Kamis, 29 Desember 2011 – 06:13 WITA Telah dibaca 1060 kali

Kisah Antrian di Hari Terakhir

Antrian warga untuk memperoleh minyak tanah di kelurahan Paniki Bawah kecamatan Mapanget.

Distribusi minyak tanah (mitan) di hari terakhir tahun 2011 diwarnai antrian yang berkepanjangan. Rabu (28/12), sejumlah warga bahkan ada yang sejak subuh sudah menggandeng jerigen demi memperoleh bahan bakar keperluan dapur itu lebih awal. Antrian yang biasanya dilakukan di depan pangkalan harus diputar ke belakang saking panjangnya. Namun, sepintas, dari depan terlihat tak ada antrian berarti.

Hesti, bukan nama sebenarnya, meski jam 4 pagi telah menuju pangkalan minyak yang berlokasi di lingkungan X kelurahan Paniki Bawah, bukan nama sebenarnya harus rela memperoleh minyak tanah jelang siang hari. Hal ini terjadi karena pangkalan yang telah menerima distribusi minyak tanah dari Pertamina sehari sebelumnya ini resmi beroperasi mulai pukul 8 pagi.

Lain lagi Ine, warga Paniki Bawah lainnya. Dirinya mengaku telah mengantri sejak jam 8 pagi namun nanti mendapatkan jatah menjelang jam 3 sore.

"Sebenarnya jam 1 siang so boleh dapat, maar petugas pangkalan istirahat makan, jadi babale 2 jam kemudian", aku Ine yang mengaku membawa KTP untuk mengantri. Dirinya senang karena walau bersusah payah di bawah terik matahari boleh pulang dengan tangan membawa minyak tanah. Ine, bersama ratusan warga lainnya boleh pulang dengan membawa 6 liter mitan dengan harga eceran Rp. 3.000 rupiah.

Berbagai informasi bereder di kalangan masyarakat antara lain, tahun depan (2012), minyak tanah akan dijual dengan harga lebih dari 10.000 rupiah. Sales manajer Pertamina Sulutenggo, Irwansyah beberapa waktu yang lalu sudah menyatakan bahwa Pertamina akan mengeluarkan mitan non subsidi dengan kualitas yang sama seperti mitan bersubsidi namun dengan warga yang agak berbeda dengan harga ecerannya sekitar Rp. 9.000 rupiah.