Selasa, 6 September 2016 – 01:05 WITA Telah dibaca 470 kali

Dana PBL Dikelolah Faskel Malah Palak Dikatakan Bodoh

Pembangunan Berbasis Lingkungan Tahun 2015 Yang Gagal
SUARAMANADO,Manado. Sungguh malang nasib seorang Kepala Lingkungan atau Palak di Kota Manado " Sudah jatuh tertimpah tangga pulah ". Nasib seperti ini terpaksa dialami sejumlah Palak terkait pengelolaan Dana Pembangunan Berbasis Lingkungan (PBL) yang menjadi andalan Pemkot Manado untuk kesejahteraan warga kota.

Pasalnya program Walikota G.S.Vecky Lumentut yang bertujuan memberdayakan masyarakat di tingkat Lingkungan dengan program PBL, justru membawah perpecahan ditengah masyarakat bahkan berpotensi hingga pada proses hukum atas dugaan penyelewengan dana PBL tersebut.

Satu contoh kasus yang terjadi di Kelurahan Malalayang Dua Kecamatan Malalayang, yaitu ditengarai oknum Fasilitator Kelurahan berinisial PK melakukan tindakan mengambil alih pekerjaan Fisik di Kelurahan Malalayang Dua.

Pengakuan warga setempat yang data dirinya tidak mau dipublikasi merasa telah diperdaya oknum PK, dimana Dana PBL yang masuk kerekening Pokmas di Bank SULUT saat pencairan langsung diambil alih oleh oknum PK dengan berbagai dalih sehingga Dana tersebut dapat dikatakan hanya numpang lewat direkening Pokmas.

Parahnya lagi uang tersebut tidak satu rupiah pun tersisah ditangan penghurus Pokmas tapi pekerjaan fisik berupa Pavingnisasi jalan lingkungan ada yang belum dikerjakan hingga saat ini sudah mau akhir tahun 2016. Diakui sumber bahwa telah beberapa kali dimintakan agar oknum Faskel segerah menyelesaikan pekerjaan dimaksud.

Saat ditemui, Oknum PK selaku Faskel Kelurahan Malalayang Dua dengan tegas membantah kalau dirinya yang mengelolah Dana PBL, kami sebagai Faskel hanya memberi pendampingan disetiap Lingkungan jadi masalah Dana ada di Pokmas, jelas PK alias Pretty.

Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Kota (BPMK) Manado Spener Tahulending saat dikonfirmasih media ini, agak kaget mendengar ada Faskel yang mengelolah Dana PBL. Harusnya Pokmas di masin-masing Lingkungan yang mengelolah dana tersebut baik pembayaran material dan biaya lain. Tambah Spener, jika hal itu benar maka Palak yang bodoh, kenapa menyerahkan uang tersebut kepada Faskel.(jansen)