Selasa, 12 Februari 2013 – 21:14 WITA Telah dibaca 847 kali

Mundurnya Paus dan Kekosongan Tahta Gerejawi

Paus Benediktus XVI (foto: ist)

SUARA MANADO, Vatican: Melalui juru bicara Tahta Suci Vatikan Federico Lombardi disampaikan berita tentang pengunduran diri Paus Benedictus ke XVI. Bapa Suci Gereja Katolik Roma mengundurkan diri karena alasan kesehatan dan kebugaran fisik (bukan karena sakit) yang dirasa tidak mampu lagi bertindak gesit dalam mengikuti pergerakan jaman yang sangat cepat.

Abdikasi atau pengunduran diri Paus yang berumur 85 tahun ini akan berlaku sejak tanggal 28 Februari mendatang, tepatnya pukul 20.00 malam waktu Roma. dengan berlakunya abdikasi ini maka Paus Benedictus ke XVI tidak akan melakukan tugas-tugas Pontificalnya sebagai pimpinan tertinggi Gereja Katolik Roma.

Sejak tanggal itu di tahta suci Roma akan terjadi Sede Vacante, kekosongan dalam tahta gerejawi. Dalam masa ini tugas-tugas Paus akan diambil oleh Dewan Kardinal dengan kewenangan terbatas. Pada masa ini kantor pos Vatikan juga akan menerbitkan perangko khusus yang disebut sebagai perangko sede vacante.

Peristiwa pengunduran diri Paus saat masih hidup merupakan peristiwa yang jarang terjadi meski dengan alasan sakit sekalipun. Namun hal itu dimungkinkan berdasar kanon yang diumumkan oleh Paus Selestinus V pada tahun 1294. Hukum kanon itu sejcara jelas memberikan hak kepada Paus mengundurkan diri ketika menjabat.

Paus terakhir sebelum Benedictus ke XVI yang mengundurkan diri adalah Paus Gregorius XII pada tahun 1409, pengunduran diri Paus ini dilakukan untuk menghindari skisma, perpecahan di dalam Gereja katolik Roma. Pada saat itu ada tiga orang yang menyatakan berhak atas tahta kepausan dari Paus Gregorius XII.

Paus Yohannes Paulus ke II pernah didesas-desuskan hendak mengundurkan diri dari tahta kepausan juga karena alasan kesehatan. Selain itu juga pernah diisukan hendak mundur untuk kembali ke Polandia dan memimpin gerakan oposisi disana untuk melawan rezim komunis. Namun isu itu tak pernah terbukti dan Paus Yohannes Paulus ke II, mengakhiri tahta kepausannya karena meninggal dalam usia tua.

Berapa lama masa kekosongan tahta suci akan berlangsung? Yang terakhir ketika Paus Yohannes Paulus ke II meninggal, masa kekosongan tahta berlangsung selama 17 hari. Pada masa sebelumnya, saat Paus Yohannes Paulus ke II terpilih, masa kekosongan tahta karena meninggalnya Paus Yohannes Paulus I adalah 19 hari.

Dalam sejarah tahta suci semenjak abad ke 19, masa sede vicante terlama terjadi pada saat peralihan tahta suci dari Paus Pius VIII kepada Paus Gregorius ke XVI yaitu 63 hari. Ketika pengunduran diri Paus Benekditus ke XVI berlaku maka para Kardinal dari seluruh penjuru dunia akan berkumpul di Vatikan.

Saat ini ada kurang lebih 140 orang Kardinal, mereka akan berkumpul sebagai Dewan Kardinal bersama-sama untuk membimbing Gereja namun dengan kewenangan terbatas. Dewan Kardinal misalnya tidak berwenang untuk menunjuk seorang uskup baru yang adalah kewenangan dari Paus.

Sekurang-kurangnya setelah 15 hari dari masa abdikasi Paus, Dewan Kardinal akan mengadakan konklaf, ritual pemilihan Paus baru. Istilah konklaf pertama kali dipakai oleh Paus Gregorius X pada Juli 1274 saat mengumumkan peraturan prosedur pemilihan Paus, yang dilakukan di dalam sebuah lokasi pertemuan yang ditutup rapat.

Dalam konklaf terakhir saat Kardinal Joseph Ratzinger yang kemudian memakai nama Paus Benediktus ke XVI terpilih ada 115 kardinal yang mempunyai suara. Kardinal Julius Darmaatmaja dari Indonesia adalah salah satunya. Desember 2013 nanti Kardinal Julius Darmaatmaja akan berumur 80 tahun batas terakhir seorang kardinal mempunyai suara dalam konklaf pemilihan Paus. Maka Kardinal Julius Darmaatmaja yang kini menetap di Pondok Emaus Wisma Girisonta sebagai Uskup Emeritus masih berhak untuk mengikuti konklaf dan memberikan suaranya bagi Paus baru untuk menduduki tahta Suci Gereja Katolik Roma.

Selama masa konklaf para Kardinal dilarang berhubungan dengan dunia luar, namun kini para Kardinal tidak lagi diisolasi dalam ‘sel-sel’ disekitar Kapel Sistina sebagai tempat pelaksanaan konklaf. Para kardinal akan tinggal di Domus Sanctae Marthae, rumah Santa Marta yang lebih nyaman. dan di rumah Santa Marta itu tidak hanya tinggal para Kardinal yang akan mengikuti konklaf melainkan juga para pembawa acara, para Imam Pengakuan dosa, dan para pembantu, yang telah mengambil sumpah untuk menjaga kerahasiaan dan menjalankan aturan-aturan gereja.

Tanda seorang Paus baru terpilih adalah keluarnya asap dari kapel Sistina. Asap itu berasal dari pembakaran kertas suara yang diberi tambahan bahan kimia tertentu sehingga mengeluarkan asap berwarna putih yang bisa dengan jelas dilihat dari halaman basilika St. Petrus.

Dalam konklaf, setelah seorang Paus terpilih, Dekan, Kardinal yang memimpin sidang akan bertanya kepada yang terpilih apakah bersedia menerima tanggungjawab dan bila ya akan ditanyakan nama apa yang hendak dipakai. Setelah prosesi ini selesai, maka akan dilakukan pengumuman hasil pemilihan konklaf yang disebut dengan Habemus Papam, artinya Kita memiliki Paus yang berarti masa sede vacante telah berakhir.

Pengumuman ini diberikan dari atas Balkon Basilika Santo Petrus. Setelah pengumuman, Paus yang baru akan keluar dan menyampaikan khotbah pertamanya, Urbi et Orbi, kalimat pembukaan "kepada kota [Roma] dan kepada dunia" untuk pernyataan ke-Paus-an dan berkat apostolik pada kota Roma dan seluruh dunia.

Siapakah Paus baru yang akan mengantikan Benediktus ke XVI tentu saja belum ada yang tahu. Mungkin hari-hari ke depan ini akan diramaikan dengan berbagai spekulasi dan nama-nama yang potensial untuk menjadi Paus dalam masa ke depan. Siapapun boleh bersuara dan berharap, namun pemilihan tetap akan ada di tangan dewan Kardinal yang mempunyai hak suara.