Rabu, 11 Januari 2012 – 07:21 WITA Telah dibaca 834 kali

Agresi Militer Jepang di Sulawesi-Utara (Bagian 3-Habis)

10 Januari 2012 tepat 70 tahun agresi militer Jepang ke SULUT. Mengenang peristiwa itu, kami turunkan tulisan berupa cuplikan buku: Mengindonesiakan Indonesia: Partisipasi Orang Minahasa Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia (1900–1958) oleh Harry Kawilarang, penerbit: Verbum, cetakan pertama, Juli 2011.

Kekuatan Barat AL Jepang giat melakukan penyerbuan ke Palembang untuk merebut sumber minyak di Plaju dan Sungai Gerong pada 14 Februari di topang oleh 700 pasukan terjun. Pihak pasukan sekutu ABDA menempatkan satu batalyon KNIL untuk memperkuat pertahanan Palembang menghadapi serbuan pasukan terjun Jepang dari udara. Selain itu mulai menghancurkan instalasi minyak agar tidak di manfaatkan pasukan penyerbu. Pada waktu bersamaan Laksamana-Muda Karel Doorman menempatkan kapal-kapal perang gabungan armada ABDA di Selat Sunda untuk membendung penyerbuan Jepang memasuki pulau Jawa dari wilayah Barat.

Namun pertahanan sekutu ABDA hanya bertahan sehari ketika Singapura dikuasai pada 15 Februari oleh Angkatan Darat Jepang. Arus penyerbuan Jepang ke Palembang tidak terbendung, ketika satu divisi infantri penyerbu mendarat serentak dan memukul mundur barisan pertahanan. Kegagalan gabungan pertahanan sekutu membendung penyerbuan armada Jepang mempengaruhi organisasi ABDA yang mengalami perpecahan. Pihak Hindia-Belanda mengalami kekalahan paling besar dan menuntut agar Laksamana Hart mundur dan di ganti Panglima Angkatan Laut Hindia-Belanda, Laksamana-muda Coenraad Helfrich.

Keributan di lingkungan ABDA terdengar pula di Washington. Ketika itu Presiden Roosevelt memperoleh laporan dari Menteri Angkatan Laut AS, Frank Knox dan Panglima Angkatan Laut, Laksamana Ernest King. dari perembukan itu, di putuskan Hart mundur dari gabungan pertahanan ABDA. dengan alasan "sakit" Thomas Hart di ganti oleh Helfrich sebagai Panglima Armada ABDA (ABDAFLOAT) pada 16 Februari 1942. Lagi pula sebagian besar kekuatan armada laut AS di Pasifik lumpuh akibat serangan dadakan di Pearl Harbor. Sedangkan sebagian besar dari kapal-kapal perang AS yang berada di perairan Asia-Tengara sudah tua dan tidak mampu menghadapi kekuatan laut Jepang.

Kapal perang Houston pernah diserahi tugas memimpin konvoi yang di tumpangi kekuatan artleri AS dan kesatuan infantri Australia dari kota Darwin di Australia-Utara untuk membantu pasukan pertahanan pulau Timor. Namun tidak berlanjut ketika Jepang sudah berada di Timor saat konvoi di berangkatkan 18 Februari. Darwin di serang mendadak pada 19 Februari oleh pesawat-pesawat terbang Jepang.

Serangan udara dilepaskan dari kapal-kapal induk Jepang dari perairan Maluku Selatan. Sedangkan pesawat-pesawat pembom berasal dari Kendari. Penyerbuan itu dilukiskan sebagai tragedi Pearl Harbor kedua, yang mengkaramkan 3 kapal perang dan 9 kapal niaga. Serangan itu juga menghancurkan 18 kapal terbang militer.

Pada hari yang sama, Laksamana Muda Karel Doorman melakukan tiga kali serangan terhadap armada Takahashi untuk mencegah penyerbuan ke Bali. Padahal kapal-kapal perang ABDA belum terkumpul, tetapi dengan dua kapal perusak ringan milik Belanda bersama tujuh perusak Belanda dan dua perusak dari Amerika berusaha menghadang kekuatan Jepang. Namun kekuatan itu tidak seimbang.

Dua kapal perusak Belanda karam dalam pertempuran Selat Badung. Laksamana Muda Karel Doorman kembali melakukan serangan gelombang kedua pada dini hari 20 Februari dengan kekuatan satu penjelajah ringan dan empat perusak Amerika. Namun usahanya sia-sia hingga langsung menarik mundur setelah mengalami kerusakan ringan. Pada gelombang ketiga di gunakan 5 kapal torpedo Belanda, namun menjadi lebih parah dan kelima kapal tidak kembali kepangkalan AL di Surabaya.

Kekuatan operasional wilayah Timur Angkatan Laut Jepang sejak pertengahan Februari sudah menguasai kawasan Pasifik Barat-Daya. Sementara Armada Kedua memperkuat posisi di Selat Makassar. Sedang wilayah Barat juga melumpuhkan kekuatan sekutu di Selat Karimata. Laut Jawa terkepung kekuatan Ozawa, Kondo dan Nogumo.

Walau Jepang sudah menguasai kota-kota minyak di Kalimantan dan Sumatera, namun tidak memperoleh minyak karena semua instalasi dan sumur-sumur minyak sudah dihancurkan oleh barisan pertahanan. Walau pulau Jawa bukan penghasil minyak, tetapi diperkirakan memiliki banyak persediaan. Pulau Jawa terancam dengan lima kapal induk, empat kapal serbu, delapan penjelajah berat dan sekumpulan penjelajah ringan dan perusak. Kemudian di lengkapi 65 kapal transport pasukan Angkatan Darat menunjang kekuatan Barat berasal dari pangkalan militer Camranh Bay.

Dari kekuatan timur juga diperoleh 41 kapal transport berasal dari pangkalan Jolo, di kepulauan Sulu. Kekuatan Angkatan Darat Jepang di persiapkan menyerbu pulau Jawa berkisar 45 ribu pasukan. Kesemuanya sudah berada di Laut Jawa. Posisi gabungan sekutu menjadi tidak menentu. Jendral Wavell yang berada di Bandung menilai tidak mungkin melakukan pertahanan dan berniat meninggalkan Jawa yang semula di tolak oleh London pada 20 Februari. Mayor-Jendral Lewis Brereton mengirim pembom B-17 dan transport yang masih tersisa terbang ke India pada 24 Februari. Wavell sendiri angkat kaki dan terbang menuju Sri Lanka pada 25 Februari saat ABDA berada di puncak perpecahan. Sejak itupun panglima gabungan Sekutu beralih pada Letnan-Jendral Ter Poorten di Jawa.

Tiga hari kemudian diikuti satu penjelajah ringan dari Australia dan satu penjelajah ringan dan beberapa kapal perusak menarik diri dari kesatuan operasi wilayah Barat ABDA. Sejak itupun seluruh kekuatan pertahanan peninggalan ABDA berada di tangan Belanda sejak ketiga anggota ABDA undur diri. Perpecahan terjadi karena beda pandang dalam strategi pertahanan. Belanda tidak senang dengan ABDA, karena merasa tidak di beritahu dan tidak hadir ketika ABDA dibentuk.

Penunjukan personal kepemimpinan ABDA oleh Washington di nilai Belanda terlalu sepihak dan merasa di remehkan. Pemerintah Hindia-Belanda bertikai dengan AS sebagai reaksi terhadap penunjukan Laksamana Thomas Hart. Namun ketika Hart di tarik oleh Washington, terjadi perselisihan antara Belanda dengan Inggris. Akibatnya, organisasi ABDA porak poranda dari dalam dan Wavell angkat kaki dari Bandung di ikuti Australia dan membiarkan Hindia-Belanda menghadapi Jepang.

Dilain pihak, Hindia-Belanda masih yakin terhadap supremasinya di Asia dan merasa mampu dapat mengalahkan Jepang menurut caranya sendiri tanpa perlu bantuan. Puncak ketidak senangan Inggris terhadap Hindia-Belanda terjadi ketika Panglima Angkatan Bersenjata, Jendral Hein Ter Poorten atas perintah Gubernur-Jendral Tjarda menyerah kepada Jepang tanpa perlawanan. Sedangkan Jendral-Mayor Sitwell dari Inggris masih tetap ingin menghadapi kekuatan invasi Jepang. Sitwell yang memimpin sekitar 8.000 pasukan gabungan Amerika, Inggris dan Australia di Jawa kecewa, karena menilai bahwa Belanda penakut dan menyerah tanpa konsultasi. Padahal kekuatan Sitwell terdiri dari dua skuadron tank ringan, dua batalyon infantri Australia, satuan unit kecil administrasi, 5.100 personal Angkatan Udara Inggris dengan 2.100 unit militer dan satu batalyon arteleri Amerika.

Pada 25 Februari Laksamana Coen Helfrich memerintahkan kepada Doorman melakukan patroli ketat di lepas pantai Utara Jawa dari Timur hingga Barat terhadap penyerbuan pulau ini. Namun tidak memenuhi hasil karena tidak di dukung pesawat terbang yang seharusnya mengawasi dari udara. Pada hari itu pesanan pesawat tempur untuk mempertahankan Hindia-Belanda dari Amerika-Serikat diangkut kapal induk USS Langley mulai berlayar dari pelabuhan Freemantle, Australia-Barat dengan tujuan Cilacap. Kapal buatan tahun 1912 dan diperbaiki pada 1922 sudah tidak digunakan dalam tugas operasional dan hanya berfungsi sebagai kapal pengangkut pesawat. Kapal yang diberi nama kode sandi "The Covered Wagon" dengan nakhoda Commander R P McConnell mengangkut pesawat militer tempur P-40 bersama 32 pilot. USS Langley bersama kapal barang USS Seawitch mengangkut 27 pesawat sejenis. Kedua kapal tersebut didampingi oleh dua kapal perusak.

Tetapi pada keesokan hari, 27 Februari kapal-kapal ini kepergok pesawat patroli Jepang yang terbang 75 mil arah selatan lepas pantai Cilacap. Kapal-kapal di serang hingga karam bersama pesawat-pesawat pesanan berikut dengan para penerbang. Kedua kapal perusak dan kapal Seawitch berusaha menghindar, namun menjadi mangsa pesawat-pesawat patroli Jepang hingga tenggelam. (Selesai)