Senin, 16 Januari 2012 – 08:39 WITA Telah dibaca 866 kali

Manado Bangun Budaya Tertib

Tertib di Jalan Dimulai dari Tertib di Rumah

Seorang pengendara melanggar arah jalur yang sudah ditentukan.

Budaya tertib sedang dibangun pemerintah kota Manado untuk Manado yang lebih baik dan menyenangkan sebagaimana visi dan misi pemerintah kota saat ini. Namun perlu disadari, budaya antre tidak saja berlaku di dalam ruangan tetapi mungkin lebih banyak ditemui di jalan raya. Coba lihat kendaraan yang lalu lalang setiap harinya. Setiap orang yang hendak berangkat ke tempat kerja dan meng-antree di dalam ruangan pasti akan akan melewati jalan raya setiap harinya. di jalan, masih banyak kendaraan yang saling silang dan parkir sembarangan. Padahal, sama seperti orang yang berjalan kaki yang punya etika dan sopan santun, cara lalu-lalang kendaraan di jalan raya juga punya etika tersendiri.

Di jalan kebanggaan Sulawesi Utara, jalan raya Airport, sama seperti hari-hari sebelumnya, Senin pagi (16/1) terlihat sibuk. Kesibukan jalan raya masih saja terganggu dengan ulah beberapa pengguna jalan yang seenaknya menggunakan jalan tanpa memperhatikan rambu-rambu yang sudah ditetapkan. Masih banyak pengendara motor yang melintasi lajur secara berlawanan dengan jalur yang sudah ditetapkan berlaku untuk jalan dua jalur itu.

"Lia jo ada petugas yang melanggar. Kalu kwa bagitu musti keluar rumah lebe fruk supaya nyanda buru-buru di jalan", ungkap Ketty, seorang pengguna jalan yang setiap harinya melintasi jalan tersebut menuju ke tempat kerja di pusat kota. Menurut Ketty, jika disiplin di rumah terpelihara, maka hal itu akan terbawa hingga ke luar rumah.

Erwin Pohe, pengamat sosial Sulawesi Utara justru berpendapat bahwa disiplin di jalan dimulai dari pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM). "Kalau semua tahapan (pembuatan SIM) dilalui dan dipahami dengan baik, pelanggaran (lalu lintas) akan berkurang", ungkap Pohe kepada SUARAMANADO belum lama ini.

Budayawan Sulawesi Utara, Harry Kawilarang berpendapat lain lagi. Menurutnya kemacetan di Manado memicu banyak masalah. Dirinya menyalahkan pembangunan mal-mal di pusat kota Manado yang menyebabkan kepadatan di daerah tersebut hingga memicu kemacetan. "Itu mal-mal yang beking macet", serunya.

Walikota Manado, GSV Lumentut beberapa waktu yang lalu mengakui bahwa membangun budaya tertib merupakan suatu hal yang berat. "Saya tahu ini (membangun budaya bersih dan tertib-red) sulit. Tetapi, jika tidak sekarang, kapan lagi", ungkapnya.