Sabtu, 30 Juni 2012 – 21:30 WITA Telah dibaca 613 kali

Pengembangan EBT

Kalah Cepat Tapi Belum Terlambat

Energi baru terbarukan (EBT) sudah diperkenalkan pemerintah sejak tahun 1970-an melalui pengadaan sejumlah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) maupun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Teknologi tersebut sudah dimulai di saat cadangan minyak bumi masih melimpah. Sekitar lima puluh tahun kemudian, ketika cadangan minyak bumi di negeri ini mulai menipis bahkan diperkirakan akan habis dalam kurun waktu 12 tahun lagi, EBT atau renewable energy memberikan harapan penyediaan energi yang lebih lama.

EBT merupakan energi yang dihasilkan dari sumber energi yang berkelanjutan seperti matahari, angin, air, minyak sawit dan biji jarak. Energi tak terbarukan bersumber dari energi yang sumbernya akan habis bila dieksploitasi secara terus menerus antara lain minyak bumi, batubara, gas bumi, gambut dan serpih bitumen.

Dibandingkan Malaysia, China, Jerman, Brasil dan India, Indonesia boleh dikata kalah cepat dalam pengembangan EBT. Negara-negara ini telah berhasil melakukan pengembangan dan inovasi energi terbarukan.

India, misalnya. Hampir sepuluh tahun lalu beberapa ilmuwan dan pengusaha asal Nyiur Melambai berangkat ke negeri Mahatma Gandhi itu demi melakukan observasi terkait pengembangan biji jarak atau jatropha curcas menjadi sumber EBT. Namun inisiatif tersebut tidak ditindaklanjuti. Mudahnya pembudidayaan tanaman yang oleh masyarakat Manado dikenal dengan balacai ini disinyalir menjadi salah satu penyebab kurang diseriusinya pemanfaatannya sebagai sumber bahan bakar.

EBT sendiri boleh dikata belum begitu dikenal oleh masyarakat Indonesia dibandingkan bahan bakar minyak (BBM) yang bersumber dari minyak bumi. Kekurangtahuan tentang sumber-sumber EBT dan kurangnya kesadaran masyarakat tentang bakal habisnya persediaan minyak bumi bisa jadi membuat pemanfaatan dan pengembangannya kurang dilakukan. Untuk menggugah perhatian masyarakat terhadap pemanfaatan EBT serta untuk menghimpun stakeholders yang ada di pemerintahan, swasta maupun akademisi dalam pengembangan EBT, maka dibentuklah masyarakat energi terbarukan Indonesia atau METI.

"METI berdiri 11 Mei 1999 dengan tujuan menghimpun stakeholders EBT yang ada di pemerintahan, swasta bahkan di dunia akademik untuk bersama-sama memperjuangkan pemanfaatannya di Indonesia. METI akan terus memperjuangkan pemanfaatan EBT yang lebih baik", ungkap Arya Rezavidi dari Dewan Pakar METI yang juga sebagai Kepala Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (Pusbindiklat BPPT) kepada SUARAMANADO belum lama ini.

Konferensi dan pameran tentang Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi (EBTKE) atau Indonesia EBTKE Conex 2012 yang bakal digelar di Jakarta Convention Center pada tanggal 17 hingga 19 Juli mendatang menjadi momentum yang tepat untuk mensosialisasikan EBT kepada masyarakat luas. Selain itu, acara yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan di bidang pengembangan EBT ini diharapkan bukan sekedar konferensi semata namun dapat menghasilkan langkah-langkah strategis guna pengembangan teknologi EBT di negeri ini.