Jumat, 6 Mei 2011 – 10:02 WITA Telah dibaca 3117 kali

Usaha Pelestarian Seni Tradisional SULUT Perlu Digalakkan

Kompetisi Seni Tradisional SULUT Dinilai Masih Kurang

Musik Kolintang menjadi salah satu pertunjukkan dalam
kolintang

Kesenian tradisional Sulawesi Utara yang sangat dibanggakan di luar daerah bahkan luar negeri, justru terpuruk di negeri sendiri. Saat ini, kompetisi musik dan tarian tradisional semakin jarang digelar, sementara kompetisi modern, seperti kontes idol justru marak.

Hal ini memunculkan keprihatinan masyarakat seni tradisional Manado dan Sulawesi Utara khususnya. Salah seorang pemerhati kesenian tradisional Sulawesi Utara, Vivi Kumaat mengaku mengkhawatirkan semakin hilangnya penguasaan budaya tradisional SULUT di kalangan anak muda.

Kepada SUARAMANADO, Jumat (6/5) lewat telepon, Vivi menyatakan bahwa saat ini banyak anak muda, yakni anak-anak sekolah SD, SMP dan SMA bahkan mahasiswa kurang menguasai lagu-lagu daerah SULUT, tapi sangat menguasai lagu pop barat dan Indonesia. "Biar panjang syairnya dapat dihafal dgn cepat, padahal nilai jual SULUT di dunia luar salah satunya seni tradisional yang sangat dihargai oleh orang luar Manado", serunya.

Ditambahkan Vivi lagi, "banyak anak muda Manado dan SULUT tidak tahu tari-tarian sejenis Maengket atau tidak tertarik memainkan musik kolintang, musik bambu dan musik bia serta Makaaruyen", ujar Vivi Kumaat, guru seni musik di SMA Negeri 1 Amurang, Minahasa Selatan, yang juga mantan juara bintang vokalia pop se SULUT.

Menurut puteri budayawan SULUT yang juga mahir melakoni tari-tarian tradisional SULUT ini, seni bisa bertahan bila dilakoni oleh insan daerah sendiri. "Kompetisi dan ajang kontes seni tradisional harus digalakkan. Sayang sekali jarang terjadi karena kurangnya sponsor. Mungkin pemerintah bisa membantu menggalakkannya", harap Vivi.