Selasa, 8 Maret 2016 – 18:31 WITA Telah dibaca 860 kali

Gerhana Matahari, Manado Nyaris Jadi Malam

Jontas: Walau Hanya 1 Persen Cahaya, Dunia Belum Akan Kiamat

Stasiun Ionosonda LAPAN dan UNSRAT

SUARAMANADO, Manado: Pagi antara jam 09.45–09.55 WITA suasana Kota Manado nyaris jadi malam hari. Ayam mulai bertengger di tempat tidur mereka dan mulai berkokok serta beberapa menit kemudian burung mulai berkicau seperti saat fajar mulai merekah. Peneliti dan masyarakat memanfaatkan fenomena lama ini baik untuk hiburan maupun untuk kajian ilmu pengetahuan.

Gerhana Matarari terjadi jika Matahari, Bulan dan Bumi berhada pada satu garis lurus. Posisi bulan berada diantara matahari dan bumi sehingga menutup cahaya matahari sebagian atau seluruhnya. Walaupun bulan jauh lebih kecil dari matahari namun bayangan bulan mampu menutupi cahaya matahari karena bulan yang berjarak rata-rata 384,400 kilimeter dari bumi lebih dekat dibanding matahari yang memiliki jarak rata-rata 149.640.000 kilometer.

Kota Manado berada di antara dua kota yangkni Kota Palu dan Kota Ternate yang mengalami gerhana matahari totol. Kota Manado tidak mengalami gerhana matahari total namun suasana Kota Manado dan sekitarnya menjadi gelap seperti suasana fajar yang baru merekah demikian tutur Robby Anapu pensiunan PNS yang menyaksikan gerhana matahari yang melintas di depan rumahnya.

Hal yang sama diuangkapkan Kenes Wowor sopir rental bandara Sam Ratulangi Manado yang saat gerhana matahari memilih libur tidak keja karena ingin melihat fenomena gerhana matahari yang dapat disaksikan 375 tahun yang akan datang. Saya ingin menyaksikan langsung karena faktor umur, manusia sudah tidak mungkin lagi akan menyaksikan pada periode berikut gerhana matahari seperti ini. " Torang kurang hidop seratusan tahun itupun kalu sehat-sehat, jadi rugi ndak mo ba uni " ungkap Kenes.

Dr.John Tasirin (Jontas), pakar lingkungan dari UNSRAT meneliti efek gerhana matahari di Stasiun" IONOSONDA Manado Kerja Sama LAPAN dan UNSRAT mengatakan kepada SUARAMANADO cahaya matahari yang hanya 1 persen tidak bisa meginterupsi proses kehidupan di bumi. dengan kata lain 1 persen cahaya yang tersisa masih sanggup menyediakan energi bagi bumi khususnya tumbuh-tumbuhan untuk proses fotosintesis. dengan demikian energi yang dihasilkan oleh 1 persen cahaya matahari masih sakti dan dasyat untuk menyumbang kehidupan di bumi, demikian papar Tasirin Ketua TIM 9 yang menjadi aktor intelektual penyusun Visi dan Misi pada debat calon Gubernur dan Wagub Bpk. Olly Dondokambey, SE dan Drs. Steven Kandouw.