Rabu, 22 April 2015 – 01:27 WITA Telah dibaca 3574 kali

Pabrik Playwood di Kaima Kekurangan Kayu Log

Kegiatan di Pabrik Plywood di Desa Kaima Kabupaten Minahasa Utara
SUARAMANADO, Minut. Keberadaan Pabrik Plyawood PT. Global Amara Prima (GAP) di desa Kaima Kabupaten Minahasa Utara terpantau masih kekurangan bahan baku kayu bulat (log) sehingga operasional perusahaan tidak berjalan maksimal dan sering karyawan dirumahkan menunggu bahan baku, baru ada kegiatan lagi.

Kekurangan bahan baku ini diakui kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Minahasa Utara Ir. Jopy Lengkong. Menurutnya, permasalahan budaya orang di SULUT belum terbiasa dengan menanam kayu kebutuhan pabrikan, hal ini masih barang baru dan belum terbiasa. Beda dengan di Jawa, contoh di Kabupaten Temanggung ada 13 Pabrik kayu dengan wilayah tidak seluas Kabupaten Minahasa Utara. Mereka lebih suka tanam kayu dari pada tanaman lainnya yang dinilai sangat menguntungkan. Sebetulnya dengan lusan 2.000 Ha tanaman kayu dapat supply kebutuhan 1 pabrik kayu lapis.

Dari hasil hitung-hitungan perbandingan hasil tanam kelapa dan kayu, sebetulnya tanam kayu jauh lebih menguntungkan. Jika dihitung dalam 1 Ha tanaman kayu dibanding dengan 1 Ha tanaman kelapa, hasil kayu 4 kali lipat dari hasil kelapa. Contoh; 1 ha kelapa dapat produksi kopra 1,2 ton/ tahun X Rp. 7.000 /Kg = Rp. 8,4 juta X 6 thn = Rp. 50 juta. Kemudian 1.000 phn kayu/Ha menghasilkan 300 M3, (atau 0,3 m3 /phn) X Rp. 750.000 /M3 = Rp. 225 juta/Ha selama 6 tahun. Jadi hasil kelapa 6 tahun dibanding hasil dari kayu ada selisih Rp. 175 Juta, maka lebih untug tanam kayu.

Minut miliki 45.000 Ha kebun kepala dan 60% tidak produktif lagi, jadi sekitar 30 ribu Ha. Jika ditanam kayu maka akan menghidupkan lebih dari 1 pabrik kayu di Minut. Jelas Lengkong. Hingga saat ini Pabrik baru hasilkan bentuk vernir kemudian dikrim ke P. Jawa karena untuk proses menjadi Plywood masih butuh bahan baku lebih banyak lagi. Pengiriman ke Jawa juga butuh biaya transport untuk diproses jadi triplex kemudian di eksport.

Seharusnya produksi triplex di Minut dapat terealisasi jika bahan baku tersedia sehingga kebutuhan tripleks di SULUT tidak perlu datangkan dari Jawa. Kedepan posisi SULUT di bibir pacific menguntungkan perushaan jika melakukan eksport ke Jepang dan China sebagai Negara tujuan export, jadi jangka panjang sangat berpeluang dikembangkan.

Ditambahkan Jopy Lengkong, pihaknya selaku Dinas yang bertanggung jawab dalam pengawasan peredaran kayu di Minahasa Utara, secara rutin mengecek waskanis, pengawasan internal perusahaan untuk memeriksa kelengkapan document kayu. Diakui Lengkong, tidak mungkin pegawai Dishut 24 jam dilokasi pabrik, maka ada orang perusahaan yang ditunjuk untuk pengawasan legalitas kayu sesuai UU. Sesuai aturan UU perusahaan menujuk orang sebagai pengawas internal perusahaan yang telah bersertifikat Balai Pengujian Kayu di Palu.

Secara rutin di lakukan pengecekan ke pabrik dari Dinas Kehutanan Kabupaten Minut terkait dokumen kayu baik bentuk log dan hasil playwood. Dijelaskan lebih lanjut. dengan mengacu PP 30 maka dokumen angkutan dapat berupa Nota angkutan untuk penggunaan sendiri, Nota angkutan untuk 23 jenis kayu termasuk kelapa dan dokumen SKAU dikelurakan petugas Dinas dan atau Kepala Desa yang telah dilatih untuk keluarkan SKAU. dari Dinas Kehutanan tidak membatasi ukuran kayu di pabrikan tergantung peralatan yang terpasang di pabrik.

Ditambahkan, sesuai RPBBI atau Rencana Pemenuhan Bahan Baku Industri PT.GAP dapat mendatangkan kayu dari luar propinsi SULUT untuk kebutuhan bahan baku log. Diharapkan nanti Tahun 2017 baru boleh panen kayu yang ditanam di Kabupaten Minahasa Utara untuk kebutuhan pabrikan, yang selama ini masih bergantung kayu dari kebun warga. (jansen)