Rabu, 23 November 2011 – 12:34 WITA Telah dibaca 1267 kali

Satu Orang Meninggal Karena Shock

Kekalahan Garuda Muda Masih Menuai Komentar

Foto ilustrasi.

Kekalahan timnas Indonesia "Garuda Muda" dalam final cabang sepakbola SEA Games 2011 Senin malam, masih menjadi perbincangan hangat. Setelah bermain imbang selama sekitar dua jam, beberapa pihak menganggap kekalahan adu penalty dari Malaysia sebagai faktor keberuntungan yang lebih berpihak pada negeri jiran itu. Namun, sebagian lagi menganggap bahwa kekalahan timnas lebih disebabkan pada kesiapan tim Malaysia dalam melakukan eksekusi penalty.

Dalam perbincangan di akun sosial SUARAMANADO grup Facebook, Rabu (23/11), pengamat olahraga yang juga kapten Tim Bridge Indonesia yang sukses mengantar tim puteri meraih medali perak di Belanda beberapa waktu lalu, Bert Toar Polii menganggap kedua tim sama-sama memiliki penjaga gawang yang handal. "Kedua penjaga gawang sama-sama hebat karena masing-masing bisa menahan 1 tendangan penalty. Penendang penalty Malaysia lebih siap", ungkap Polii.

Pengamat sepakbola di Manado, Erwin Pioh di forum yang sama, menjelaskan bahwa adu penalty dalam pertandingan sepak bola bukanlah faktor untung-untungan atau kebetulan dalam memenangkannya, melainkan karena beberapa faktor. "10% fortune, 30% kualitas penendang penalty dan 60% kualitas goalkeeper", ungkapnya. Erwin mengalasankan tim nasional Jerman yang masih memegang rekor di Piala Dunia & Piala Eropa dalam duel adu penalty sepanjang sejarah.

"Sejak 1972 sampai sekarang, goalkeeper Jerman selalu mendapat predikat penjaga gawang terbaik di kedua pertandingan tersebut. Jadi, jelas dalam pertandingan adu penalty Indonesia-Malaysia; goalkeeper malaysia lebih hebat dan penendang penalty-nya lebih siap sebagai eksekutor", jelasnya.

Karenanya, Erwin menganggap, pernyataan Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Malaranggeng bahwa kemenangan penalty itu faktor keberuntungan atau kebetulan, sebagai "tidak tepat".

"Harus bermain bola dalam satu tim sepak bola dan coba rasakan bermain di posisi back, midfielder dan striker juga goalkeeper supaya tahu bahwa faktor keberuntungan itu sebenarnya hanyalah 10 persen-nya dari faktor mutu, mental, skill, dan ketahanan atau kemampuan fisik", tegas Erwin mengomentari pernyataan Menpora.

Sementara itu, entah karena gol penentu kekalahan timnas Indonesia di ajang final sepakbola SEA Games 2011 Senin malam lalu atau karena kelelahan, Donny, warga Tondano yang lama bermukim di Timika Papua mengalami shock yang menyebabkan dirinya harus dilarikan di rumah sakit terdekat. Malang tak dapat ditolak, Selasa pagi sekitar pukul 6 waktu setempat, Donny menghembuskan napas terakhirnya. Keluargapun menangisi kepergiannya yang tiba-tiba itu.

"Menurut informasi, kak Doni diperkirakan meninggal karena tekanan darah naik. Kurang tahu hasil pemeriksaan medisnya, tapi semalam sempat nonton bola dan tidur tapi kemudian anfal dan meninggal tadi pagi jam 6", ungkap Cyntia, kerabat dekat.

Doni yang meninggalkan seorang istri, Gina dan enam orang anak, Jovi, Yoko, Sheva, Dona, Vallen & Putri) akan diberangkatkan hari Rabu (23/11) hari ini bandara Timika menuju bandara Sam Ratulangi Manado, didahului dengan ibadah pelepasan. "Siang ini tiba", akunya dan akan langsung dibawa ke kampung halaman di Tondano.

Kekalahan timnas Indonesia di ajang Sea Games memang menyisakan tragedi, antara lain kematian dua penonton di stadion tempat penyelenggaraan, Gelora Bung Karno, kompleks Senayan Jakarta.