Senin, 2 April 2012 – 05:20 WITA Telah dibaca 1058 kali

Aki Temboan Menggema di Rancho Cucamonga California

Aki tembo-boan, gunung kalabat, natewo genenang selalu wia niko… Manape pelabuhan Manado ku selalu ma denge-denge pe niko… Demikian penggalan lagu Aki Tembo-boan yang secara keseluruhan Sabtu (31/3) kemarin menggema di Rancho Cucamonga hal California lewat suara merdu wanita asli Minahasa Jein Maringka. Tidak hanya itu, dalam kaitan dengan acara perayaan syukur HUT Pernikahan ke-50 tahun atau yang lebih popular dengan istilah kawin emas Ketua Kawanua USA Emile Mailangkay beserta istri, juga diisi dengan atraksi tarian Kabasaran (Cakalele) oleh putra-putri Kawanua USA dan tarian Maengket oleh Ikatan Wanita Kawanua USA.

Acara yang turut dihadiri langsung Konsulat Jenderal RI (KJRI) untuk Los Angeles Hadi Hartono beserta istri Jenny Hartono tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga benar-benar nuansanya kental Minahasa. '‘Sedapat mungkin, setiap kali warga Kawanua USA akan mengadakan suatu hajatan pasti akan ditampilkan berbagai atraksi budaya SULUT seperti Maengket, tari perang Cakalele, dan Chaka-chaka’,' Ujar Emile Mailangkay sembari mengatakan bahwa hal ini merupakan suatu upaya pelestarian budaya SULUT, juga mencegah jangan sampai anak cucu dari para warga Kawanua USA yang sudah hidup bertahun-tahun di negeri Paman Sam tersebut tidak kenal dengan kebudayaan daerah asal mereka.

Dan upaya pelestarian budaya ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga Kawanua USA, terlebih mereka yang sudah belasan tahun bahkan puluhan tahun menetap di Amerika. '‘Waktu di Manado lalu saya tidak pernah menyaksikan langsung, tarian Kabasaran. Nanti di Amerika sini saya bisa melihat dari dekat tarian Cakalele tersebut’,' ujar salah satu warga Kawanua USA Grace Manampiring.

Selanjutnya, wanita cantik yang sudah 15 tahun tinggal di Fullerton California ini menceritakan bagaimana kerukunan yang terjalin dari para Kawanua USA khususnya mereka yang berdomisili di Negara bagian California. '‘Sekalipun jarak tempat tinggal berjauhan, dan masing-masing kami ada kesibukan tapi kami tetap menyiapkan waktu untuk bertemua dan latihan tari Maengket, Chaka-chaka, bahkan lagu-lagu Minahasa’,' akunya sembari menjelaskan agar lebih kental nuansa Minahasa, pakaian para penari Maengket ataupun Cakalele itu dipesan langsung dari SULUT dengan menonjolkan motif kain bentenan ataupun Pinabetengan. (Jubir Pemprov SULUT, C. H. Sumampow, SH, M.Ed)