Jumat, 15 Juni 2012 – 11:43 WITA Telah dibaca 817 kali

Jadikan House Of Love Sebagai Pembawah Kasih

Gubernur Provinsi Sulawei Utara Dr. S.H. Sarundajang diakhir sambutan peresmian Graha Bethany Indonesia (13/6–2012) menyampaikan: Marilah kita bersatu dalam kasih Yesus. Kasih sebagai cap atau lambangnya orang Kristen, membawah kasih dimanapun berada. Walau kita bisa bicara dalam bahasa Malaikat dan memindahkan gunung, tetapi jika tidak ada kasih, maka sia-sialah semua itu.

Setelah berjuang tanpa kenal lelah, mengorbankan waktu, tenaga, dan materi selama penantian panjang 10 tahun, akhirnya rampung sudah pembangunan Graha Bethany Indonesia kompleks Wanea Plaza Manado yang diberi nama " House Of Love " diresmikan penggunaannya oleh Gubernur SULUT Dr. S.H. Sarundajang.

Turut hadir Ny. Deitje Sarundajang Laoh Tambuwun, Ketua DPRD Pdt. Meiva Salindeho Lintang, Kapolda SULUT Brigjen Pol. Decky Atotoy, Wakil Walikota Manado B.A. Mangindaan ME.


Pdt. Dr. Lenny Matoke Sp.S selaku Gembala Gereja Bethany Indonesia Manado, tak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada semua jemaat yang telah mengambil bagian dalam taburan-taburan di pembangunan gedung ini.

Jika di tahun 2003 dimulai dengan tak punya tempat ibadah tapi pertolongan Tuhan boleh membangun Wale Rehobot sebagai awal tempat ibadah hingga sukses menyelesaikan House Of Love.

Harapan kedepan semakin banyak orang diberkati melalui tempat ini, terutama orang-orang muda agar lebih mencintai beribadah dan menjauhi pengaruh penggunaan obat terlarang dan pergaulan bebas.


Yance Tanesia, ketua pembangunan, sedikit mengulas perjalanan panjang hadirnya Gereja Bethany Indonesia di Manado. Berawal dari 100 orang berkumpul di Masarang Tomohon pada 14 Mei 2000. Kemudian pindah ke Restoran Jumbo dan Hotel Ritzy hingga tahun 2004 selanjutnya pindah lagi ke Manado Convention Center dan akhirya ke Wanea Plaza hingga saat ini.

Pembangunan yang menelang dana Rp. 72 Miliar dibangun dengan konstruksi beton bertulang empat lantai. Luas bangunan dari lantai 1 hingga 4 ada 8.405 M2 yang pemanfaatannya untuk lantai dasar sebagai perkantoran, lantai dua untuk ibadah bersama balkon di lantai tiga. Untuk kebutuhan pendeta dan pengerja Tuhan maka di lantai empat disiapkan penginapan.


Ditambahkan Pdt. Nixon Lowing, selaku ketua pelaksana harian pembangunan. Pembangunan terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah lantai dasar dan setelah rampung dimanfaatkan sebagai kantor. Beberapa tahun kemudian dirampungkan tahap kedua hingga finishing.

Yang merancang gedung adalah Ir. Rabin Lumunon dengan menggunakan fondasi cassion dan pondasi bor pile. Untuk atap menggunakan konstruksi rangka baja dengan sistim dom. (Jansen)