Selasa, 26 Maret 2013 – 16:42 WITA Telah dibaca 1418 kali

Catatan Benni E. Matindas

OBITUARI: Bert Supit, Aktivis Abadi

Alm. Bert Supit

SUARAMANADO, Manado: Meski usianya telah uzur [beranjak 88] dan diketahui mengidap beberapa penyakit kronis, namun tetap saja berita wafatnya [24 Maret 2013] menyentak semua kalangan yang mengenalnya. Karena ia, Oom Bert Supit, dikenal penuh vitalitas.

Sepanjang puluhan tahun terakhir hampir tak pernah absen dalam setiap aktivitas menggumuli persoalan-persoalan budaya Minahasa yang paling serius. dan terlibatnya selalu dengan keperdulian berkadar tinggi.

Sudah dalam usia 80-an masih berkecimpung dengan para aktivis muda. Ia pun peneliti sejarah yang tekun; dan sering mencetuskan tesis historiografis yang penting dan original berkat wawasan kebudayaannya yang kuat. Sambil tetap bergiat dalam kegemarannya, yakni olahraga berkuda-dalam PORDASI ia sangat sohor sebagai komisioner teknik yang tekun, pemimpin lomba yang tegas, dan juri yang jujur.

Bert Supit-teman-teman dekatnya menyapa "Nyong" — menempuh sekolah menengah di MULO Tondano. Lalu masuk sekolah tinggi pelayaran yang diselenggarakan AL Jepang di Sulawesi Selatan; di sini ia sekelas dengan Ventje Sumual, Fric Sumanti dan Frits Suak (—dua yang disebut tekakhir terus meniti karir di lingkungan ALRI hingga mencapai pangkat laksamana). Masuk revolusi kemerdekaan 1945, Bert yang sudah steerman kapal segera terjun dalam kancah perjuangan. Ia menjadi Komandan Pusat Barisan Pelaut Indonesia di Makasar. Lalu dipercaya menjadi Komandan Pasukan Kawal Gubernur Sulawesi Dr. Sam Ratulangie. Ia membina hubungan dengan kelompok-kelompok pejuang, termasuk kelompok Wolter Monginsidi. Setelah Ratulangie ditangkap dan dibuang ke Papua, Bert Supit pindah front perjuangan ke Sulawesi Utara. di Manado, sebagai redaktur surat kabar republikan, ia ditangkap polisi Belanda. Dipenjara bersama Chris Ponto dan Utu Maengkom. Kasus mereka terkenal sebagai delik pers pertama di kawasan ini. [G.A. "Utu" Maengkom kelak jadi Menteri Kehakiman RI].

Dalam masa kemerdekaan, Bert yang senang belajar masuk Akademi Hukum Militer. di AHM ia teman karib Sudharmono (kelak Sekretaris Negara RI Letjen Sudharmono,SH). Sehingga, tatkala meletus pergolakan PRRI/Permesta 1958, ia bisa me-lobby Sudharmono agar: (1) mencegah pengiriman pasukan yang berpotensi tak adil dan tak obyektif dalam menangani orang Minahasa yang terlibat pemberontakan; (2) Bert sendiri ikut diutus Pemerintah Pusat ke daerah bergolak.

Dugaan Bert tepat! Panglima Operasi Letkol Roekminto, dalam kesalnya lantaran luarbiasa alot dan kuatnya perlawanan pasukan Permesta, ‘keceplos’ mengucapkan perintah yang bernada genocide. Sopir sang Panglima, bernama Wim Mamesah, lapor ke Kapten Bert Supit. Saat itu juga Bert menghadap Roekminto, mencopot pangkatnya sendiri dan meletakkan pistol di depan Panglima! [Kabar tentang peristiwa ini menyebar luas, sampai ke dalam hutan, didengar KSAD PRRI Ventje Sumual. Itulah mengapa dalam penyelesaian pemberontakan PRRI/Permesta di Sulawesi Utara, Sumual mensyaratkan: utusan Pusat yang boleh menemuinya hanya Bert Supit].

Dalam posisi Bert Supit sebagai Kepala Pemerintahan Militer di Minahasa dan Kotapraja Manado (sama dengan Bupati Minahasa merangkap Walikota Manado) sejak Agustus 1958, ia antara lain mendirikan Perguruan Tinggi Manado (inilah embrio Universitas Sam Ratulangi). Bert yang amat merindukan kemajuan peradaban masyarakat daerahnya, pada Juli 1965, mendirikan satu lagi perguruan tinggi di daerahnya: Universitas 17 Agustus. Tapi sayang, rencana mulianya itu buyar menyusul pecahnya G30S pada awal Oktober 1965 dimana ia harus terseret-seret lantaran namanya tercantum dalam deklarasi Dewan Revolusi di daerah — meskipun banyak saksi tahu bahwa ia menolak gerakan tersebut.

Bert yang menguasai sederet bahasa asing dan fasih semua bahasa sub-etnis Minahasa (Tontemboan Makelai maupun Matanai, Toulour Tondano maupun Kakas, Tombulu, Tonsea, Ratahan, juga mengerti bahasa Bantik) lantas menekuni penelitian sejarah dan kebudayaan Minahasa. Karyanya "Minahasa: dari Amanat Watu Pinawetengan sampai Gelora Minawanua" (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1986) adalah otoritatif dalam wacana kesejarahan Minahasa. Tahun 1991, Lembaga Penelitian Sejarah dan Masyarakat menerbitkan buku "Sejarah Perang Tondano-Perang Minahasa di Tondano", salahsatu hasil penelitian Bert Supit yang menghebohkan — karena berbeda perspektif dengan pemahaman yang ada selama itu. Bersama Eddy Mambu dll, Bert memperjuangkan pengakuan Perang Tondano dalam Sejarah Nasional. Salahsatu hasilnya, Perang Tondano diabadikan dalam diorama Museum Keprajuritan di Taman Mini Indonesia Indah.

Karya-karya Bert Supit lainnya: "Si Tou Timou Tumou Tou – Peranan Manusia Minahasa Dalam Pembangunan Nasional" (bersama Prof. Edi Masinambouw dkk; Penerbit KKK, 1991), "Manguni – Antara Demitologi dan Remitologi" (bersama B.E.Matindas dkk; Penerbit Institut Seni Budaya Sulawesi Utara, 2006); dan sangat banyak makalah di pelbagai forum ilmiah, antara lain yang terkenal "Menemukan Kembali Jiwa Semangat Para Leluhur" (1982).

"Kita semua sangat kehilangan, dan sangat sulit menemukan gantinya", ungkap sedih budayawan Willy H. Rawung atas wafatnya Bert Supit. "Om Bert seorang aktivis, budayawan sejati, cendekiawan yang sangat jujur dan penuh integritas. Ia tak pernah membiarkan apa yang dinilainya salah, pasti dikritiknya, tapi selalu dengan santun dan didukung argument obyektif".

Selamat Jalan, Tona’as. Masungkul mokan kita wana Regeregesan.

Benni E.Matindas