Senin, 13 Mei 2013 – 09:43 WITA Telah dibaca 525 kali

Menjelang Tri Suci Waisak Umat Buddha

Waisak Jadikan Umat Buddha Sejati

Pandita, Arifin, SH.
SUARAMANADO, Manado. Tepat pukul 12.24.39 WITA hari Sabtu, Tanggal 25 Mei 2013 merupakan saat dimana umat Buddha di Sulawesi Utara memasuki detik-detik dalam memperingati Tahun Saka Waisak 2557 / 2013 M. untuk memperingati Tri Suci Waisak.

Tahun Saka 2557 / 2013 Masehi, yang jatuh pada hari Sabtu (25/5) umat Buddha peringati Tri Suci Waisak, dimana ada tiga hal penting yang harus diingat dan dipahami setiap umat Buddha, yaitu; Pertama, Kelahiran Pangeran Sidarta di taman Rumbini Kapewastu Nepal, India Utara 623 SM. Kedua, Pangeran Sidarta, mencapai penerangan sempurna menjadi Buddha di usia 35 Tahun. Ketiga, Siddharta Buddha mencapai Paribbana atau wafat di usia 80 Tahun.

Sebagian umat Buddha di SULUT, akan memperingati Tri Suci Waisak di Vihara Surya Dharma Kakaskasen Tomohon, atau yang lebih dikenal dengan Campus Universitas Sari Putra Indonesia Tomohon (UNSRIT), pada hari Minggu, 26 Mei,2013 nanti, dibawah pembimbing Pandita S.T. Arifin, SH. MBA. Rencananya selain dihadiri umat Buddha, juga akan dihadiri pemerintah Kota Tomohon, tokoh Agama, Lansia, UNSRIT & SMK Dharma Bakti serta undangan simpatisan lainnya.

Penting untuk menjadi renungan bagi umat Buddha dalam menyongsong hari Tri Suci Waisak yaitu; para umat Buddha, para viharawan mupun perumahtangga untuk melakukan penghormatan kepada Sang Buddha Gotama, melalui dua cara penghormatan. Yaitu secara fisik dan secara mental.

Penghormatan secara fisik dilakukan dengan cara mempergunakan berbagai benda sebagai sarana, seperti mempersembahkan bunga, dupa serta lilin di depan Buddharupang atau perwujudan Sang Buddha. Penghormatan secara mental, oleh umat Buddha dengan berusaha sungguh-sungguh melakukan ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan semakin baik perilakunya seiring dengan semakin lama menjadi umat Buddha. Sesuai Dharma, Umat Buddha lebih diutamakan melakukan bentuk pernghormatan secara mental. Seperti yang diajarkan Buddha, dimana mereka yang mengenal Beliau secara pribadi namun tidak melaksanakan ajaranNya, mereka sesungguhnya sama dengan orang yang tidak mengenal Beliau.

Sebaliknya, sekalipun dimasa depan apabila dijumpai orang yang tidak mengenal Beliau secara pribadi, namun berusaha melaksanakan ajaranNya, orang tersebut sesungguhnya telah mengenal Beliau. Inti sari ajaran Sang Buddha adalah, upayah mengurangi kejahatan, menambah kebaikan, serta membersihkan pikiran.

Mengurangi kejahatan melalui dengan menghindari 5 perbuatan buruk, Pancasila Buddhis. Yaitu; Melakukan Pembunuhan dan penganiayaan, Pencurian, Pelanggaran Kesusilaan, Kebohongan, Makan minum bahan-bahan memabukkan serta menghilangkan kesadaran.

Bentuk penghormatan secara mental kepada Buddha, melalui menambah kebaikan dengan melakukan minimal 5 kebaikan, yaitu; Mengembangkan cinta kasih dan belas kasihan, Mempunyai mata pencaharian yang tidak melanggar Dharma, Mampu menahan hawa nafsu, Mengembangkan kebenaran melalui ucapan, perbuatan serta pikiran. Mengembangkan kosentrasi dan kesadaran batin secara terus menerus.

Latihan membersihkan pikiran dilakukan dengan membentuk kebiasaan sering mengucapkan pertanyaan dalam batin; SAAT INI SAYA SEDANG APA? semakin banyak seorang mampu menjawab pertanyaan tersebut, semakin kuat pula kesadarannya akan segala tindakan, ucapan maupun gerak-gerik.

Menurut Pandita Arifin, Seorang Buddha sejati hendaknya tidak hanya memberikan penghormatan secara fisik saja, melainkan juga secara batin. Penghormatan secara fisik seperti mengikuti puja bakti di vihara.

Artinya, selama melakukan atau mengikuti kebaktian, batin dan badannya diarahkan untuk selalu berkonsentrasi pada kebajikan serta menghindari kejahatan. Keseluruhan kamma baik, jika diiringi tiga intisari Ajaran Buddha tentu akan memberi hasil yang lebih baik lagi. (Jansen)