Rabu, 5 April 2017 – 06:37 WITA Telah dibaca 279 kali

Diamkan Kasus Perkosaan dan Traficking

P2TP2A Manado Sesalkan Polresta

SUARAMANADO.COM, MANADO – Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) kota Manado mempertanyakan keseriusan Polresta Manado dalam menyelesaikan laporan dugaan pemerkosaan dan perdagangan orang yang dilaporkan sejak awal tahun ini ke Polresta Manado dan hingga kini terkesan didiamkan.

Ketua P2TP2A Manado, E.K. Kindangen, menyatakan sampai sekarang laporan atas kasus ini tidak ada kemajuannya, sehingga organisasi yang dipimpinnya akan mendatangi Mapolresta Manado untuk meminta kejelasan penanganannya. "Dalam waktu dekat kita akan ke Polresta", ujarnya, Selasa (03/04/2017) malam.

Sebelumnya, Januari 2017 lalu, seorang gadis yang namanya sebut saja Jingga, 21 tahun didampingi keluarga melaporkan salah seorang kakaknya MJ alias Mey bersama teman dekatnya HT alias Hen ke Polresta Manado atas dugaan pemerkosaan dan perdagangan orang. Perbuatan Mey dan Hen ini dilakukan sejak tahun 2012, saat Jingga masih berusia 16 tahun, namun baru dilaporkan Januari tahun ini.

Saat itu, karena terus di intimidasi pelaku MJ dan teman dekatnya Hen alias HT, korban merasa tertekan dan sempat dirawat di RS Pancaran Kasih Manado. Sejak tahun 2012, saat usia Jingga masih 16 tahun, dia mengalami tindak kekerasan seksual. Dipaksa Mey untuk memuaskan nafsu syahwat Hen. Bahkan, Hen mencabuli dan memperkosa Jingga di depan kakak kandungnya sendiri, Mey.

Tak hanya itu, Desember 2015 lalu, Mey dan Hen juga tega menjual Jingga untuk dijadikan teman cinta semalam seorang pengusaha asal Surabaya, AC alias Acin alias yang merupakan kenalan Mey dan Hen. Jingga dijadikan pemuas syahwat Acin di sebuah hotel mewah di bilangan Kairagi.

Atas perbuatan itu, Jingga yang didampingi kakaknya yang lain kemudian melaporkan perbuatan Mey dan Hen tersebut ke Polresta Manado. Namun, hingga sekarang perkembangan kasus ini masih belum ada hasil yang jelas, sementara Mey dan Hen sebagai pelaku yang dilaporkan, masih bebas berkeliaran. Keluarga dan Jingga pun menduga laporan mereka sepertinya sengaja diendapkan pihak Polresta.

"Hingga kini kami masih bertanya-tanya, kenapa para pelaku masih bebas berkeliaran. Kami sudah beberapa kali mempertanyakan ke Penyelidiknya bapak Aipda Adi Karim, tapi jawabannya selalu bukti dan saksi belum lengkap", keluh kakak korban, RN, Selasa (04/04/2017) malam, saat diminta Advokat P2TP2A, E.K. Kindangen, SH, memberikan keterangan kepada wartawan.

Dikatakana RN, hingga kini Pihak Polresta sendiri baru satu kali memberikan penjelasan melalui Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) atas dua laporan korban. "Untuk laporan Polisi nomor STTLP/260/I/2017/SPKT/RESTA MDO tanggal 30 Januari 2017, Polresta memberikan SP2HP dengan nomor surat: B/211/II/2017/Reskrim tanggal 2 Februari 2017. Penjelasan hasilnya pun tidak jelas", keluh RN. Demikian juga dengan Laporan Polisi nomor TBL/426/II/2017/SULUT/Resta-Mdo tanggal 18 Februari 2017, Polresta juga hanya sekali memberikan SP2HP dengan nomor: B/430/II/2017/ Reskrim dan tanggal suratnya tidak ada, hanya tertulis Februari 2017, isinya pun sama, tidak menerangkan apapun.

Hingga kini, pihak Polresta Manado juga tidak memberikan pemberitahuan secara terperinci tentang perkembangan penyelidikan kasus yang dilaporkan korban. Padahal, sesuai Peraturan Kapolri (Perkap) nomor 12 tahun 2009, tentang Pengawasan dan Pengendalian Penanganan Perkara Pidana di Lingkungan Kepolisian Republik Indonesia, dikatakan Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan merupakan hak dari Pelapor dalam menjamin Akuntabilitas dan Transparansi Penyidikan, Penyidik wajib memberikan SP2HP secara berkala paling sedikit satu kali setiap satu bulan, baik diminta maupun tidak diminta. Hal ini juga mengacu pada Peraturan Kepala Kepolisian (Perkap) Negara Republik Indonesia nomor 14 tahun 2011, tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia.(dek)