Rabu, 13 Februari 2013 – 21:04 WITA Telah dibaca 1288 kali

Jalan Nasional di Lelema Butuh Perhatian Dua Direktorat

Amrulnya Badan Jalan Nasional di Desa Lelema Kabupaten Minahasa Selatan
SUARAMANADO, Minsel. Kondisi jalan di desa Lelema Kecamatan Tumpaan Kabupaten Minahasa Selatan yang nyaris putus akibat terjangan banjir sungai Limanga, semakin memprihatinkan bahkan rawan terjadi kecelakaan lalulintas. Hujan yang menguyur Sulawesi Utara beberapa waktu lalu akhirnya melahirkan anaknya beurpa Banjir bandang dan tanah longsor.. Salah satu lokasi yang mengalami dua kondisi buruk secara bersamaan yaitu banjir bandang dan longsor yaitu di desa Lelema.

Banjir Sungai Limanga atau lebih dikenal dengan jembatan Maruasey, tidak saja menyapu berbagai tanaman pertanian di sepanjang bantaran sungai tersebut, Jjuga menyebabkan poros jalan Tanawangko – Tumpaan sebagai jalur trans Sulawesi mengalami longsor hingga setengah badan jalan.

Pantauan media ini di titik lokasi longsor desa Lelema, tampak sejumlah aparat kepolisian dan dinas perhubungan Kabupten Minahasa Selatan siap siaga mengatur jalur lalulintas untuk secara bergantian kendaraan melintasi titik longsor baik dari arah Tanahwangko maupun dari arah Tumpaan.

Di titik longsir sepanjang kurang lebih 50 meter, diberlakukan jalur satu arah saja. Jika pemgemudi tidak berhati-hati maka mobil bisa masuk ke sungai. Diloksi yang sama terdapat dua titik jalan yang mengalami ambrol di bagian tepi sungai hingga setengah badan jalan.

Dikwatirkan kondisi ini akan semakin parah lagi mengingat musim hujan yang akan terus turun hingga di pertengahan bulan Februari 2013.Pihak PU dalam hal ini Balai Pelaksana Jalan Nasional XI sebagai penanggung jawab ruas jalan ini, melakukan tanggap darurat dengan memperlebar sisi darat agar arus lalulintas tidak terhalang atau masuk selokan.

Kepal Dinas PU Kabupaten Minahasa Selatan Ir. Jootje Tuerah, diruang kerjanya mengamini kondisi jalan yang rusak berat terebut. Walau jalan tersebut berada dalam wilayah Kabupaten Minahasa Selatan, tetapi pihaknya tidak dapat berbuat banyak.

Hal ini lebih disebabkan poros jalan Tanawangko – Tumpaan yang mengalami ambrol merupakan jalan nasional yang menjadi kewenangan pihak BPJN XI. Ditambahkan,Otje, sapaan akrabnya, perbaikan jalan pada titik longsor di desa Lelema, tidak hanya menjadi kewenangan Direktorat Bina Marga saja, tetapi harus melibatkan Direktorat Sumber Daya Air.

Pasalnya, jika hanya sisi jalanya yang diperbaiki pasti akan mengalami longsoran yang sama atau jalannya ambrol akibat aberasi air sungai, terutama saat banjir bandang datang. Untuk itu ada baiknya jika sisi sungai mendapat perhatian juga dalam memperbaiki bantaran sungai melalui nomalisasi sungai.

Menurut, Otje, di sungai Limanga ini terdapat bendungan yang dikenal dengan Bendungan Sulu Paslaten yang hanyut dibawah banjir pada tahun 2006 yang lalu. Tetapi sayangnya hingga saat ini belum ada penanganan pasca bencana. Jika tidak segerah diperbaiki, maka dipastikan lahan persawahan di desa Lelema akan semakin kesulitan air. (Jansen)