Jumat, 10 Mei 2013 – 10:47 WITA Telah dibaca 2550 kali

Kadis Kominfo Bitung Terkejut Saat Kunjungi Diskominfo Surabaya

SUARAMANADO, BITUNG:

Kepala Dinas Kominfo Kota Bitung, Drs. Sikamang, MAP sangat terkejut ketika berkunjung ke Dinas Kominfo Kota Surabaya. Keterkejutannya itu lantaran mendapat informasi dari Kepala Dinas Kominfo Surabaya Ir. Chalid Buhari dan Kepala Bidang Pos dan Telekomunikasi Diskominfo Surabaya, Adang Kurniawan, bahwa PAD dari retribusi pengendalian menara telekomunikasi mencapai Rp 4 miliar lebih.

Nilai sebesar ini didapat dari seribu lebih menara telekomunikasi yang ada di Surabaya. di sisi lain, anggaran khusus Bidang Postel, menurut Kabid Postel Adang Kurniawan mencapai Rp 3 miliar setahun, Kejutan lain yang didapat Sikamang dan rombongan adalah sistem pengelolaan teknologi informasi untuk menunjang seluruh kegiatan pemerintahan di Kota Surabaya ditangani semua oleh Dinas Kominfo. Demikian pula dengan sumber daya manusianya.

Menurut Kurniawan, bawahannya ada yang berkualifikasi pendidikan S2 dan S1 lulusan Institut Teknologi Bandung dan ITS Surabaya. Kejutan-kejutan itu diperoleh Sikamang yang didampingi Kabid Postel Drs. Semuel Muhaling dan Kasi Data Elektronik Aziz Latugara, ST ketika melakukan kunjungan kerja sekaligus "belajar" tentang manajemen Dinas Kominfo Surabaya., Selasa (7/5).

"Ada begitu banyak bahan pelajaran yang didapat di sini", kata Sikamang sambil mengatakan, dengan informasi ini, terasa pihaknya terasa sangat kecil. "Ada banyak yang masih perlu kami timbah dari Surabaya. Karena kami akan rencanakan kunjungan lanjutan", jelas Sikamang kepada Kepala Dinas Kominfo Surabaya Ir. Chalid Buhari. Sebelum meninggalkan Dinas Kominfo Surabaya yang terletak di lantai 5, Sikamang diundang Kurniawan untuk menyaksikan sentral komunikasi radio di lantai 7 gedung pemkot Surabaya. dari tempat ini, seluruh komunikasi radio (HT) dikendalikan oleh para staf yang sebagian adalah tenaga outsourcing. Para tenaga outsourcing ini lebih banyak menangani teknik radio, termasuk rekayasa peralatan.

Hal yang menarik dari pengelolaan telekomunikasi radio ini, seperti dijelaskan Kurniawan adalah modifikasi pesawat radio (HT) menjadi digital sehingga pengguna masyarakat umum tidak bisa menerima atau mengirim komunikasi ke pesawat seluruh pejabat Surabaya. "Kita mencoba merekayasa dengan cara memasukkan Ichip khusus ke pesawat HT seluruh pejabat Pemkot Surabaya, sehingga tidak bisa diterima atau menerima komunikasi dari pengguna HT selain pejabata pemkot Surabaya", ujar Kurniawan. Sementara antena, juga dilakukan rekayasa sendiri dengan menggunakan pipa paralon yang nilainya hanya beberapa ratus ribu rupiah. Padahal jika dibeli produk pabrikan, harganya mencapai jutaan tapi kualitas komunikasi lebih buruk.