Selasa, 20 Desember 2011 – 08:08 WITA Telah dibaca 3202 kali

Kronologis Perang Dunia Kedua (Bagian III-bersambung)

Awal Dibukanya Tirai-isolasi Hingga Pengembangan Semboyan Sonno Joi

Sebelum awal pertengahan abad ke-19 Jepang menutup tirai terhadap budaya dan unsur luar, walau telah berkali-kali bangsa Eropa berusaha mendesak penguasa Jepang untuk membukakan pintu. Pada masa itu bangsa-bangsa Eropa telah menguasai bangsa-bangsa Asia di belahan Samudera Hindia, yang meliputi negara-negara Oriental, yakni India di anak benua Asia, Asia Tenggara, menembus juga daratan Cina, bahkan juga benua terkecil Australia. di wilayah Utara, Rusia pun menguasai hingga wilayah Siberia.

Amerika ketika itu ingin memanfaatkan pula kehadirannya di Asia. dan inipun dilakukan pada pertengahan abad XIX. dengan kapal-kapal layar merekapun menyeberangi Lautan Teduh untuk membuka perdagangan dengan bangsa-bangsa di Timur (waktu itu masih lagi melalui Atlantik, karena Terusan Panama belum lagi dibangun).

Amerika ingin mendapatkan pangkalan lautnya sebagai persinggahan kapal-kapalnya. Sasarannya adalah Edo. Tetapi setelah tidak berhasil mendapat izin melalui perundingan. Akhirnya pada tahun 1853 Commander Mathew Perry mengarahkan meriam-meriam kapal perangnya kedaratan Jepang untuk menundukkan penguasa Tokugawa di Edo. Perry menang, hingga sejak tahun 1854 itu pihak Tokugawa menandatangani perjanjian untuk memberikan izin kepada Amerika menempatkan perwakilan dagangnya, Townsend Harris.
Kemudian sejak tahun 1858, usaha ini meningkat dengan hubungan dagang. Pelabuhan Yokohama yang letaknya dekat Edo dan beberapa pelabuhan lainnya di Jepang mulai ramai dimasuki orang-orang Eropa. Pihak Jepang memang dirugikan, karena orang-orang Eropa selain membuka perwakilannya, juga menempatkan pasukan-pasukan keamanan serta memberlakukan Undang-undangnya di daerah perwakilannya. Jepang ketika itu sudah mulai memasuki pra-industri untuk menunjang ekonomi negerinya. Tetapi sejak hadirnya perjanjian dagang, tarip-tarip industri ini telah ikut pula meningkatkan roda produksi ekonominya untuk melayani permintaan negeri Barat.

Tetapi hal ini tidak dapat dinikmati secara merata, karena masih berlakunya sistem feodal kolot hingga pada masa sebelum kedatangan orang-orang Barat mengalami hambatan.

Walaupun orang-orang Barat sudah berhasil men-"jinak"-kan tirai isolasi Jepang, tetapi perkembangan niaga tidak meningkat sesuai dengan yang diharapkan pihak Barat. di satu pihak adanya hambatan sistem pemerintahan Tokugawa, di sisi lain masyarakat setempat masih asing untuk menerima barang-barang bikinan luar negeri. Produksi utama Jepang ketika itu adalah sutera, dan menjadi kegemaran masyarakat Eropa, dan ini banyak mendukung mantapnya perdagangan Jepang. Namun dengan dibukanya tirai isolasi begitu tiba-tiba, hingga merubah struktur mekanisme di bidang pemasaran dan moneter. Tidak kalah pentingnya mempengaruhi pula sistem pemerintahan.

Kekuasaan Shogun yang memiliki kekuatan militer dan sebenarnya menjadi pelindung keamanan di Jepang ternyata tidak memegang peranan yang diharapkan masyarakat ketika Perry mengadakan penyerangan. Wibawa Shogun yang selama ini di pimpin oleh dinasti Tokugawa sejak tahun 1600, menjadi sirna.

Kecaman-kecaman mulai melanda, karena penguasa di Edo gagal membendung dominasi dan kekuatan bangsa Barat. Usaha untuk menumbangkan kekuasaan Tokugawa-pun meningkat. Golongan moderat Jepang mengadakan konsolidasi di Edo dan Kyoto. dengan slogan Sonno Joi, menjunjung tinggi Tenno Heika dan mengusir orang-orang Barbar mereka menimbulkan anti Tokugawa. Untuk mengusir orang-orang Barat oleh beberapa cendekiawan Jepang menyadari bahwa usaha ini dapat dilakukan dengan menciptakan kekuatan militer dan mengembangkan teknologi ekonomi yang berasal dari Barat serta memperjuangkan persamaan politik.
Kemelutpun mulai terjadi, mengakibatkan dibunuhnya beberapa shogun. Slogan Sonno Joi berkembang subur di dua tempat masing-masing di daerah Satsuma di ujung Selatan Kyushu dan daerah Chosu di ujung Barat Honshu. Samurai di Satsuma mencari sasaran pada orang Barbar kulit putih, membunuh seorang Inggris di Yokohama. Akibatnya, armada Inggris pada tahun 1863 menghantam kota Kagoshima.

Sementara itu di Chosu para Samurai mengadakan pengusiran pula pada kapal-kapal para Barbar yang melintasi Selat Shimoniseki. Akibatnya kapal-kapal para Barbar menghancurkan benteng-benteng di Chosu. Slogan menghadapi Barbar ditambah fukoku-kyohei, "Negara Kaya, Militer Kuat".
Mereka yang pernah mempelajari teknologi Barat melalui "orang-orang Belanda" dimanfaatkan. Penggunaan orang-orang Barat untuk menimba pengetahuan bertambah, semenjak Jepang membuka pintu terhadap dunia luar.

Slogan-slogan yang diciptakan pada pertengahan abad ke-19 telah menimbulkan benih reformasi, dan menggoyahkan pengaruh dinasti Tokugawa serta menimbulkan perpecahan. Tuan-tuan tanah terlihat saling bergumul untuk mendapatkan pengaruh kekuasaan di lingkungan istana kerajaan Tenno Heika di Edo dan pusat pemerintahan di Kyoto.

Sudah berbagai usaha dilakukan untuk mengatasi kemelut itu. Pada akhirnya timbul koalisi dari Satsuma, Chosu dan beberapa tuan tanah di luar lingkungan istana mengambil alih pemerintahan, dan mengatas-namakan Tenno Heika.
Pernyataan ini terjadi pada 3 Januari 1868 dan mengembalikan hegemoni dan hak kekuasaan langsung kepada Tenno Heika. Beberapa shogun dan tuan tanah menyambutnya dengan setengah hati. Tetapi sekelompok pasukan kerajaan melakukan aksi tindakan di Edo dan mengakhiri kekuatan Tokugawa yang berkuasa selama dua setengah abad.

Kepemimpinan kekuatan kerajaan yang kelihatannya dikuasai oleh beberapa pangeran, bangsawan dan tuan-tuan tanah. Tetapi sebenarnya pada kenyataannya, policy-maker untuk membuat keputusan terdiri dari samurai-samurai muda yang mendambakan reformasi. Mereka ini terdiri dari samurai-samurai tingkat menengah dan bawah yang umumnya berasal dari Satsuma dan Chosu. Mereka ini menyadari, adalah tidak realistis untuk mengusir orang-orang Barbar dengan kekuatan fisik. Dalam usaha menuju ke reformasi, merekapun menerima teknologi modern. Tujuannya adalah untuk melanjutkan perjuangan, "menghadapi bangsa Barat harus digunakan senjata-senjata Barat pula. Untuk menghindari perpecahan, Tenno Heika tetap dipertahankan sebagai pemimpin sentral (central-figure).

Pimpinan sentral pada waktu itu baru berusia 15 tahun. Tenno Heika ini memindahkan kediamannya di sebuah istana shogun di Edo. Nama Edo-pun berubah menjadi Tokyo yang artinya "Ibu Kota Timur".

Transformasi masa itu dikenal sebagai Restorasi Meiji dengan Kaisar Mutsohito yang dikukuhkan pada tahun 1868. Adanya perubahan pemerintahan, timbul pula perubahan sistem. Pada tahun 1869 rezim ini mengadakan perubahan dengan menganjurkan para tuan-tanah meregistrasikan tanah-tanah mereka pada Tenno Heika, dan sebagai imbalan istilah Domain berubah dengan jabatan Gubernur. Dua tahun kemudian pemerintahan setempat oleh pihak istana ditunjuk pejabat-pejabat yang menjalankan perbaikan administrasi pemerintahan pada bekas-bekas domain yang telah berubah menjadi provinsi.

Para samurai yang selama ini digunakan oleh para domain tak memperoleh hak-hak istimewa lagi. Untuk itu pemerintah pusat pada tahun 1873 mengadakan perubahan sistem guna menampung para samurai ini dalam satu kesatuan menjadi barisan Angkatan Bersenjata yang berdisiplin dan langsung mengabdikan diri pada kekaisaran Jepang. Penertibanpun dilakukan pada 1876. Parasamurai tidak diperkenankan berkeliaran dengan pedang.
Resotrasi Meiji berhasil mengadakan modernisasi pemerintahan disesuaikan dengan sistem yang berlaku di dunia Barat pada abad ke-19.

Sistem kementerian diciptakan. Kementerian Keuangan yang juga didirikan ketika itu memegang peranan yang besar. Kementerian Angkatan Darat dan Kementerian Angkatan Laut yang dimasukkan dalam kabinet di tahun 1879 yang bentuknya sama dengan model staf-Jendral Jerman. Kementerian Pendidikan juga memegang peranan dengan mengadakan program pendidikan secara meluas pada awal tiga dekade. Lembaga-lembaga resmi gaya
Prancis dan Jerman juga dibentuk. Penertiban anggaran pendapatan pemerintah dan pajak ditingkatkan pengetahuannya serta dijalankan dengan ketat. Pihak Jepang dapat menjalankan mekanisme pemerintahan ini bahkan lebih baik ketimbang pemerintahan di Eropa sendiri. Pada masa yang bersamaan sistem ekonomi juga dimodernisasikan.

Sistem perbankan diciptakan. Sistem moneter dengan menetapkan mata uang Yen sebagai alat pembayaran yang sah. Nilai Yen waktu itu sama dengan US$0,50. Pembangunan berjalan pesat. Pelabuhan-pelabuhan diperbaiki. Sarana-sarana komunikasi yang menghubungi antar kota dibangun. Jaringan kawat telegram, rel-rel kereta api, dan jalan darat yang menghubungkan Tokyo dengan pelabuhan Yokohama terwujud pada 1972. Pengolahan industri sutera yang ketika itu menjadi komoditi utama dirubah menjadi mekanis.

Jepang juga membangun industri militer, dan membuka tambang-tambang. Selain itu juga merintis pembangunan diluar bandar. Untuk memperkuat ketahanan wilayah dari Rusia, di Hokaido dilakukan program menyuluh penduduk setempat, membangun serta memperbaiki sistem agraria yang modelnya dilakukan cara Amerika, lengkap dengan gudang gandum dan ternak. Untuk menambah pengetahuan, para pemuda dan mahasiswa dikirim ke Luar Negeri memperdalam teknologi di berbagai bidang. Ahli-ahli dari Eropa juga didatangkan, dengan jalan menyewa untuk mendapatkan ilmu, dengan pembayaran tinggi.

Dibanding dengan negara-negara lain yang masih membangun tatkala itu, Jepang tidak ingin meninggalkan "hutang budi" dengan memperoleh bantuan cuma-cuma. Sungguhpun begitu merekapun menerima pelajaran cuma-cuma, terutama dari para misionaris Protestan dari Amerika yang memberi pelajaran bahasa Inggris di Jepang tanpa dipungut bayaran. Tetapi pembaruan yang diciptakan membawa akibat pula.

Karena disamping membangun, timbul pula golongan oposisi, yang umumnya datang dari golongan samurai. Pada tahun 1877 terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh golongan samurai di Satsuma yang tidak puas dengan struktur pembaruan dalam Angkatan Bersenjata. Aksi Pemberontakan ini berhasil dipadamkan oleh Tokyo.

Di lain pihak, hadirnya pembangunan pesat sedang realisasi dari pemanfaatannya belum terlihat langsung, telah menimbulkan krisis keuangan. Salah satu penyebabnya adalah terlalu luwes melayani golongan samurai, terutama bila mereka (samurai ini) menjalani masa pensiun. Selain itu tekanan-tekanan yang ditimbulkan oleh golongan samurai yang ingin menguasai. Hal ini menimbulkan inflasi di tahun 1880. Pada tahun 1881, pemerintah Tokyo harus menjalankan penghematan ketat dan menjual beberapa proyek industri, pertambangan, termasuk proyek agraria di Hokkaido dengan harga di bawah standar guna mengatasi inflasi. Yang tetap dipertahankan dalam industri pemintalan yang mutunya menyamai Eropa. Neraca inflasi mulai menurun setelah beberapa industri lainnya mulai menghasilkan dan dapat berdiri sendiri. Setelah melewati masa dua dekade, pemantapan ekonomi mulai ada perbaikan. Pemerintah baru telah memperoleh kekuatan dalam usahanya untuk membendung kekuatan Barat melalui jaminan Angkatan Perang dan bidang ekonomi yang berhasil dibangunnya. Pada masa itu tidak terlihat adanya negara-negara di Asia yang dapat melakukan seperti di Jepang yang bangkit dengan pembangunannya untuk menyamai superioritas teknologi militer dan ekonomi bangsa kulit putih.

Di Cina yang merupakan negeri besar misalnya, walaupun telah terjadi perubahan dinasti ditahun 1840, selama lebih dari satu abad tidak berhasil menciptakan suatu sistem perubahan ke arah pembangunan. Sedang negeri-negeri Asia lainnya belum timbul suatu kekuatan nasionalisme dari cengkeraman kolonialisme setelah Jepang berhasil mengalahkan kekuatan Rusia di Selat Tsushima dalam perang Ruso-Nippon tahun 1904–1905. Jepang ketika itu memang berhasil menciptakan Orde Baru di segala bidang. Pembangunan Orde Baru pada masa Restorasi Meiji, telah berhasil membawa perubahan suatu sistem pemerintahan yang dianut di negeri negeri Barat dalam kurun waktu tiga dekade. Hal ini terjadi berkat slogan "Mengusir orang-orang Barbar, juga dengan cara pengetahuan Barbar".

Dalam usaha mendapat persamaan hak di kalangan kekuatan bangsa Barat, dengan melakukan beberapa reformasi dengan pengetahuan-pengetahuan, telah berhasil pula menyingkirkan cara negara-negara Barat tidak mengakui kenyataan ini, tetapi dengan menghadapi cara badan-badan institusi yang sama dianut oleh negara-negara Barat, hingga dapat diterima pula. Pemerintahan dalam negeri sudah dibenahi. Pemerintahan Jepang di tahun 1880 dirubah pula dengan konstitusi gaya Eropa, lengkap dengan parlemen. di antara tokoh pada masa Restorasi Meiji, Itagaki dari daerah Tisa di Shikoku mengkonsolidasikan beberapa samurai untuk menjadi Partai Politik Gerakan Kebebasan Hak Azasi Manusia. Partai ini yang bergerak untuk membantu pengusaha-pengusaha lemah di daerah dan petani yang selalu tertekan akibat diburu pajak yang dianggap awam. Gaya ini diambil Itagaki dari sistem yang dilakukan di Prancis. Partai ini langsung mendapat dukungan.

Partai Politik lainnya dibentuk oleh Okuma, bekas pejabat pemerintahan Meiji dalam cara membimbing Lembaga Bantuan Wiraswasta, dan juga mendapat bantuan dari kalangan pengusaha. Akibatnya, Okuma dipecat dari jabatan. Bentuk ini diambil dari gaya parlemen Inggris. Sistem partai-partai politik gaya Barat juga dilakukan oleh seorang bekas samurai, Ito yang mengikuti sistem Jerman. Hal ini menjadikan pemerintahan Meiji mengenal sistem konstitusi Barat. Dalam mewujudkan konstitusi baru ini, Jepang juga memasukkan Formosa dalam wilayah fazalnya. dan hal ini tentunya menimbulkan reaksi dari Cina daratan yang mengklaim bahwa Formosa adalah wilayahnya. Selain itu Jepang juga memasukkan kepulauan Ryukyu di Korea dalam wilayahnya. Adanya konstitusi baru ini, pihak Jepang mulai mengadakan perluasan wilayah dan mulai menjadi negeri ekspansionis di Asia-Pasifik di awal abad 20.***