Sabtu, 22 Oktober 2011 – 18:18 WITA Telah dibaca 1551 kali

"Workshop On Coconut Product And Market Development"

Workshop on coconut product and market development diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Produk Indonesia Kementerian Pertanian dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Dihadiri oleh pada undangan dan utusan dari perusahaan-perusahaan swasta yang menggunakan bahan baku dari Kelapa (cocos nusifera L). di wilayah provinsi Sulawesi Utara. Beberapa dinas terkait yang mengirimkan utusannya antara lain Kepala BALITKA, Hengky Novarianto dan staff, KaDinas Perkebunan dan staff, Ka Dinas Pertanian, Universitas Samratulangi, Dedue Tooy, PhD, Kaprodi Tehnik Pertanian Universitas Nusantara Chrisla Sarwan, SP, Utusan Kamar Dagang dan Industri SULUT, Lucky Mangkey, MKom serta Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan, Sukri.

Para pembicara yang tampil yakni:

  1. Executive Director of Asian & Pacific Coconut community, Romulan N. Arancon, Jr
  2. Direktur Pengolahan hasil pertanian., Ir.Nazarudin, MM
  3. Perwakilan dari Malaysia
  4. Manager Market Development Dept,Philippine Coconut Authority, Alicia V. Fontecha
  5. Research Institute for oils and oil plants-Vietnam, Dr. Vo Van Long
  6. Head of regional development planning agency of North Sulawesi, Dr. Noldy Tuera.

Pada session pembuka (dari awal acara hingga selesai di kantor gubernur menggunakan bahasa Inggris) welcome remarks: oleh sekretaris provinsi mewakili gubernur dan opening remarks oleh dirjen pengolahan dan pemasaran hasil produk pertanian, Zainal Burhanuddin

Di sesi kedua yang dimoderatori John Tasiring, tim ahli pemerintah provinsi SULUT mulai presentasi. Pembicara pada intinya menceritakan produksi (existing condition, problems, strategi, policy, dan program), pengolahan (idem), pengembangan pemasaran (idem) tentang produk-produk pertanian.

Produk-produk hasil kelapa yang digunakan di SULUT yaitu kopra, crude coconut oil, coco cream/milk/powder, desiccated coconut, activated carbon/charcoal, mixed fibre/sabut, tempurung, VCO bahan baku kosmetik (USA Bodyshop), Nata de coco dan Coconut water/rehydrated drink/electrolyte water, biofuel/oleochemicals/coconut methyl ester (CME) serta coconut sap (neera, gula kelapa, coconut wine/arak).

Produk yang dianggap paling berpeluang untuk produk pertanian dengan low cost production adalah VCO.

Intinya, APCC ingin meningkatkan pendapatan petani kelapa di Asia Pasifik dengan memberikan media sebagai perantara antara pembeli dan petani. Jumlah produk-produk kelapa di Asia Pasifik diperhitungkan sangat rendah dibandingkan dengan kebutuhan pasar.

Filipina merupakan produsen kopra kedua terbesar setelah Indonesia namun menjadi pengekspor karena di sana hanya sebagian kecil produk kelapa yg digunakan untuk biodiesel dan minuman elektrolit, sisanya di export. Saat ini Filipina memiliki proyek pengekspor air kelapa yg digunakan sebagai bahan dasar rehydrated drinks.

Produksi kelapa Indonesia relatif stabil, namun akhir-akhir ini terjadi pengurangan produksi karena serangan hama & penyakit dan juga banyak para petani yang menebang pohonnya karena tidak menjadi penyumbang utama dalam pendapatan petani.

Strategi yang perlu dilakukan yaitu rehabilitas perkebunan existing, intensifikasi/optimalisation, pengembangan kelompok tani, pengadaan site manager, pengendalian hama penyakit terpadu, penyediaan infrastruktur dan peningkatan qualitas produk.

Adapun kebutuhan dunia akan kelapa dan produk-produknya tinggi, tapi menurut data yang ada hingga saat ini 2011, negara-negara penghasil kelapa terbesar didunia tetap belum dapat memenuhi kebutuhan pasar yang begitu besar tiap tahunnya.

Di Asia sendiri para pemakai kelapa dan produk-produknya yaitu Malaysia, China, Korea, Singapura, Pakistan, Japan, Australia, Uni Emirate Arab dan Saudi Arabia. di Eropa dan Amerika yakitu Jerman, Inggris, Belgia, Belanda, Itali, Perancis, USA, Canada dan Brazil.

Session ke-3 difokuskan pada diskusi kelompok yang berfokus pada establisment pengembangan kelapa.

Melihat Indonesia sebagi penghasil kelapa terbesar di dunia dan Sulawesi utara sebagai salah satu lumbung produksi kelapa maka kedepan Sulawesi utara akan menjadi pemimpin pasar dalam produk kelapa demikian papar Christian Pua, SE, MBA Ketua KADIN SULUT saat dihubungi SUARAMANADO di Sintesa Peninsula Hotel Manado.

Acara hari ditutup dengan jamuan makan malam di rumah gubernur dengan host gubernur SH. Sarundajang.