Kamis, 23 Mei 2013 – 13:13 WITA Telah dibaca 483 kali

LPSK Dampingi Rehabilitasi Medis Korban Politik Tahun 1965

Solo - Lembaga Pendampingan dan Kesaksian Korban (LPSK) hari ini, Jum’at (3/4/2013), mulai melakukan pendampingan terhadap rehabilitasi medis terhadap korban politik 1965 untuk daerah Surakarta. LPSK memberikan perlindungan kepada para korban pelanggaran HAM berat tersebut karena permintaan korban yang masih mengalami trauma akibat kekerasan fisik dan psikis di masa lalu.

Tenaga Ahli Bidang Bantuan, Kompensasi dan Restitusi LPSK, Supriyadi Widodo Eddyono, menyebutkan hingga saat ini sudah terdapat 457 korban politik yang mengalami kekerasan pada tahun 1965–1966 yang mendapatkan pendampingan LPSK. Para korban tersebar di banyak kota di tanah air. Dia memperkirakan jumlah korban lebih dari seribu orang yang masih hidup dan juga akan meminta perlindungan ke LPSK karena mengalami trauma masa lalu.

"Ada di banyak kota, di antaranya Pekalongan, Pemalang, Boyolali, Cilacap, Madiun, Sukabumi, Sumatera Barat, Sumatera Utara dan lain-lainnya. Paling banyak di Jawa Tengah. Pendampingan kami diberikan setelah tahun 2012 Komnas HAM memberikan rekomendasi terjadi pelaggaran HAM berat pada korban 65/66", ujar Supriyadi kepada wartawan di RS Kasih Ibu Solo, Jumat (3/5/2012).

Hari ini, LPSK mendampingi korban dari Boyolali untuk menjalani rehabilitasi medik di RS Kasih Ibu Solo. dari 21 korban yang didampingi mereka dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 11 orang pada hari ini dan 10 orang pada Sabtu besok. Pembagian dilakukan karena keterbatasan waktu dan tempat di rumah sakit.

"dari Boyolali sudah ada sekitar 70 korban yang mengajukan untuk rehabilitasi medik. Saat ini masih diproses, yang dilakukan rehab tahap pertama 21 orang", lanjutnya..

Dari pemantauan yang dilakukan, lanjutnya, sebagian besar korban sering mengalami trauma dan kesehatannya terganggu. Tidak sedikit korban menderita bekas luka dalam. Bahkan ada korban yang di dalam tubuhnya masih terdapat proyektil peluru bersarang. Selain itu kerusakan tubuh paling banyak akibat penyiksaan adalah penyakit dalam, kerusakan gigi dan mata.

Seorang korban, Supomo Budi Santoso, mengaku mengalami siksaan sangat berat setelah ditangkap aparat militer pasca peristiwa 1965. Dia mengalami luka sabetan pedang di atas bibir, luka sobek di telinga dan luka di bagian kepala karena pukulan besi.

"Kami mengalami trauma dan bekas luka penyiksaan. Rehabilitasi medik ini tidak akan mengembalikan kesehatan kami tapi mungkin bisa memperingan. Sedangkan yang mengalami gangguan kejiwaan juga akan mendapat pendampingan agar lebih terarah", kata Supomo.