Rabu, 19 Oktober 2011 – 13:24 WITA Telah dibaca 1827 kali

Tombeng: Lambang Nyiur Melambai Tinggal Kenangan

Personil Komisi I bidang Pemerintahan Hukum dan HAM Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (SULUT), Pnt Herry Tombeng SH, menilai bahwa lambang Nyiur Melambai yakni pohon kelapa akan menjadi kenangan jika tidak ada terobosan baru seperti pencetakan bibit baru untuk menyelamatkan sumber kehidupan petani dan juga lambang supremasi maupun jati diri daerah.

"Nyiur melambai sebagai lambang daerah akan terancam dan mati suri, jika tidak ada terobosan maupun inovasi sejak sekarang. Apalagi, pohon kelapa yang menghasilkan kopra merupakan salah satu mata pencarian masyarakat yang berprofesi sebagai petani", ujar Tombeng, Rabu (19/10) siang ini diruang kerjanya.

Lanjut dikatakan politisi Partai Gerindra ini, tingkat kecemasan petani terhadap maraknya penebangan pohon kelapa untuk dijadikan meubel, sudah sangat krusial, sehingga diperlukan anggaran untuk mencegah agar pohon kelapa tetap terjaga dan terhindar dari kepunahan.

"Bayangkan saja, dalam kurun waktu satu tahun terdapat 100 ribu pohon kelapa yang ditebang untuk dijadikan meubel maupun bahan bangunan, dengan asumsi setiap bulan terdapat 10.000 ribu pohon kelapa yang ditebang.

Mencegah hal itu, diperlukan tindakan positif dari pemerintah untuk menyiapkan bibit-bibit kelapa sebagai gantinya. Untuk itu kami mendesak kepada pemerintah untuk menyediakan dana, apalagi sekarang sementara dilakukan pembahasan APBD tahun anggaran 2012, guna menyelamatkan lambang daerah itu", tandas Tombeng mantan anggota DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) ini, seraya menambahkan, sekarang ini masyarakat sudah jenuh dengan sikap pemerintah yang terkadang cuek dengan kondisi yang terjadi, apalagi saat ini bukan hanya aksi penebangan pohon kelapa yang marak, tapi hama busuk pucuk kerap terjadi sehingga pohon kelapa banyak yang tidak bisa menghasilkan buah yang baik.Personil Komisi I bidang Pemerintahan Hukum dan HAM Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (SULUT), Pnt Herry Tombeng SH, menilai bahwa lambang Nyiur Melambai yakni pohon kelapa akan menjadi kenangan jika tidak ada terobosan baru seperti pencetakan bibit baru untuk menyelamatkan sumber kehidupan petani dan juga lambang supremasi maupun jati diri daerah.

"Nyiur melambai sebagai lambang daerah akan terancam dan mati suri, jika tidak ada terobosan maupun inovasi sejak sekarang. Apalagi, pohon kelapa yang menghasilkan kopra merupakan salah satu mata pencarian masyarakat yang berprofesi sebagai petani", ujar Tombeng, Rabu (19/10) siang ini diruang kerjanya.

Lanjut dikatakan politisi Partai Gerindra ini, tingkat kecemasan petani terhadap maraknya penebangan pohon kelapa untuk dijadikan meubel, sudah sangat krusial, sehingga diperlukan anggaran untuk mencegah agar pohon kelapa tetap terjaga dan terhindar dari kepunahan.

"Bayangkan saja, dalam kurun waktu satu tahun terdapat 100 ribu pohon kelapa yang ditebang untuk dijadikan meubel maupun bahan bangunan, dengan asumsi setiap bulan terdapat 10.000 ribu pohon kelapa yang ditebang.

Mencegah hal itu, diperlukan tindakan positif dari pemerintah untuk menyiapkan bibit-bibit kelapa sebagai gantinya. Untuk itu kami mendesak kepada pemerintah untuk menyediakan dana, apalagi sekarang sementara dilakukan pembahasan APBD tahun anggaran 2012, guna menyelamatkan lambang daerah itu", tandas Tombeng mantan anggota DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) ini, seraya menambahkan, sekarang ini masyarakat sudah jenuh dengan sikap pemerintah yang terkadang cuek dengan kondisi yang terjadi, apalagi saat ini bukan hanya aksi penebangan pohon kelapa yang marak, tapi hama busuk pucuk kerap terjadi sehingga pohon kelapa banyak yang tidak bisa menghasilkan buah yang baik.