Kamis, 29 September 2011 – 09:18 WITA Telah dibaca 1296 kali

dari CPR Meeting 21–30 Oktober di Manado

KADIN SULUT Berharap Hubungan Perdagangan SULUT dengan Negara Tetangga

Kepulauan Talaud

Committee of Permanent Representatives to ASEAN (CPR) Meeting sedang berlangsung di Manado, tepatnya di hotel Sintesa Peninsula. Pertemuan ini diikuti oleh delegasi dari Brunai Darusalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Philipina, Singapore, Thailand, Vietnam dan duta besar Jepang untuk ASEAN. Pertemuan ini dihadiri pula oleh pejabat dari Sekretariat ASEAN yaitu Deputy Secretary ASEAN untuk Politik dan Keamanan, Deputy Secretary bidang Ekonomi dan Deputy Secretary bidang Community dan Corporate Affair.

Dalam pertemuan Rabu kemarin, delegasi Indonesia yang dipimpin oleh George Lantu, wakil tetap Indonesia untuk Asean yang bertindak sebagai pemimpin rapat didampingi pula oleh Lucky Mangkey sebagai salah seorang wakil ketua Kadin SULUT dan beberapa anggota Kadin lainnya. Menurut Lucky Mangkey yang saat ini juga sebagai Laksari Rektor Universitas Nusantara, bahwa pertemuan ini sangat penting bagi para pengusaha Indonesia khususnya dari Sulawesi Utara untuk membuka peluang usaha dengan negara-negara ASEAN yang lain termasuk Jepang.

Lebih lanjut Lucky mengatakan bahwa menjadi harapan kita di Sulawesi Utara, ke depannya perdagangan dengan negara tetangga dapat dilakukan secara langsung. Pengiriman barang yang selama ini harus meliwati Jakarta atau Surabaya dan Singapura dapat secara langsung dari Sulawesi Utara. Akan diusahakan pula ada jaringan telekomunikasi dari Talaud ke Philipina namun sudah tentu semua itu dibutuhkan investasi yang tidak kecil. Dukungan penuh dari pemerintah akan menjadi pendorong kuat bagi berkembangnya dunia usaha khususnya di Sulawesi Utara. Seorang peserta yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa pertemuan ini diharapkan akan memudahkan dan memperkuat hubungan dengan dunia usaha di kawasan ASEAN.
di tempat yang sama, ketua kadin Minahasa Utara Danny Pesik mengatakan bahwa dunia usaha di Sulawesi Utara sangat mengharapkan pemerintah membuka kembali jalur perdagangan dengan Negara-negara Asean khususnya Philipina. Sekitar 6 tahun terakhir ini, jalur perdagangan dengan Negara tetangga ditutup yang berdampak pada ditutupnya pula jalur penerbangan dan jalur laut dengan Philipina. Hal ini berdampak pada menurunnya income dunia usaha di SULUT.

Lebih lanjut Danny mengatakan perdagangan hasil laut dan pertanian khususnya jagung di waktu yang lalu adalah peluang usaha yang menguntungkan bagi dunia usaha SULUT apalagi yang ada di perbatasan dengan Philipina namun setelah ditutup, semua gigit jari. Bayangkan saja waktu lalu sembako dan berbagai barang dagangan dari SULUT dengan mudah didapat dari SULUT, banyak pengusaha dari Davao dan General Santos mengadakan meeting di Manado dan begitu pula sebaliknya namun itu semua sudah berlalu. "Kami berharap pemerintah meninjau ulang policy yang sudah dibuat sehingga dunia usaha Sulawesi Utara dapat kembali bangkit", ujarnya.