Senin, 8 Agustus 2011 – 08:24 WITA Telah dibaca 2011 kali

Kelompok Nasionalis Tegaskan NKRI Harga Mati

Menyusul rencana dideklarasinya Gerakan Federal Indonesia di Minahasa (Gerafim) di Batu Pinawetengan, Tompaso, Minahasa, pada 18 Agustus 2011, mendatangkan kritik dari kelompok nasionalis daerah ini. Hal ini terungkap saat jumpa pers kelompok nasionalis yang dipimpin Sekjen Brigade Manguni, Renata Ticonawu, Jumat (05/08) kemarin.

Stakeholder yang hadir antaranya dari Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) SULUT, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) SULUT, Aktifis Forum Diskusi Ilmiah Mahasiswa (Fodim) Unsrat, Gerakan Mahasiswa Pemuda Indonesia (GMPI) Manado, Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) Manado, Pengamat Politik SULUT Taufik Tumbelaka.

Komitmen pertemuan yang dilandasi permufakatan, semua yang hadir menegaskan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Harga Mati.
Menurut Pengamat Politik SULUT, Taufik Tumbelaka, negara Indoensia memang menjunjung tinggi kemerdekaan mengeluarkan pendapat, tapi yang satu ini sepertinya sulit.

"Hak menyatakan Pendapat dan hak untuk berorganisasi adalah hak asasi manusia yang dijamin UU menyatakan pendapat. Tetapi aspirasi untuk mengubah bentuk negara kesatuan sulit untuk diwujudkan", papar Tumbelaka.

Karena selain bentuk negara kesatuan amanat UUD 1945, juga akan ditolak Partai Politik karena NKRI adalah salah satu pilar kebangsaan Indonesia sebagaimana diamanatkan oleh UU nomor 2/2011 tentang Parpol.
Sedangkan KAMMI SULUT menjelaskan, ada bentuk Negara federal yang sukses ada pula yang gagal, begitu juga dengan negara yang berbentuk kesatuan.

"Kegagalan dan kesuksesan lebih ditentukan kepemimpinan nasional suatu negara. Mencontoh Uni Soviet sebagai negara Federal Non Demokratis yang hancur, sementara Amerika Serikat juga negara federal dan demokratis yang sekarang punya hutang besar pada Cina. Sebaliknya Cina sebagai negara sentralistik dan one party system dan non demokratis menjadi negara makmur dan negara yang sukses memanfaatkan peluang tantangan globalisasi", urai Alwan dibenarkan aktifis SOKSI Manado.

BMI dan Fokusmaker menegaskan, pihaknya akan menghadapi siapa saja kelompok maupun individu yang mencoba merongrong NKRI dan Pancasila.
"Pada Hakekatnya aspirasi ini berlatar belakang ketidak puasan atas keterbelakangan daerah. Oleh karenanya kami menjelaskan BMI akan menjadi Garda Terdepan dalam menghadapi kelompok yang mencoba merongrong NKRI", ujar Renata Ticonuwu.

Dukungan serupa datang dari Ketua GP Ansor SULUT yang juga Anggota DPRD SULUT, Benny Rhamdani. kepada harian Media SULUT dia mengatakan, dirinya mendukung pernyataan yang telah dikemukakan kelompok nasionalis daerah ini.

"GP Ansor siap berada bersama dibarisan terdepan untuk menghadapi kelompok federal, dan Bert Supit janganlah Bermimpi dan Berhalusinasi untuk mengubah NKRI menjadi Negara Federal. Karena hal itu tidak mungkin", cetus Rhamdani.