Minggu, 21 Agustus 2011 – 22:07 WITA Telah dibaca 2121 kali

dari Pengucapan Minahasa Raya

Kemacetan Touliang Oki Dipicu Parkir Sembarangan

Kemacetan dan pengucapan merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan. di saat ribuan orang menyerbu desa-desa yang menggelar acara yang kerennya disebut "thanksgiving" day, ratusan kendaraan berderet memenuhi jalan-jalan menanti giliran lewat karena padatnya kendaraan. Hal ini terlihat juga dalam pesta pengucapan Minahasa Raya yang digelar hari ini, Minggu (21/8). Sebagaimana yang sering terlihat, kemacetan memenuhi sebagian besar jalanan di Minahasa.

Selain kendaraan yang padat di ibukota Tondano, kemacetan juga nampak di ruas-ruas jalan di berbagai kecamatan yang ada di daerah itu, seperti di kecamatan Eris dan Kombi. Kemacetan yang terjadi di desa Touling Oki, bahkan melewati beberapa desa, mulai Ranomerut, Tandengan hingga mencapai desa Eris. Sayangnya, di lokasi ini, kemacetan justru dipicu oleh kesemrawutan pengemudi memarkir kendaraannya hingga mengganggu arus lalu lintas yang datang dari berbagai penjuru di kecamatan Eris.

"Macet karena oto-oto diparkir sembarang. Acaranya nyanda jelas", aku Edi, pengemudi kendaraan yang akhirnya membanting setir melewati Rerewokan Tomohon untuk mencapai kota tujuan, Manado. "Biasa, pengucapan tanpa macet nyanda berkesan", tambah Ike, pengemudi dengan tujuan yang sama melalui telepon.

Kemacetan yang menghambat arus lalu lintas balik arah di saat pengucapan syukur memang selalu menjadi masalah. "Biar kwa plang-plang asal bajalang, oke-oke saja", seru Ray, pengunjung asal Manado yang akhirnya memilih pulang Manado melewati Kora-kora. Dirinya mengakui memang memakan waktu yang lama untuk menyisir garis pantai timur Tondano itu, belum lagi waktu yang ditempuh dari Eris untuk mencapai pantai Tondano. "Maar lebe bae bagitu daripada stress di Tataaran (pusat macet Tondano-red)", tambahnya.

Robby, seorang penduduk Manado yang ditemui di Tondano mengatakan bahwa dirinya terkesan dengan pengucapan Minahasa beberapa tahun sebelumnya, di mana di pusat-pusat macet pernah diantisipasi dengan pemberlakuan jalur satu arah. "Ternyata hal itu tidak terlihat saat ini. Hasilnya, kemacetan di mana-mana", sesalnya. Namun demikian, dirinya puas karena momentum pengucapan jadi wadah untuk bertemu dengan sanak saudara dan kerabat di Tondano dan sekitarnya.

"Kalu mo pikir, torang datang jao-jao cuma for macet di jalang kong mo makang dua tiga piring. Paling juga pulang bawa dodol deng nasi jaha secukupnya. Maar, depe senang katu mo ketemu deng tu keluarga di kampung", pungkasnya.