Sabtu, 3 Maret 2012 – 18:44 WITA Telah dibaca 2532 kali

Ikan Raja Laut dan Payangka Danau Tondano Masuk Daftar Apendiks CITES

Beberapa spesies ikan, karang dan organisme laut endemik SULUT bakal dimasukkan dalam daftar Apendiks CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora: Konvensi Perdagangan Internasional Tumbuhan dan Satwa Liar Terancam Punah).

Spesies tersebut ialah, Ikan Raja Laut Coelacanth (Latimeria Manadoensis), kuda laut mini (Hyppocampus Mimicry), beberapa spesies coral (karang), dan ikan endemik air tawar, Payangka (Ophieleotoris aporos (Bleeker)) yang hanya ditemukan di Danau Tondano. Daftar spesies hewan air endemik ini akan masuk Apendiks CITES setelah dilakukan pendataan identifikasi jenis-jenis ikan langka oleh tim gabungan dalam konservasi jenis ikan langka dan endemik di Hotel Gran Central Manado, Rabu (29/2).

"Memang selama ini spesies-spesies ini sudah diketahui langka namun perlu dilakukan langkah-langkah konservasi. Hasil identifikasi menunjukkan, spesies Coelacanth, kuda laut, Payangka dan beberapa karang ini akan dimasukkan bersama 15 spesies ikan dan karang yang sudah diidentifikasi tim pusat. Pemerintah daerah diminta melakukan identifiksi dan SULUT mendapatkan spesies-spesies di atas", ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) SULUT, Ir H Korah melalui Kabid Pengawasan Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Ir Ronald Sorongan.

Selanjutnya, Coelacanth Cs dari SULUT dan 15 spesies lainnya akan diusulkan ke Kementrian KP untuk dibuatkan Surat Keputusan (SK) sebagai spesies langka. "Namun sebelum diusulkan ke Menteri Kelautan (dan Perikanan), kita di SULUT akan meminta pengesahan berupa SK Gubernur yang mengatur konservasi dan pemanfaatan sebagai legal standing (dasar hukum)", ujar Sorongan.

Sambil menunggu proses pengesahan dari Gubernur dan Kementrian KP, tim yang melakukan identifikasi di bawah kordinasi DKP akan melakukan sosialisasi dan penelitian lanjutan terkait zona inti, zona pemanfaatan dan hal-hal terkait penyelamatan spesies-spesies ikan dan karang langka tersebut. "Sosialisasi bisa berupa turun langsung ke masyarakat, membuat pamflet, selebaran dan mass media", katanya.

Ia menjelaskan, suatu spesies yang dikategorikan masuk konservasi, bukan berarti tak bisa dimanfaatkan sama sekali. Karenanya, DKP akan membuat penelitian agar bisa memetakan wilayah konservasi, kawasan penyanggah, zona inti dan pemanfaatan. "Akan dikaji kapan musim ikan kawin, bertelur, memijah dan bertumbuh sehingga bisa diketahui pemanfaatannya seperti apa. Semisal ikan Payangka, jangan sampai, ikan sedang bertelur, atau masih kecil sudah ditangkap. Karena itu perlu zona inti yang memang tak bisa dilakukan aktivitas penangkapan dan zona pemanfaatan", katanya.

Identifikasi ikan langka dilakukan sebagai tindak lanjut ditetapkannya Manado sebagai Sekretariat Coral Triangle Initiatives (CTI), segi tiga terumbu karang dunia. "Ini dampak dari pelaksanaan Konferensi Kelautan Dunia, WOC-CTI Summit tahun 2009 silam", tukasnya.

Tim yang melakukan identifikasi ikan langka berasal dari DKP SULUT, DKP 15 kabupaten kota se-SULUT, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Kementrian Kelautan dan Perikanan, Balai Perlindungan Pengolahan Pesisir Makassar, Dewan Pengelola Taman Nasional Bunaken (DPTNB), Balai Pengelola Taman Nasional Bunaken (BPTNB), WWF, WCS, Komunitas Peduli Laut (KPL), dan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Sam Ratulangi Manado (Unsrat).