Jumat, 7 Oktober 2016 – 06:31 WITA Telah dibaca 301 kali

Dua Kementrian Saling Merebut Rezeki di Ladang Film

Konferensi Pers Artis Film Indonesia
SUARAMANADO,Manado. Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2016 tinggal menghitung beberapa jam kedepan akan mengumumkan siap-siapa yang berhak dan layak dinobatkan sebagai jawara di dunia Film tanah air yang penyerahan Apresiasinya akan berlangsung besok malam (8/10) di Grand Kawanuan Convention Center (GKCC) Manado.

Menanti malam puncak penghargaan AFI ke V Tahun 2016 sejumlah artis Nasional hari ini (7/10) melakukan Parade Artis yang dilepas secara resmi Ir. Ritta Dondokambey-Tamuntuan selaku Ketua Panitia Lokal SULUT dengan mengambil start di atas jembatan Ir. Soekarno Manado dan finish di salah satu Cafe kawasan Marina Plaza sekaligus mengadakan konferensi Pers dengan media lokal dan Nasional di Sulawesi Utara.

Parade Artis di Atas Jembatan Ir. Soekarno
Hal menarik terungkap dalam sesi tanya jawab bersama insan Pers dimana dunia Film tanah air dapat dikatakan menjadi perebutan mengais rezeki dari Dua Kementrian di Indinesia yaitu Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementeian Pariwisata.

Seperti yang dijelaskan Rita Siregar selaku Kasubid Pengarsipan Film Kemendikbud RI menjawab pertanyaan SUARAMANADO tentang bedanya AFI dan FFI yang sama-sama bertujuan memberi penghargaan bagi insan Perfilman di Indonesia, bahwa: AFI merupakan binaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sementara Festival Film Indonesia (FFI) adalah binaan Kementrian Pariwisata.

Padahal panitia AFI tidak menepis jika Film yang sama dapat saja menang di ajang AFI dan FFI dengan alasan substansi dasar penilaian yang dipakai AFI berbeda dengan penilaian di ajang FFI. Jadi sangat mungkin sat Judul Film menang baik AFI maupun FFI.

Ditegaskan Rita Siregar, AFI, penilaiannya berbasis budaya dan kearifan lokal yang tujuannya adalah pembentukan karakter bangsa atau lebih pada revolusi mental, sementara kontent FFI lebih bebas dalam penilaiannya sehingga semua Film boleh masuk nominasi diajang FFI.

Anehnya dalam penyelenggaraan AFI di Propinsi Sulawesi Utara justru melibatkan Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata dan Budaya sehingga pelaksanaan AFI menjadi tanggung jawab kedua dinas tersebut di tingkat daerah seperti yang disampaikan baik Kadis Pendidikan Nasiona A.G. Kawatu dan Kadis Parbud Ir. H.T.R. Korah dengan kegiatan masing-masing.

Dilevel Nasional pun patut dipertanyakan kenapa urusan Perfilman saja sampai melibatkan Dua Kementrian yang terkesan saling berebut rezeki diladang Perfilman, dengan gelaran AFI oleh Kemendiknas dan FFI oleh Kemenpar.

Apakah kedua kementrian ini kurang kerjaan sehingga berebutan diladang Perfilman dan berapa banyak Duit yang dihabiskan oleh kedua kementrian ini hanya mengurus Film. Dibanding program kerakyatan yang masih butuh uluran tangan pemerintah terutama masyarakat kurang mampu.(jansen)