Selasa, 5 Januari 2016 – 21:28 WITA Telah dibaca 599 kali

Penyebab Masih Terus Dicari

Pertamina: Lumpur Tondagou Fenomena Alam

Kekhawatiran masyarakat terkait semburan lumpur di kawasan sumur produksi kluster LHD24 Dusun Tondangow tidak perlu di takutkan secara berlebihan, pasalnya semburan tersebut hanya merupakan uap panas bersuhu 40 s/d 60 derajat Celsius tidak beracun yang bercampur tanah. Hal ini menyebabkan uap panas tersebut terlihat seperti lumpur panas namun tidak membahayakan.

Berdasarkan pentauan langsung sejumlah wartawan Pos Pemprov SULUT bersama Kepala Biro SDA Setda Provinsi SULUT DR Frangky Manumpil, Spi Selasa siang (5/1) kemarin, kondisi lapangan lokasi semburan tidak membahayakan masyarakat sekitar. Pihak Pertamina juga telah membersihkan tanah yang tercampur dengan uap air yang keluar dari dalam tanah aliran semburan uap panas tidak dialirkan ke sungai namun telah dialirkan kedalam kolam penampungan milik perusahaan.

Menurut penjelasan Humas PGE Bagus Dimas Wibisono terkait kejadian ini bahwa pihak pertamina sejak tanggal 31 Desember 2015 lalu hingga saat telah melakukan penanganan dan investigasi.

"Pihak pertamina telah memeriksa hingga zona reservoir, apabila memang cashing bor bermasalah tidak mungkin mencapai kedalaman (1600 meter) pengecekan dalam waktu 3 hari", ujarnya. Namun pihaknya akan terus mencari penyebabnya kenapa sumur ini bisa membias sehingga mengeluarkan uap air di beberapa titik sekitar sumur.

Faktor lain keluarnya uap air karena meletusnya gunung Soputan kemarin mungkin juga berdampak pada semburan sumur di Tondangow, akibat pengaruh kerak bumi yang bergeser.

Menjawab ketakutan masyarakat seperti di Lapindo Sidoarjo, pihak Pertamina menyatakan formasi batuan di daerah sumur sangat berbeda dengan di Sidoarjo. Lumpur yang keluar itu merupakan tanah yang terkena uap air sehingga saat tercampur menjadi seperti lumpur, namun bukan lumpur panas yang ujungnya akan mengeras seperti di Sidoarjo.

Selain itu Bagus menjelaskan jika memang bermasalah sumur HD24 merupakan sumur cadangan yang menyuplai daya listrik 10 sampai 15 MW akan ditutup oleh pihak Pertamina, dan diharapkan uap air tidak akan keluar lagi, namun apabila sumur telah ditutup tapi masih ada manifestasi uap air dari dalam tanah, dapat disimpulkan ini merupakan gejala alami, bukan akibat aktifitas PGE di Tondangou. Setelah melaksanakan investigasi selama 30 hari kedepan, pihak Pertamina akan menyampaikan hasilnya kepada masyarakat.

Camat Tomohon Selatan JR Mampouw didampingi Lurah Tondangow Tamboto Kaligis juga mengatakan fenomena keluarnya uap air dari tanah ini tidak perlu ditakuti. Mereka menghimbau kepada masyarakat agar jangan mudah percaya dengan isu bahwa kejadian ini akan menyerupai Lumpur Lapindo Sidoarjo.

"Kejadian ini biasa terjadi, lokasi sumur itu merupakan lokasi gunung berapi, sejak dulu sering terjadi kejadian seperti itu diperkebunan warga, untuk itu warga jangan kawatir", jelas Kaligis.