Senin, 5 September 2011 – 13:36 WITA Telah dibaca 2530 kali

Bridge Identik dengan Orang Manado

Selama ini sudah terpatri di benak insan olahraga di tanah air, berbicara olahraga bridge berarti berbicara mengenai orang Manado. Mengapa hal ini terjadi? Penyebabnya sederhana, karena olahraga bridge selama ini dikenal identik dengan permainan orang Manado, sehingga sering terjadi salah kaprah dimana semua orang Manado dianggap tahu bermain bridge.

Kondisi ini terjadi, sebab selama puluhan tahun baik anggota tim nasional maupun anggota tim yang mewakili daerah di Kejurnas Bridge didominasi oleh orang Manado dan bahkan bukan saja atlet tapi pengurusnya pun.

Di tahun 70 – 80 an kalau ada Kejurnas Bridge berarti sama dengan reuni antar orang Manado. Hampir semua kontingen yang hadir dari Seluruh Indonesia minimal ada 1 atau 2 orang Manado yang nyelip.

Sebenarnya kata orang Manado baru dikenal pada permulaan abad ke duapuluh dimana banyak pemuda Minahasa pergi merantau untuk mencari hidup yang lebih baik, demikian menurut Bert Supit dalam manusia Minahasa: Ditinjau dari latar belakang adat dan kebiasaan. Orang Manado yang ada dibenak masyarakat adalah semua orang yang berasal dari Manado tidak melihat apakah, orang Minahasa atau Manado. Jadi tidak perlu heran kalau orang Manado tersebar dimana-mana diseluruh Indonesia.

Menyebarnya orang Manado berarti menyebarnya juga olahraga bridge. Walaupun olahraga bridge kurang populer di mata masyarakat tapi dalam hal penyebarannya diseluruh Indonesia patut diacungi jempol. Gabungan bridge seluruh Indonesia, organisasi yang mengatur olahraga bridge adalah salah satu dari sedikit cabang olahraga yang mempunyai pengurus di seluruh Indonesia.

Kondisi diatas membuat banyak orang bertanya, mengapa sih olahraga bridge begitu berkembang diantara orang Manado. Sulit menjawab pertanyaan ini secara tepat, tapi menurut saya ada beberapa hal yang menunjang sehingga orang Manado senang bermain bridge, yaitu:

1. Dikalangan orang Manado bermain kartu adalah lumrah sehingga tidak identik dengan judi, jadi tidak perlu dilarang. Sewaktu saya kecil, bermain kartu dengan taruhan kelereng merupakan hal yang biasa.

2. Mapalus. Semangat mapalus yang lebih mengarah kepada kerjasama dan saling membantu disertai disiplin kelompok tinggi yang dianut orang Manado sangat membantu dalam permainan bridge. Permainan bridge dilakukan secara pasangan sehingga tanpa kerjasama dan saling membantu apalagi tanpa disiplin yang tinggi jangan harap bisa mencapai hasil yang baik.

3. Sifat "sei re’en". Suatu sikap yang didasarkan atas anggapan bahwa apa dan siapa saja, dapat dihadapi dan dikuasai. Sifat sei re’en ditambah keingintahuaan atas hal-hal yang baru membuat orang Manado dengan mudah menerima atau meniru apa saja hal-hal yang asing. Sayang sekali sifat sei re’en ini sering menjadi kelemahan orang Manado. Karena sifat sei re’en bila lepas kontrol akan mencapai suatu titik ketinggian yang senatiasa memamerkan sikap "arogansi kebesaran"; mengganggap diri besar dan hebat tapi tanpa dasar dan pegangan yang riil; memandang enteng apa dan siapa saja yang dihadapi.

Menurut Alex Paat (Manusia Minahasa: Falsafah dan Pandangan Hidupnya); orang Manado digambarkan sebagai orang Belanda yang suka minum, mempunyai temperamen demokrasi dan sistim sekolah umum serta menyenangi film-film dari Holywood dan suka bermain bridge. (Bert Toar Polii)