Indonesia (Jawa, Sunda, Batak dll) karena itulah identitasnya, kepribadiannya, percaya dirinya! PS.