Senin, 28 Mei 2012 – 13:14 WITA Telah dibaca 1410 kali

Meriah! Pidato Bahasa Indonesia Pertama di Rumah Budaya di Berlin

Enam warga jerman tampak fasih berbahasa Indonesia. Berbagai topik menarik mereka sampaikan dihadapan tak kurang dari 200 penonton yang datang. Martin Fuchs misalnya. Pemuda yang berasal dari Constance, Jerman ini bertutur secara fasih mengenai Distro yang merupakan fenomena tersendiri di Bandung. Bahkan menurutnya Distro juga dapat menjadi rujukan dalam mempelajari budaya Indonesia, selain dari musik dan tariannya. Martin Fuck juga dengan gamblang mengupas sejarah distro yang dimulai pada awal tahun 2007 dimana dampak dari krisis ekonomi di Indonesia mulai dirasakan dan memaksa masyarakat membeli barang-barang sandang produksi dalam negeri karena tak lagi bisa menjangkau harga barang-barang merek asing. "Selain sebagai fenomena fashion tersendiri, distro juga menjadi pengerak roda ekonomi karena turut menyumbang 15% pendapatan Bandung dengan omset sebesar Rp. 250 milyar lebih serta memperkerjakan 3000 orang, demikian papar Martin Fuch.

Lain Martin Fuch, lain pula Dominik Besier. Pemuda dari Hamburg ini mengupas masalah pendidikan di Indonesia yang dianggapnya sebagai medan peperangan baru, dimana masih banyak sekali daerah-daerah yang masih belum mendapatkan pendidikan memadai seperti kurangnya sarana dan prasarana serta jumlah guru. Besier juga menekankan pentingnya memperhatikan kebutuhan masyarakat lokal yang seharusnya diselaraskan dengan materi pendidikan yang diberikan. "Apa yang diperlukan di Sulawesi, akan berbeda dengan apa yang diperlukan oleh Nusa Tenggara. Pendiddikan dalam hal ini harus disesuaikan untuk menjawab kebutuhan masyarakatnya yang berbeda-beda", demikian ungkap Besier. Hal menarik yang disambut tepukan penonton adalah bagaimana dirinya menggambarkan materi pendidikan lokal/regional sebagai dasar, nasional sebagai tembok dan internasional sebagai atap. "Indonesia kerap lebih mempertebal tembok dan atap tapi tak memperkuat dasar sehingga pendidikan Indonesia kerap kali runtuh karena tak ditunjang dengan pondisi yang memadai", demikian tuturnya.

Martin Fuchs dan Dominik Besier merupakan dua dari enam peserta yang berhasil memasuki babak final Lomba Pidato Bahasa Indonesia yang diselanggarakan di seluruh Jerman pada tanggal 26 Mei atau Sabtu lalu. Keenam peserta sebelumnya telah melalui babak penyisihan yang diikuti oleh 19 orang yang berasal dari berbagai negara bagian di seluruh Jerman yang diseleksi di Perwakilan RI di Frankfurt, Hamburg dan Berlin.

Lomba Pidato Bahasa Indonesia ini merupakan aktivitas perdana yang dilakukan di Rumah Budaya Indonesia yang diresmikan pada hari yang sama. Lomba ini juga dilakksanakan sebagai salah satu program dalam rangka perayaan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Jerman. "Positifnya respons dari masyarakat Jerman atas lomba ini membuat program ini akan dilaksanakan secara regular setiap tahun",demikian konfirmasi Dubes RI untuk Jerman Dr. Eddy Pratomo yang membuka acara lomba.

Lomba yang menyisakan Dominik Besier sebagai pemenang pertama ini berlangsung dengan sangat meriah. Respons langsung dari para penonton saat mereka menyampaikan pidatonya seringkali disambut tawa geli dan tepukan tangan dari penonton baik yang berasal dari masyarakat Indonesia di Jerman maupun orang Jerman asli.

Lomba ini mensyaratkan untuk diikuti oleh penutur bahasa Jerman asli yang berusia 20 – 40 tahun dari berbagai profesi, yang bukan orang Indonesia atau penutur asli Bahasa Indonesia. Tema yang disyaratkan untuk dibawa mencakup berbagai hal misalnya; „Indonesia menurut pandangan masyarakat Jerman", „Indonesia dengan prospek dan tantangannya", serta berbagai topik menarik lainnya mengenai Indonesia dalam perspektif masyarakat Jerman.

Topik tersebut disambut oleh peserta dengan berbagai ulasan mendalam dan terinci dalam pidatonya. Jan Budweg peserta dari Hamburg misalnya. Dirinya memberikan paparan yang sangat akademis mengenai keberadaan UU No 24 tahun 2009 Pasal 33 yang menggarisbawahi keharusan penggunaan bahasa Indonesia dalam komunikasi resmi di lingkungan kerja pemerintah dan swasta. Hal yang mana menurut Jan berdampak sangat besar karena berarti mengharuskan pula semua pekerja asing di Indonesia untuk mampu berbahasa Indonesia.Hal ini berarti membuka peluang bagi pengajaran Bahasa Indonesia di seluruh dunia.

Dewan juri yang terdiri dari Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Berlin Ayodhia Kalake, mantan Atase Pendidikan RI di Jerman Dr. linda Aliwarga serta akademisi Jerman ahli Indonesia dari Universitas Leipzig Dr. Thoralf Hanstein ini mengakui sangat sulit menentukan para pemenang. „Semua finalis dinilai sangat baik dan layak disebut pemenang", demikian tutur Ayodhia Kalake ketua dewan juri. dengan berbagai pertimbangan matang dari seluruh dewan juri maka pada akhirnya diputuskan Dominik Besier sebagai pemenang pertama dan menggondol hadiah berupa tiket perjalanan pulang-pergi ke Indonesia.