Kamis, 14 Maret 2013 – 15:04 WITA Telah dibaca 2012 kali

Catatan Veldy Umbas

Menyambut Pemimpin Baru; Menuju Minahasa Yang Luar Biasa...

Veldy R. Umbas
Leaquea Houtman sejenak tertegun. Si ikal pirang jangkung ini menahan nafas sejenak. Matanya juling menerawang jauh kebelakang dan seolah mengembalikan memori masa silam ketika leluhurnya dulu mengeksplorasi tanah Minahasa. dari dalam ketulusan batin dia berujar. "Oh men, this is paradise. This is absolutely incredibly".

Mahasiswi Erasmus University Rotterdam ini mengaku wajar kalau moyangnya dulu kepincut dengan tanah Minahasa. Bersama sahabat saya, Robby Ong yang seorang pengusaha restoran langsung menimpali. "God is singing and whistling while His creates Minahasa". Baik Houtman dan Ong, melihat Minahasa adalah sebuah tempat yang sangat disayangkan apabila potensinya yang luar biasa indah dan subur, dibiarkan saja menjadi tempat yang berantakan.

Bukan Minahasa kalau, Josph Kam tidak memberi pujian selangit ketika mengijak kakinya di patai Kora-kora. Atau ketika Graafland melukis setiap lekuk guratan alamnya dalam sebuah catatan perjalanan yang nampak mengasyikan. Meski ketika kita menyebut Minahasa, kini kita perlu memberi penekanan bukan saja pada batas-batas wilayah teritorial pemerintahan saja tapi juga pada perpektif sosiokultural sebuah entitas budaya Minahasa. Tetap saja, Minahasa dalam segala penjuru mata angin, utara, selatan, tenggara atau tengah, adalah satu bagian utuh dari kedaulatan kultural bangsa Minahasa yang memiliki keunikan budaya, alam dan bahkan karakternya.

Dalam konteks Kabupaten Minahasa, jelas merupakan satu kesatuan utuh yang memang secara batas teritorial penyelenggaraan pemerintahan kabupaten kini seolah meninggalkan beberapa stigma yang kurang sedap, karena pembangunannya yang terkesan lebih lambat dibanding beberapa tetangganya yang merupakan "anak dan cucu kandung" yang lahir dari rahim ibu pertiwi Minahasa Raya.

Label miring "kota mati" untuk ibu kota Minahasa, Tondano dan beberapa kota-kota satelit di sekelilingnya jelas menjadi asumsi sekaligus fakta kurang sedap bahwa Minahasa tak terkelola dengan baik sehingga alih-alih menjadi kabupaten terkemuka sebagai wilayah pemerintahan tertua di tanah Toar-Lumimuut justru kabupaten Minahasa melambat dan ekonominya tak bergairah sehingga yang terjadi adalah arus urbanisasi di mana Minahasa sebagai daerah perdesaan bergerak ke Manado sebagai wilayah metropolitan.

Beruntung, sebentar lagi kabupaten Minahasa segara menyongsong kepemimpinan di era baru, setelah kurang lebih 10 tahun terakhir dinilai tanpa perkembangan yang berarti. Kali ini, kontestasi politik dalam sistem demokrasi langsung di mana rakyat Minahasa diberi kesempatan mengeksekusi keputusan nuraninya pada bulan desember 2012 silam, telah menghasilkan kepemimpinan baru, yakni pasangan Drs. Jantje Wowiling Sajow dan Ivan Sarundajang (JWS-Ivansa).

Sebagai tou (orang) Minahasa, tentu kita patut mengucapkan terima kasih yang sedalamnya kepada sebelumnya yakni Drs. Stevanus Vreeke Runtu atas kiprahnya sebagai pemimpin kabupaten Minahasa untuk kurun waktu satu dekade. Atas segala kelebihan dan kekurangan, tentu kita hargai sebagai bagian dari proses membangun kabupaten Minahasa. Namun, dalam konteks pengembangan pembangunan untuk perubahan ke arah yang lebih baik, tentu kita akan lebih banyak berharap pada pemimpin yang baru.

Sebuah harapan agar kabupaten Minahasa yang nota bene adalah "orang tua" kepemerintahan di seantero Minahasa Raya, bisa seimbang antara senioritas dan perkembangan pembangunan yang selama ini berkesan tidak berbanding lurus dan lebih melempem. Tentu, dengan indikator yang lebih fair dan obyektif untuk mengukur tingkat pencapaian yang diharapkan mendongkrak harapan masyarakat Minahasa ke arah yang lebih baik.

Karena itu, pemimpin baru kini memiliki beban tanggunjawab yang tidak mudah demi mewujudkan harapan masyarakat Minahasa lima tahun kedepan. Harapan atas pembagunan secara umum, baik di bidang ekonomi, sosial dan pengembangan sumber daya manusia.

Semisal, meningkatkan indeks pembangunan manusia, dengan rata-rata peserta belajar di tingkat SMU dan perguruan tinggi yang meningkat. Pendapatan rata-rata masyarakat yang meningkat. Pelayanan publik dan kesehatan yang membaik. dan pembangunan sistem sosial yang aman, kondusif, serta memberi tempat bagi ruang-ruang sosial dan kebudayaan tumbuh untuk kesejahteraan masyarakat Minahasa.

Semua keping-keping harapan ini tentu sudah menjadi bagian dari visi dan misi yang disodorkan tim JWS-Ivansa. Tentu khalayak akan menunggu gagasan dan tindakan konkrit pasangan ini untuk mewujudkan kabupaten Minahasa yang lebih baik. Masalahnya kemudian adalah, bagaimana program-program itu dapat diwujudkan. Bagaimana cara dan pola dalam mewujudkan program-program tersebut.

Mungkin tak ada salahnya mencontohi apa yang telah dan sementara dilakukan oleh pasangan Jokowi dan Ahok. Kalau dilihat dari program, sejatinya pasangan ini tidak memiliki gagasan yang luar biasa untuk membangun Jakarta. Namun cara pengelolaan pemerintahan yang transparan, menyerap persoalan secara langsung di masyarakat, serta pengambilan keputusan yang tegas adalah sekilas pola managemen pemerintahan Jokowi-Ahok di Jakarta.

Dalam konteks kabupaten Minahasa nanti, tentu JWS-Ivansa memiliki ciri khas sendiri. Melihat figuritas keduanya, baik JWS maupun Ivansa, tentu masyarakat berharap banyak. Apakah gaya "blusukan" atau dalam bahasa management kerap disebut M.B.A (management by walking around), atau dengan cara berbeda, tentu kedua JWS dan Ivansa lah yang lebih paham.

Paling tidak beberapa poin yang menjadi harapan masyarakat yang tersisa dari pembangunan kabupaten selama ini antara lain;

Pertama, kepemimpinan yang dwi tungal. Selama ini pola kepemimpinan di Minahasa terkesan one men show. di beberapa tempat, memang nampak jelas Bupati atau Gubernurlah yang memegang kendali utama, sementara para wakil hanyalah ban serep(reserve) yang kerap disebut pelengkap penderita.

Kedua, pola kemitraan. Dalam pola sentralistis masyarakat selama ini hanyalah menjadi subyek dari pembangunan. Benar ada proses penjaringan aspirasi masyarakat melalui proses penjaringan dari desa. Namun faktanya hal ini lebih banyak dilakukan secara formal saja ketimbang secara sungguh-sungguh dilakukan. Padahal dengan pola kemitraan, masyarakat bisa dilibatkan dalam pembangunan berbasis partisipatif.

Ketiga, penyelenggaran dan pengelolaan pemerintahan yang baik dan bersih. Good governance dan clean goverment selama ini hanyalah slogan yang lebih besar gemuruhnya ketimbang kenyataannya. Karena itu, lima tahun kedepan menjadi peluang bagi kedua pemimpin ini untuk membuktikan keseriusan mereka mengelola pemerintahan dengan baik dan benar serta bebas dari korupsi.

Keempat, memberi ruang pada kreativitas sosial dan budaya bagi masyarakat. Masyarakat Minahasa sesungguhnya adalah masyarakat yang kreatif dan memiliki nilai-nilai kultural sebagai kearifan lokal yang sangat potensial didukung untuk berkembang menuju pada peradaban yang gemilang. Minahasa dalam komunitas sosial sungguh memiliki modal sosial yang sangat memadai sebagai syarat bagi masyarakatnya, seperti slogan si tou timou tumou tou, sistem sosial mapalus, dan berbagai kearifan lokal lainnya akan sangat bermanfaatkan untuk menjadi kabupaten yang produktif dengan tetap mengedepankan nilai-nilai lokal.

Kelima, komitmen dan konsistensi untuk mewujudkan visi dan misi. Stabilitas konsistensi sebagai komitmen untuk mewujudkan masyarakat yang lebih baik terkadang kandas manakala kepentingan politik datang melilit. Sebagai pemimpin yang dipilih oleh masyarakat, tentu diharapkan pertanggungjawaban morilnya adalah kepada masyarakat sebagai empunya kedaulatan, yang secara sakral kita menyebutnya sebagai vox pupuli vox dei.

Beberapa hal ini tentu hanyalah sepenggal harapan dari sejumput masalah yang diharapkan untuk diurai oleh kepemimpinan yang baru. Harapan yang menggebu dari masyarakat tentu menjadi momentum bagi pasangan dwi tunggal ini untuk mewujudkan kabupaten Minahasa sebagai the highest recoqnized kabupaten di Indonesia timur. Kawan saya, Leaquea Houtman pun berpesan sebelum meninggalkan daerah yang disebutnya paradise; My friend, you are very lucky. But you will be more fantastic if you make this blessed Minahasa become the real paradise in Minahasa. (Kawanku, kalian sungguh beruntung, tapi kalian akan lebih diberkati lagi kalau Minahasa yang diberkati ini benar-benar diwujudkan menjadi "surga" yang nyata di tanah Minahasa). Minahasa yang luar biasa... Semoga.