Selasa, 27 Desember 2011 – 08:17 WITA Telah dibaca 579 kali

Vaclav Havel: Pembangkit Revolusi Damai dari Chek

Oleh: Harry Kawilarang

Pernah di bulan Oktober 1990, pesawat Aerovlot yang saya tumpangi mendarat di bandara internasional, Ruzyně di pinggir kota Praha. Setelah mengambil bagasi dan keluar dari ruang pemeriksaan bea & cukai, tiba-tiba terdengar sirene motor kawal di ikuti sebuah mobil di belakang dan berhenti di depan terminal bandara. Terlihat seorang lelaki berbadan atletis berambut agak gondrong, berkumis tebal memakai kaos tangan panjang dan celana jeans luntur keluar mobil. Gayanya menarik, dan simpatik serta ramah kepada siapa saja yang bertatap muka dengannya di bandara. Saya bertanya: "Siapa tuuh?" kepada penjemput dari protokol Deplu Chekoslovakia (waktu itu).

Yang ditanya langsung menjawab: "Itulah Presiden Vaclav Havel". "Apa?", tanya saya tertegun. "Iya, itu dia" seloroh sang protokol. "Jangan heran, presiden ini sederhana,dan sangat informal, dan kemanapun ia pergi tak mau pengawalan ketat", lanjut nya. Sungguh mengagumkan, penampilan pemimpin Revolusi Beludru Chekoslovakia mengusir militer Soviet yang angker dan berkuasa selama 40 dan berakhir pada 1989.

Vaclav Havel adalah figur hak azasi dan pahlawan demokrasi gigih tanpa henti berhasil menumbangkan kekuasaan komunisme. Karena kesuksesan dan keberaniannya hingga ia diakui sebagai lambang pembebasan internasional. Walau dari keluarga berada, tetapi ia meniti identitasnya sendiri. di mulai ketika menjadi asisten perusahaan bir yang kecil karena tidak diperbolehkan melanjutkan pendidikan oleh sikap fokal terhadap rezim komunis. Havel pembela hak azasi manusia, pembebasan dari tekanan manusia atas manusia di negeri tirai besi sekalipun harus berkali-kali masuk bui.

Namun kelemahan dari Vaclav Havel adalah perokok berat, hingga racun nikotin menggerayang tubuhnya dan tak ayal menderita penyakit paru-paru yang kronis. Sudah beberapa kali dilanda gering, namun tetap saja penyair ini tidak berhenti merokok. Akibatnya, nyawa menjemputnya pada hari Minggu 18 Desember 2012 di usia 75 tahun, menjelang umat Kristen bersiap diri menyambut natal.

Havel dilarang melanjutkan profesi sebagai penyair yang disegani dan dikenal publik karena tulisan-tulisannya begitu tajam. Larangan ini terjadi ketika pasukan Soviet menyerbu Chekoslovakia pada Agustus 1968. Iapun dijebloskan ke penjara sebagai tahanan politik. Tetapi di penjara justru produktif hingga diwaktu mendatang menjadi ketua kelompok filsuf yang di jabat hingga kematiannya.

Teman-teman dekat Havel menilainya sebagai sosok urakan, tetapi berani mempertahankan prinsip dan idealismenya dan tidak gentar. Ia menulis kepada Presiden Alexander Dubcek pada 1968: "Walau mempertahankan moral sangat sukar untuk melawan arus, tetapi waktu yang menentukan bahwa politik itu tidak selamanya abadi, dan pasti akan hanyut juga oleh perjalanan waktu, dan moral akan keluar juga sebagai pemenang".

Ketegaran, ketekunan dan keuletannya hingga ia memperoleh kharisma, terutama di kalangan muda-mudi dan berhasil memimpin Revolusi Beludru dukungan sekitar 300.000 massa damai di penghujung 1980’an. Sekilas sejarah Chek Cekoslovakia merdeka pada Oktober of 1918, sebagai bekas jajahan dinasti imperum Austro-Hungaria pasca Perang Dunia II yang merupakan dari hasil persetujuan Perjanjian Versailles.

Waktu itu wilayah kedaulatannya terdiri dari daerah Chek, Slovakia dan Karpatia Ruthenia. Kawasan ini merupakan pusat perindustrian dan menjadi tulang punggung perekonomian dinasti Austria-Hongaria. Masa Perang Dunia, Chekoslovakia di caplok oleh Nazi Jerman pimpinan Adolf Hitler. Setelah usai Perang Dunia II, Chekoslovakia memperoleh kemerdekaannya kembali, kecuali Karpatia-Ruthenia oleh Uni-Soviet dimasukkan kedalam wilayah Republik Sosialis Soviet Ukrainia. Pada 1948 Chekoslowakia dikuasai oleh kaum komunis. Pada 1960’an Chekoslovakia mengalami aksi kebangkitan kelompok demokrasi.

Hal ini terjadi ketika Alexander Ducek yang reformis menjadi Ketua I Partai Komunis Chekoslovakia dan ingin melakukan reformasi dan mengubah sosialisme lebih manusiawi (Socialism with a human face). Dubcek gagal meyakinkan para pemuka komunis yang sangat kolaboristik dibawah pengaruh Moskow. Pimpinan Soviet, Leonid Brezhnev menuduh Dubcek ingin mengubah sosialisme Marxisme-Leninisme menjadi kapitalis. Akibatnya, lima anggota Blok Timur yang tergabung dalam Pakta Warsawa pimpinan Moskow melakukan invasi terhadap Chekoslovakia. Bersama pasukan Pakta Warsawa pimpinan Soviet masuk Chekoslovakia dini hari 20–21 Agustus 1968. Dubcek dipecat dari partai pada April 1969.

Tetapi invasi Soviet mendapat reaksi spontan dari masyarakat, terutama kaum muda giat melakukan gerakan non-kooperasi sebagai protes. Aksi ini cepat menyulut dan menyebar luas. Perjuangan Vaclav Havel Pada minggu pertama invasi Soviet bersama sekutu Pakta Warsawa, suara Havel berkumandang liwat radio Bebaskan Chekoslovakia di Liberec. Akibat gerakan Praha (Prague Spring) ia dilarang melakukan pagelaran teater karena berbau politik. Vaclav tetap berkarya dengan nama samaran Ferdinand Vanek. Kumpulan syairnya di bukukan dengan judul Charter 77 Manifesto. Ide ini muncul untuk mendukung para anggota band musik The Plastic People of the Universe atau dikenal dengan The Plastics.

Band ini di dirikan oleh Milan "Mejla" Hlavsa yang bermain bas pada 1968. Band ini beraliran rock Underground banyak dipengaruhi oleh gaya pemusik Frank Zappa dengan grup musiknya, Mothers of Invention dan juga grup musik Velvet Underground. Penampilan mereka selalu mendapat sambutan hangat massa anak muda Chekoslovakia. Syair dan lirik serba Under ground menyindir rezim komunis dan invasi Pakta Warsaw membangkitkan semangat anak-anak muda menyemarakkan aksi protes. Grup musik inipun di tangkap. Justru penangkapan ini tambah menyulut anak-anak muda karena idola mereka di tahan dan memberi semangat perjuangan kepada Vaclav Havel dan teman-teman.

Vaclav ditahan pada Juni 1979 hingga Januari 1984. di bui ia berkarya dan kumpulan tulisannya dibukukan berjudul Surat-surat kepada Olga mengenang mendiang isterinya. Salah satu karya tulisan esai Havel terkenal adalah Post of of the Powerless (Pasca Totaliterisme), menjadi istilah dan digunakan dalam ilmu-ilmu sosial dan politik modern mengenai orang melakukan "Hidup dalam kebohongan". Esai "orang yang tidak sepakat" (dissident) menjadi konsep dan mengilhami terwujudnya Revolusi damai. Bahkan konsep ini ikut menyemarakkan perjuangan revolusi damai anak-anak muda Arab di Timur-Tengah terhadap pembiusan otoriterisme dan sektarianisme yang membawa penderitaan dan pembodohan.

Theori domino juga berlaku dengan tumbangnya rezim komunis di Rumania, Bulgaria, Hongaria, Polandia dan Jerman Timur. Juga merembet ke Yugoslavia dan Uni Soviet di awal 1990’an. Sejak itupun istilah "sosialis" sebagai kesatuan dibawah kekuasaan sentralisme, berubah dengan "federalIsme".

Terapan ini juga berkembang di Chekoslovakia dan dimulai pada 29 Maret 1990 dengan dilakukannya otonomisasi. Kemudian berlanjut untuk mengatasi sentimen nasionalisme regional di Chekoslovakia hingga terjadi pemisahan cara damai. Sekalipun menjadi Presiden, tetapi Vaclav Havel cukup realistis dan jernih hingga tidak ingin melanjutkan kebijakan sentralisme. Pihak parlemen pada 1 Januari 1993 secara resmi memisahkan kesatuan Chekoslovakia menjadi dua Negara merdeka, masing-masing Republik Chek dengan ibukota Praha dan Republik Slovakia dengan ibukota Bratislava.